Otentisitas Beragama dan Pluralitas Keyakinan

July 11, 2008 at 3:56 am | Posted in agama | 20 Comments
Tags: , , , ,

Beragama itu harus otentik. Tanpa otentisitas, dalam pandangan saya, agama tidak akan bisa mengubah tabiat seseorang, apalagi mengubah masyarakat biadab menjadi beradab. Harus ada kehendak diri yang bebas, kesukarelaaan, kepasrahan, kesederhanaan atau humility dan, ini yang paling penting, subyektifitas ala Kierkegaard untuk bisa beragama secara otentik.

Agama itu memberi tempat pada subyek, yakni si aku dalam diri kita. Agama itu mengaggungkan individu. Itu sebabnya, bila Anda larut dalam ekstase kolektif sambil berteriak ‘Allah! Allah!’, jangan terlalu cepat beranggapan bahwa Anda sedang mengalami ekstase spiritual, sekalipun jiwa Anda bergetar, karena agama selalu hadir dalam kesunyian. Agama yang baik, apapun agamanya, mestinya bisa membuat seseorang melihat ke dalam dirinya sendiri, untuk kemudian bertanya; untuk apa hidup ini? Dalam kesunyian itu, kesadaran diri muncul untuk bersatu dengan asal-muasal kehidupan dan eksistensi, Kenyataan Terakhir yang kebetulan disebut Tuhan dan mewartakan dirinya dengan cara yang kebetulan berbeda-beda pula.

Itu yang saya maksud dengan otentisitas. Buat apa solat atau puasa bila keduanya dilakukan dalam kondisi ter(di)paksa (oleh masyarakat atau neraka), atau sambil lalu saja tanpa ada emosi sedikitpun. Solat tapi ilfil. Solat karena sudah dari dulunya begitu, habitus belaka. Tentu solat juga tidak bisa dijadikan candu, meskipun saya masih sering melakukannya. Solat memang sangat menenangkan saat kita berada dalam kesusahan, sama seperti ide Tuhan itu sendiri. Ketika kita merasa cemas, merelasikan diri kita kepada Tuhan memberikan perasaan nyaman yang hampir tak terperi. Katanya seperti ganja (saya belum pernah mencobanya sih).

Tidak salah memang, menjadikan solat sebagai obat atau candu, tetapi penghambaan itu mestinya konstan. Nah, kalo solatnya gak bisa konstan bagaimana? Yah, Anda solatnya berarti belum otentik, kalo lagi butuh saja mau solat, atau sekedar ikut-ikutan. Tapi, perlu dicatat bahwa dalam pandangan saya, otentisitas beragama itu melampaui ritual apapun. Iya, solat itu wajib, tapi wajibnya di sini tidak bisa direduksi pada gerakan ruku dan sujud belaka. Ada yang jauh lebih penting dari itu: kepasrahan diri yang otentik. Sebaiknya itu dulu yang dikejar dan diupayakan.

Kebetulan saya dibesarkan sebagai muslim, jadi sebenarnya kebetulan pula contoh yang diambil solat. Agama memang sudah terlanjur terlembaga. Dan lebih buruk lagi, agama terlanjur menyeragamkan spiritualitas individu. Tapi ini bukan berarti kita mesti pasrah pada dogma ‘pemuka agama’ dan meleburkan diri pada berbagai konstruksi sosial yang ada; pergi ke gereja, solat tarawih, ngaji, dll. Karena, sekali lagi, percuma melakukan berbagai ritual itu tanpa otentisitas; kesadaran diri untuk memasrahkan diri kepada Tuhan. Itu yang esensial. Iman anda harus diuji secara subyektif terlebih dahulu sebelum dipaparkan secara obyektif. Subyektifitas inilah yang menentukan otentisitas beragama.

Loh, bila benar beragama harus secara subyektif, berarti setiap orang bisa beragama dengan cara yang berbeda-beda dong? Menurut saya sih begitu. Karena, selain agama tidak bisa diobyektifikasi — secara setiap klaim-klaim kebenaran keagamaan mengandaikan iman yang tidak bisa dikoroborasi oleh nalar dan bukti-bukti indrawi yang bisa diuji secara obyektif, eksistensi Jibril atau Roh Kudus, misalnya –, agama Anda tidak ada artinya bila Anda menanggalkan kesadaran subyektif Anda untuk bisa “beragama secara obyektif.”

Klaim kebenaran agama itu relatif, karena sangat bergantung pada pengalaman pribadi si pemeluknya. Apakah ini argumentasi bahwa semua agama itu benar? Bukan. Bisa jadi apa yang kita klaim itu salah atau benar di mata Tuhan, tetapi ia benar secara relatif bagi pemeluknya karena moda keberagamaan yang sejati mengharuskannya demikian. Itu sebabnya, sehebat-hebatnya misionaris Kristen, mereka tidak mampu menginjilkan bangsa Yahudi, apalagi masyarakat Muslim Timur Tengah. Sebaliknya, sejaya-jayanya kekuasaan Islam di Timur Tengah dan Spanyol, kaum Muslim pun tidak bisa menghilangkan entitas Kristiani dan Yahudi di kedua daerah tersebut. Kalo ada, yah paling karena dipaksa. Kecuali Yahudi, agama Ibrahimiah itu memang suka maksa dalam menyebarkan agamanya. Jadi, dalam pandangan saya, setiap moda keberagamaan seseorang – bila dia berpasrah dengan kesadaran diri yang otentik, bukan hasil indoktrinasi – itu punya nilai yang sama, apapun agamanya.

Karena itu, saya selalu menghormati keberagamaan seseorang, apapun keyakinannya. Ketika saya tampak seperti menggugat Trinitas, al-Qur’an, doktrin Wahabi atau paham para fundamentalis Muslim, itu adalah upaya saya untuk mencari kebenaran yang sesuai dengan subyektifitas saya. Katakanlah, saya masih dalam upaya mencari agama saya yang otentik. Saya berusaha untuk beragama seotentik mugkin. Mungkin Anda tertarik untuk mengikuti jejak saya? Atau Anda sudah duluan? Atau tidak mau? Atau menurut Anda uraian saya tidak relevan, karena Anda agnostik/ateis? Tentu, saya kira kita sepakat, finalisasinya ada pada Tuhan, atau kematian bagi kaum agnostik/ateis.

20 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. *menyiapkan bekal untuk ikut serta*

  2. Beragama memang subjektif. Hanya diri sendirilah yang mengetahuinya. Bukan diri orang lain.

  3. Saya tidak bisa untuk tidak sepakat Mas
    Saya juga lagi dipersimpangan jalan
    Melihat-lihat kalau-kalau ada teman yang bisa diajak ngobrol:mrgreen:

  4. “bila saya beribadah karena takut neraka, maka cemplungkanlah saya kedalamnya. dan bila saya beribadah karena mengharapkan surga, maka jauhkanlah pintu-pintunya dari saya”

    lalu untuk apa beribadah??

    kebenaran setahu saya hanya milikNya, kita manusia bukankah hanya mengira-kira saja? bukankah isi kitab suci pun kita masih mengira-kira juga, maksud dari pesan (firman) Tuhan?
    hidup adalah untuk itu sendiri, anda setuju?

  5. @dana
    Hayuh.

    @SP

    Melihat-lihat kalau-kalau ada teman yang bisa diajak ngobrol:mrgreen:

    Biarpun subyektif. Bagusnya memang harus ada yang diajak ngobrol.😀

    @peristiwa
    Anda betul sekali, Mbak.

  6. saya hanya bertuhan, tidak sekedar beragama.

  7. Hng… barangkali itu sebabnya keberagamaan orang lain tidak boleh diganggu gugat, selama ia tidak mencederai nilai2 sosial.

    Note: Biarpun nggak ditanya, saya sudah duluan Mas Gentole, meskipun setengah-setengah dan itu jg nggak karu2an… (terpeleset, terjatuh, tertabrak, terjungkal, ter… ter…):mrgreen:

  8. @adi isa
    oh iya itu betul Bung Adi.

    @esensi
    Iya setuju dengan “barangkali”-nya.🙂

  9. Tuhan adalah pembacaan manusia akan Hidup, hasil pembacaan begitu beragam tergantung dari kedalaman pengahayatan & subyektivitas pribadi. Kitab Suci adalah subyek sebuah pembacaan, yang dibaca ulang oleh subyek2 yang lain.
    Chaos terjadi saat subyektivitas itu dijadikan menara gading, sesuatu yang mutlak, yang lalu dilembagakan.
    Padahal kamu bagi saya adalah apa yang kubaca tentang kamu, subyektivitas penilaianku tentang kamu, bukan sejatinya kamu
    *tinggal copy paste komenku di Kang Dana*
    mari beragama dg otentisitas pribadi

  10. @tomy

    subyektivitas penilaianku tentang kamu, bukan sejatinya kamu

    Saya suka kalimat ini.😀

  11. Sebenarnya mas ini bagaimana sih? bukan bermaksud untuk mendiskreditkan.
    Saya, sebagai muslim, yang kitab suci pedoman hidupnya adalah Alquran, maka saya mengacu pada itu, Alquran maksud saya. Dalam alquran sholat dinyatakan wajib. lalu di dalam sholat itu dinyatakan shahadat. pengakuan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan Muhammad saw rasulnya.
    Lalu kalo nggak mengakui itu erarti bukan islam yang dimaksud alquran.
    .
    Saya nggak ambil pusing apa itu non muslim bakal masuk surga atau neraka. apa mereka itu berserah diri seperti yang Allah kasi petunjuk atau tidak?
    .
    Tapi, seperti kebiasaan saya, analogy😛 kalo Tuhan sudah menunjukkan jalan “ini dan ini” (seperti petunjuk alquran) untuk bukti beribadah kepadaNYa, apakah cara lain bakal diterima?
    .
    Analogi lain sedikit asal tapi serius, kalo saya maunya Ice-cream, saya nggak akan senang di kasih Juice. walaupun niat orang itu sama memberi sesuatu yang dingin… So?

    Tapi, perlu dicatat bahwa dalam pandangan saya, otentisitas beragama itu melampaui ritual apapun. Iya, solat itu wajib, tapi wajibnya di sini tidak bisa direduksi pada gerakan ruku dan sujud belaka. Ada yang jauh lebih penting dari itu: kepasrahan diri yang otentik. Sebaiknya itu dulu yang dikejar dan diupayakan.

    Apa cuman duduk seperti orang bermenung atau pergi ke gereja itu sholat yang di maksud Islam?
    kalo begitu, kenapa Rasulullah nggak pernah Ke gereja untuk beribadah?
    kenapa Nabi Ibrahim menghancurkan berhala?
    KENAPA?

  12. Karena itu, saya selalu menghormati keberagamaan seseorang, apapun keyakinannya.

    yang ini sih saya setuju…. asal nggak ngerecoki agama orang lain…😎

  13. setuju… walaupun menurut nalar kita benar pun sifatnya subjektif. belum tentu benar menurut nalar orang lain. bahkan, bukti-bukti pun sifatnya subjektif, meski bisa jadi dianggap benar juga oleh individu lain.

    sekalian ijin saya jadikan blogroll…:mrgreen:

  14. @Snowie

    Sebenarnya mas ini bagaimana sih?

    Loh, menurut kamu bagaimana?

    Saya, sebagai muslim, yang kitab suci pedoman hidupnya adalah Alquran, maka saya mengacu pada itu, Alquran maksud saya. Dalam alquran sholat dinyatakan wajib. lalu di dalam sholat itu dinyatakan shahadat. pengakuan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan Muhammad saw rasulnya.
    Lalu kalo nggak mengakui itu erarti bukan islam yang dimaksud alquran.

    Ya sudah, kalo begitu pendapat kita berbeda. Lagian, apa gak pernah terpikir kalo solatnya Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Muhammad itu berbeda? Mau pake argumentasi “itu kan udah gak berlaku lagi”? Well…terserah, Mbak Snowie.

    Apa cuman duduk seperti orang bermenung atau pergi ke gereja itu sholat yang di maksud Islam?

    Bisa jadi.

    kalo begitu, kenapa Rasulullah nggak pernah Ke gereja untuk beribadah?

    Well sebelum berkiblat ke Mekkah. Umat Muhammad berkiblat ke Bait Allah di Jerussalem. Kamu tahu, pada waktu itu di Jerussalem hanya ada umat Yahudi dan Nasrani? Lagipula, dibolehkan kok solat di gereja. Nabi gak ke gereja karena kuatir salah paham aja. Lihat hadist ini, “The Prophet, peace and blessings be upon him, is reported to have said: “I have been given five things that no one has been given before me. (Among them is that) the earth has been made for me as a Mosque and a source of purification. So if any man from my nation realizes that he has to pray, then he may pray.”

    kenapa Nabi Ibrahim menghancurkan berhala?

    Anda taulah jawabannya.

    @Sitijenang

    sekalian ijin saya jadikan blogroll…

    Silahkan.

  15. baiklah….

    saya sudah hopeless disini…

    tapi we never know😉

  16. “solat itu wajib, tapi wajibnya di sini tidak bisa direduksi pada gerakan ruku dan sujud belaka. Ada yang jauh lebih penting dari itu: kepasrahan diri yang otentik. Sebaiknya itu dulu yang dikejar dan diupayaka”

    — dalem banget…. jadi inget gagasan sholat sosial—-

  17. @snowie

    saya sudah hopeless disini…
    tapi we never know

    Yah kita tidak pernah tahu. Saya juga tidak 100 persen yakin dengan pandangan saya. It can be wrong.

    @hilda

    dalem banget…

    Benarkah?😀

    *gak merasa menulis yang dalam-dalam*

  18. “aku” lah tuhan itu..😀

  19. @menggugat mualaf
    Yah, bisa dibilang begitu kali yah? Tanya Kang Dana sajalah, yang begini-begini nih.😀

  20. […] personal, maka pada dasarnya ini bukan pembuktian obyektif bahwa Muhammad adalah seorang Nabi. Ya iyalah, masa agama dibuktikan secara obyektif!? Kenabian itu dirasakan secara personal melaui risalah yang dibawanya. Dengan demikian, sebenarnya […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: