Saya Kok Meragukan Aktifis Mahasiswa Yah…

July 3, 2008 at 7:07 am | Posted in sekedar | 15 Comments
Tags: , , , ,

Iseng-iseng saya ke situs New York Times dan menemukan berita ini; Fauzi Bowo-nya kota New York senang bahwa kenaikan harga minyak telah megurangi tingkat kemacetan di kota yang sering disebut “Big Apple” itu. Nah, saya jadi kepikiran Jakarta, kota di mana saya tinggal. BBM sudah dinaikkan oleh pak SBY, tapi macetnya gak berkurang yah, malah menjadi-jadi? Saya memang bukan seorang peneliti dan bukan pula pakar ekonomi, tapi sepertinya Indonesia baik-baik saja. Maksud saya, setelah BBM dinaikkan beberapa kali sejak SBY naik tahta, laporan BPS menyebutkan bahwa inflasi relatif stabil, dan jumlah orang miskin pun berkurang tuh. Harga beras, kata BPS, masih terkendali. Yah mungkin statistik bisa dipermasalahkan, tapi apakah ada alternatif informasi lainnya?

Saya pun teringat demonstrasi mahasiswa kemarin. Tuntutan mahasiswa jelas: turunkan BBM. Saya harus mempersoalkan ini. Apakah mahasiswa itu benar-benar kuliah? Bagaimana caranya pemerintah mempertahankan subsidi di kala harga minyak dunia melambung tinggi? Apakah mereka lupa kalo bangsa ini sudah menjadi net importir minyak? Bangsa ini boros! Lihat saja mobil-mobil mewah di Jakarta? Lihat saja motor-motor Tiger, Pulsar yang keren-keren di jalan sana, masih banyak! Lalu kita harus mempertahankan subsidi BBM?

Saya tahu kenaikan BBM pasti memicu inflasi, tetapi dilihat dulu seberapa besar imbasnya terhadap perekonomian nasional dan dapur rakyat kecil. Maaf, kalo saya terdengar sok tau. Tetapi, begitulah, saya pikir subsidi itu buruk. Rakyat gak perlu dimanjain seperti itu. Kalo negara punya uang, lebih baik digunakan untuk pendidikan biar anggota FPI jadi pada pintar daripada untuk membiayai pengemudi gila di jalan yang marah-marah karena busway bikin macet. Hey, busway itu moda transportasi masal! Itu baik buat manusia dan juga lingkungan. Oh, mahasiswa, mengapa pemerintah harus mempertahankan subsidi? Kenapa?

Saya tahu mahasiswa itu pintar, pastilah mereka mengerti apa yang mereka perjuangkan. Saya juga tahu bahwa mahasiswa itu punya integritas, tidak akan mungkinlah mereka ditunggangi. Dan saya juga tahu, mahasiswa tidak layak disinisi, seperti kata blogger bijak ini. Tetapi, mengapa isu BBM yang dipersoalkan? Adakah ‘reasoning’ yang kuat untuk mempertahankan subsidi BBM? Apakah mereka tidak menyadari bahwa isu BBM itu politis dan bisa dipolitisasi untuk pemilu 2009?

Saya bukan pakar ekonomi dan saya pun hanya datang ke Freedom Institute untuk mencari buku-buku impor saja. Saya juga masih curiga pada ekonomi pasar, tapi dalam kasus kenaikan harga BBM ini — dalam konteks sekarang, yakni ketika spekulan-spekulan global mempermainkan harga minyak dunia dan bumi semakin menghangat karena penggunaan bahan bakar minyak — saya sepakat subsidi itu mesti dikurangi, kalo bukan dicabut. Biar rakyat gak boros dan kreatif bikin alternatif bahan bakar murah dan ramah lingkungan.

Ah, semoga saja pikiran jelek saya tentang mahasiswa yang demonstrasi kemarin itu salah semuanya. Apa pikiran jelek saya? “Mungkin mahasiswa itu tidak mau lama-lama memikirkan betapa peliknya persoalan BBM itu” ataukah “mereka mungkin tidak perduli bahwa gerakan mereka bisa ditunggangi”?

NB: Saya tetap mengutuk wakil rakyat dan pejabat pemerintah yang makan gaji buta dan maling!

15 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Makanya saya enggan utk sekedar bicara BBM saja, meski saya tetap mencengiri rasionalisasi harga berdasar akumulasi nilai pasar tersebut. Akumulasi kenaikan yang, IMHO, seperti diseret utk menggugu dan meniru…

    Okelah, katakan saja BBM itu sudah rasional kenaikannya. Saya juga menolak subsidi yang bagi saya sama candunya dengan BLT dan BKM utk mahasiswa.

    Tapi saya tidak menolak opsi utk menasionalisasi perusahan asing yang bercokol di Indonesia, menyedot SDA di sini dan ngasih pajak macam ngasih uang parkir saja. Banyak itu skripsi dan thesis mahasiswa yang bahas itu, di net juga bertaburan. Tapi tidak pernah ditanggapi pemerintah.

    Ironis bagi saya ketika Pertamina dan Exxon berebut blok Cepu, malah Rizal Malarangeng berdiri sebagai negosiator Exxon. Hasilnya sama-sama kita tahu.

    Lalu, siapa yang harus saya dukung jika bukan mahasiswa, sementara cendekiawan negeri ini bungkam dan sekarang saja latah seperti para keparat wakil rakyat di senayan yang bikin Hak Angket yang tak lebih pengulangan trik yang sama menjelang 2009 itu? ๐Ÿ˜•

  2. Ragunya dalam hal apa Mas? apakah yang ini, “Apakah mahasiswa itu benar-benar kuliah? Bagaimana caranya pemerintah mempertahankan subsidi di kala harga minyak dunia melambung tinggi? Apakah mereka lupa kalo bangsa ini sudah menjadi net importir minyak?”

    dalam arti, mereka tidak pernah berpikir sebelum demo?

  3. Tapi saya tidak menolak opsi utk menasionalisasi perusahan asing yang bercokol di Indonesia, menyedot SDA di sini dan ngasih pajak macam ngasih uang parkir saja. Banyak itu skripsi dan thesis mahasiswa yang bahas itu, di net juga bertaburan. Tapi tidak pernah ditanggapi pemerintah.

    Saya juga setuju kalo ini perlu dibenahi. Tapi menurut saya nasionalisasi bukan jawaban, somehow.

    Ironis bagi saya ketika Pertamina dan Exxon berebut blok Cepu, malah Rizal Malarangeng berdiri sebagai negosiator Exxon. Hasilnya sama-sama kita tahu.

    Tergantung dari mana memandangnya. Pegawai Pertamina juga luar biasa kaya. MInyak dimiliki oleh Pertamina bukan berarti dimiliki rakyat. Tapi, gak salah sih, sinis sama Rizal. Saya juga soalnya. :mrgreen:

    Lalu, siapa yang harus saya dukung jika bukan mahasiswa, sementara cendekiawan negeri ini bungkam dan sekarang saja latah seperti para keparat wakil rakyat di senayan yang bikin Hak Angket yang tak lebih pengulangan trik yang sama menjelang 2009 itu?

    Saya dukung KPK yang nangkepin pejabat korup. Isunya Lex. Isunya yang jadi masalah. Mahasiswa salah bawa isu, menurutku.

    mereka tidak pernah berpikir sebelum demo?

    Yah gak sesinis itulah, Mbak. Kesannya gitu yah?

  4. Saya menduga bahwa alasan pemilihan jargon turunkan BBM itu terasa lebih sangar dan gampang.

  5. Saya menduga bahwa alasan pemilihan jargon turunkan BBM itu lebih dikarenakan akan terasa lebih sangar dan juga gampang mencernanya.

  6. Kalo hanya untuk terdengar sangar? Apakah motivasi sesungguhnya? Intriguing, jadinya memang.

  7. Saya juga setuju kalo ini perlu dibenahi. Tapi menurut saya nasionalisasi bukan jawaban, somehow.

    Nasionalisasi boleh jadi bukan jawaban (mutlak) tentunya. Tapi menaikkan BBM juga bukan final solution. Pemerintah juga mempertimbangkan ketakutan akan sektor lain yang mati dengan alasan subsidi.

    Saya menolak subsidi, itu jelas. Tapi saya juga menolak alasan subsidi seolah-olah itu sah jadi alasan utama.

    Kenapa saya mendukung nasionalisasi, karena kalau tidak dinasionalisasi saat justru krisis begini, saya tidak tahu kapan lagi akan bisa dimiliki kembali aset demikian. Tujuan utama yang saya pikir bukanlah agar nasionalisasi itu harus sukses terjadi, tapi adanya “ketakutan” perusahaan asing yang disupport negara kapitalis maju yang haus minyak, utk memberikan kompensasi.

    Jadinya, bukan pemerintah RI mensubsidi rakyat, tapi negara maju melalui perpanjangan tangan perusahaan2 mereka di sini yang mensubsidi negara ini sebagai kompensasi BBM naik, yang pasarnya mereka kuasai. Dan tekanan demikian, kiranya bisa mengimbangi fluktuasi pasar yang ada sekarang ini, tanpa pemerintah harus mensubsidi lagi. Dananya bisa dipakai utk kesehatan, transportasi dan pendidikan. U know what I mean, rite?

    Tergantung dari mana memandangnya. Pegawai Pertamina juga luar biasa kaya. MInyak dimiliki oleh Pertamina bukan berarti dimiliki rakyat.

    Memang, dimiliki oleh institusi negara bukan mutlak berarti dimiliki oleh rakyat. Tapi dengan ada di tangan negara, celah utk dikemplang dengan kritik bahkan melawan kalau disalah-gunakan lebih terbuka dibanding saat dipegang orang asing dengan kebijakan asing yang direcokkan ke pemerintahan ini, bukan?

    Rata-rata pegawai seperti Pertamina, PLN dll itu, memang kaya-kaya setahu saya. Arun di Aceh saja makmur cuma di kompleks PT itu saja. Di pagar luarnya, kemiskinan seperti tempat akhir pembuangan sampah mereka saja.

    Tapi, gak salah sih, sinis sama Rizal. Saya juga soalnya. :mrgreen:

    Saya memang sinis sama dia ๐Ÿ˜†

    Lha… itu pakde Rovicky yang masih bisa toleransi dengan kenaikan BBM, juga kesal dengan oportunisnya direktur Fox Indonesia dan Freedom Institute itu, yang kemudian hari si Rizal malah mendeklarasikan Komite Bangkit Indonesia. Apanya yang mau dibangkitkan? Libido seksnya dia? ๐Ÿ˜†

    *ad hominem level 6* :mrgreen:

    Saya dukung KPK yang nangkepin pejabat korup. Isunya Lex. Isunya yang jadi masalah. Mahasiswa salah bawa isu, menurutku.

    Saya mendukung KPK juga. Saya yakin adik-adik mahasiswa juga mendukung. Gebrakan KPK belakangan lebih baik daripada Kejagung yang macam dikebiri itu.

    Ya, memang. Mahasiswa tersebut salah memfokuskan isu. Isu BBM itu tidak salah, cuma salahnya terlalu terpaku pada isu tersebut, IMHO ๐Ÿ™‚

    Pendapat Dana itu menarik, dan layak dipertimbangkan adik-adik mahasiswa agaknya ๐Ÿ˜€

  8. buat saya sih gampang aja…
    *sht.. shtt..*
    itu mah kurang kerjaan..
    hhehe..

  9. Berbicara mengenai minyak dan gas bumi indonesia, itu semua sudah sesuai dg UUD 45 Pasal 33, yg kalau ga salah.. Isinya: bumi, air dan kekayaan alam lainnya di kuasai oleh MNC (sejenis exxon, newmont, dkk) dan di manfaatkan oleh MNC untuk sebesar besar membangun imperiumnya dan sedikit memberi sedekah 5 % untuk pemerintah dan menyantuni rakyat Indonesia.

  10. @alex

    U know what I mean, rite?

    Not really, sorry. :mrgreen:

    Tapi dengan ada di tangan negara, celah utk dikemplang dengan kritik bahkan melawan kalau disalah-gunakan lebih terbuka dibanding saat dipegang orang asing dengan kebijakan asing yang direcokkan ke pemerintahan ini, bukan?

    Bisa dipahami begitu, memang. Tapi buat saya sama saja. Yang penting itu demokrasi dan regulasi yang baik. Di tangan pemerintah diktator, nasionalisasi bisa berbahaya. Selalu terbuka kemungkinan dijajah bangsa sendiri, bukan?

    *ad hominem level 6* :mrgreen:

    Yah, silahkan.

    Isu BBM itu tidak salah, cuma salahnya terlalu terpaku pada isu tersebut, IMHO ๐Ÿ™‚

    Di sini kita berbeda perspektif.

    @Sir Arthur
    Gak usah sesinis itulah.

    @rasyeed
    Saya setuju. Kekayaan kita harus kita nikmati. Saya sudah keburu tua. Mudah-mudahan generasi selanjutnya bisa mengolah SDA negara ini dnegan baik. Btw, bukannya yang kerja di MNC itu lulusan ITB, ITS, UI dan kampus negeri mentereng lainnya? Untung saya cuma lulusan kampus gak keren. Gak terlalu besar tanggung jawab dan godaannya.

  11. tapi saya nggak pernah menyesal pernah menjadi mahasiswa….he…he..he..

    catatan: gue juga heran dengan mahasiswa sekarang!

  12. @adi isa

    Lah saya juga dulu mahasiswa dan gak nyesel juga kuliah. ๐Ÿ˜€

    Btw, apakabar Mbah Wedul?

  13. kalo saya punya alasan tersendiri, saya sudah jelaskan di blog saya 12 alasan saya mempertanyakan kenaikan BBM.
    begini, sudah tau kalo pertamina untung trilyunan rupiah setelah harga minyak bumi naik? padahal katanya anggaran berkekurangan?
    bukan hanya mahasiswa lho protes kenaikan BBM, anggota DPR juga tuh, sampe ada hak angket segala, bukan begitu.
    untuk mengurangi polusi udara di jakarta, harga BBM bukan kuncinya, tapi di kebijakan masalah transportasi.

  14. Saya setuju. Kekayaan kita harus kita nikmati. Saya sudah keburu tua. Mudah-mudahan generasi selanjutnya bisa mengolah SDA negara ini dnegan baik. Btw, bukannya yang kerja di MNC itu lulusan ITB, ITS, UI dan kampus negeri mentereng lainnya? Untung saya cuma lulusan kampus gak keren. Gak terlalu besar tanggung jawab dan godaannya.

    wakz bawa-bawa nama kampus, apa ni ngak ad hominem โ“ ๐Ÿ˜€

  15. @arul

    begini, sudah tau kalo pertamina untung trilyunan rupiah setelah harga minyak bumi naik? padahal katanya anggaran berkekurangan?

    Ini pola pikir BUMN sebagai sapi perah negara. Pertamina itu perusahaan dan harus diperlakukan sebagai perusahaan. Pertamina tidak bisa diwajibkan untuk menanggung beban negara. Bukan apa-apa, kinerjanya jadi buruk. Lagi pula Pertamina tiap tahun itu nyetor ke negara. Saya tidak tahu pasti jumlahnya berapa tahun lalu. Tahun 2006 sih 131 trilyun. Saya bingung yang disubsidi itukan Pertamina, lalu kenapa Pertamina harus bayar nyetor lagi?

    bukan hanya mahasiswa lho protes kenaikan BBM, anggota DPR juga tuh, sampe ada hak angket segala, bukan begitu.

    Maaf, menurut saya isu ini sudah kadung dipolitisasi. Saya sudah baca blog, Mas Arul. Menurut saya cara berpikir mas masih sangat naif sekali.

    untuk mengurangi polusi udara di jakarta, harga BBM bukan kuncinya, tapi di kebijakan masalah transportasi.

    Yang ini saya setuju. Kebijakan transportasi memang lebih penting. Saya hanya mengaitkannya saja. Ada kaitannya, kan. Konsumsi BBM untuk transportasi itu luar biasa besar loh.

    wakz bawa-bawa nama kampus, apa ni ngak ad hominem

    Iya deh ad hominem. Saya sih hanya ingin menegaskan bahwa banyak alumni kampus negeri ternama yang berkerja di MNC. Tidak ada kaitannya dengan mahasiswa-mahasiswa pendemo itu itu. Saya nyentil aja. Meskipun, saya gak menganggap mereka salah juga. Btw, penggunaan istilah ad hominem udah agak kabur deh sekarang. Saya tidak mengaitkan sentilan saya ke argumentasi saya. Jadinya, gak ad hominem dong. ๐Ÿ˜€


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: