Sedikit Tentang Hakikat Yesus Kristus

June 30, 2008 at 1:15 pm | Posted in agama, teologi, tuhan | 17 Comments
Tags: , , ,

Saya memang tergoda untuk memahami Yesus sebagai Firman atau Logos. Dalam keyakinan Kristiani, Yesus adalah Firman yang berbicara kepada nabi-nabi Israel dalam Perjanjian Lama/Tanakh Ibrani. Sempat terpikir olehku bahwa Yesus adalah al-Qur’an yang dibawa Jibril pada Muhammad. Toh, Injil dan al-Qur’an mengisyaratkan Yesus sebagai inkarnasi Logos/Kalimah.

Lihat Injil Yohannes 1:1-5

[1] Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
εν αρχη ην ο λογος και ο λογος ην προς τον θεον και θεος ην ο λογος
EN ARKHE EN HO LOGOS KAI HO LOGOS EN PROS TON THEON KAI THEOS EN HO LOGOS

[2] Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
ουτος ην εν αρχη προς τον θεον

HOUTOS EN EN ARKHE PROS TON THEON

[3] Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
παντα δι αυτου εγενετο και χωρις αυτου εγενετο ουδε εν ο γεγονεν
PANTA DI AUTOU EGENETO KAI KHORIS AUTOU EGENETO OUDE EN HO GEGONEN

[4] Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
εν αυτω ζωη ην και η ζωη ην το φως των ανθρωπων
EN AUTO ZOE EN KAI HE ZOE EN TO PHOS TON ANTHROPON

[5] Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
και το φως εν τη σκοτια φαινει και η σκοτια αυτο ου κατελαβεν
KAI TO PHOS EN TE SKOTIA PHAINEI KAI HE SKOTIA AUTO OU KATELABEN

Pada ayat 14 disebutkan:

Yohanes 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

NKJV : And the Word became flesh and dwelt among us, and we beheld His glory, the glory as of the only begotten of the Father, full of grace and truth.
TR : kai o logos sarx egeneto kai eskênôsen en êmin kai etheasametha tên doxan autou doxan ôs monogenous para patros plêrês charitos kai alêtheias

[Sumber: Sarapan Pagi, Perspektif Katolik)

dan al-Qur’an 4:171.

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agama dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikannya kepada Maryam dan (dengan tiupan ) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Dan janganlah kamu mengatakan :”Tuhan itu tiga”, berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagi kamu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa. Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara”. (Terjemahan Mayoritas Umat Islam)

Injil percaya bahwa Yesus adalah Firman yang dengannya segala sesuatu diciptakan. Al-Qur’an menyebutkan bahwa Yesus adalah kalimatu minhu atau Kalimat dari-Nya. Ahli tafsir al-Qur’an memahami kalimatu minhu begini: Allah menciptakan Adam dengan mengatakan, “jadilah, maka jadilah ia” atau dalam bahasa al-Qur’an, kun fayakuuna. Hal yang sama terjadi pada Yesus, demikian teolog Muslim berpendapat, bahwa dengan kalimat kun fa yakuuna, maka jadilah Yesus dalam rahim Maria. Karena pandangan ini [meskipun maksud utamanya untuk menolak paham Yesus sebagai Firman Allah], saya malah semakin tergoda untuk membenarkan keyakinan Gereja bahwa Yesus adalah Logos yang dengannya segala sesuatu diciptakan. Maksudku, mungkinkah Yesus adalah kun fayakuuna itu sendiri? Bukankah Allah menciptakan dengan mengatakan kun fayakuuna?

Pada ayat di atas, sebenarnya secara literal al-Qur’an menggunakan kata kalimatuhu, yang berarti KalimatNya. Namun, para ulama menerjemahkannya menjadi kalimat dari-Nya, yang sebenarnya tidak salah juga dari segi tafsir. Dalam ayat lain Yesus disebut ruhullah, tetapi bukannya diterjemahkan menjadi Ruh Allah atau The Spirit of God, penerjemah Muslim memilih Ruh dari-Nya. Sekali lagi, dari segi tafsir ini sah-sah saja. Tetapi, saya harus mengakui, saya merasa ada yang mengganjal dengan berbagai penjelasan yang ada.

Yesus memang rumit. Al-Qur’an menyebutkan bahwa ia diperkuat dengan Roh Kudus. Lebih jauh, kata al-Qur’an, seperti yang saya sebutkan di atas, Yesus adalah Ruh dari-Nya. Memang kita semua mendapatkan Ruh dari-Nya, tetapi mengapa al-Qur’an hanya mengatakan itu pada kelahiran Yesus saja? Perjanjian Baru dan al-Qur’an — meskipun telah secara tegas mengkafirkan siapapun yang mengatakan Yesus adalah Allah – seperti menyediakan ruang penafsiran untuk mengaitkan Yesus dengan hakikat Allah, karena ia begitu dekat dengan-Nya. Kitab Suci, saya akui, memang suka menggunakan bahasa yang sulit dipahami.

Ulama Islam tidak menyukai teologi, karena cenderung mengaburkan hakikat Allah, sementara al-Qur’an tidak menyediakan penjelasan sama sekali mengenai hakikat entitas metafisis seperti “Ruh dari-Nya” dan “Ruhul Kudus” atau istilah seperti “al-Masih” (Kristus) dan bahkan “Injil”, meskipun kata tersebut terdapat di dalam kitab tersebut. Saya menolak spekulasi teologis, saya cenderung menyerahkan ungkapan-ungkapan yang sulit di dalam al-Qur’an kepada Allah saja.

Tapi, teologi memang bikin penasaran, dan karenanya sangat menggoda. Namun demikian, iman seharusnya didasari oleh Kitab Suci, bukan teologi. Allah memang kompleks, tetapi kompleksitas itu sejatinya dijadikan alasan agar kita tidak usah berani-beraninya memahami hakikat Tuhan di luar dari apa yang Ia ungkapkan secara ekplisit dalam Kitab Suci.

Yesus tidak pernah mengajarkan teologi, apalagi mengajarkan untuk menjadikan dirinya subyek teologi! Yesus dalam Injil dan al-Qur’an dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan adalah satu-satunya Tuhan, cukuplah dengan pemahaman itu. Bagaimanapun kompleksnya hubungan Logos, Roh Kudus dan Allah dengan Pribadi Yesus, tidak dapat dipungkiri bahwa pemuda Yahudi itu dilahirkan sebagai manusia, berbicara sebagai manusia dan dianiaya sebagai manusia.

Dalam Khutbah di Atas Bukit, Yesus memberitahu kita bagaimana menjadi manusia yang baik agar bisa menuju Tuhan. Tidak sedikitpun ia mengisyaratkan dirinya sebagai Tuhan. Yesus berbicara seperti seorang guru yang memberikan wejangan pada murid-muridnya. Sang Guru datang ketika Sepuluh Perintah Tuhan, yang sudah menjadi basis moralitas umat manusia hingga kini, telah begitu kaku, berdiri tanpa makna dan bobrok dikorupsi oleh para munafik dari kelompok alim Yahudi.

NB: Saya sudah lama menulis ini tapi tidak pernah diposting. Entah mengapa saya hendak menegaskan tauhid saya kembali. Saya tidak pernah mengerti Trinitas.

NB: Saya edit lagi tulisannya sekaligus memberi kutipan ayat biar jelas rujukannya.

Advertisements

17 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kalo dari sudut pandang saya bisa di baca di http://danalingga.wordpress.com/2007/06/29/yesus-itu-tuhankah/ .

    Eh, padangan saya itu termasuk teologi jugakah?

  2. Itu perspektif sufistik/mistisisme Mas, bukan teologi, IMHO.

  3. Tau nggak soal kalimah itu ada aliran yang memang melakukan laku untuk mendengarkan kalimah/firman itu. Mereka menamakannya meditasi suara. Benar benar untuk mendengar suara. Suara yang telah menciptakan alam semesta ini.

  4. Errr…melakukan laku apa? Aku gak pernah denger tuh Mas Dana. Kalimah dalam arti suara alam?

    Kebingungan saya begini dalam kasus Yesus sebagai “kalimah”. Dalam bahasa Arab “kalimah” itu artinya “kata”. Jamaknya “kalaam”. Terjemahan bahasa Arab untuk kata “kalimat” dalam arti “sentence” dalam bahasa Indonesia itu “jumlah”. Yesus itu kata apa yah? Itu yang misterius.

  5. […] Allah memang kompleks, […]

    Agak OOT, sebenarnya Tuhan itu sederhana atau kompleks? 😕 Sebab saya sering mendengar bahwa teolog-teolog rumit Kristen, dari Aquinas sampai Plantinga, menitikberatkan konsep quasi-monistik tentang kesederhanaan Tuhan.

    Saya tidak tahu kalau menurut teologi yang lebih bercorak Islam— sebab seperti kata Mas sendiri, perkembangan teologi dalam Islam tidak semegah Kristen. 🙂

    Lucunya setelah saya cek ‘kesederhanaan Tuhan’ ini di Wikipedia, bagian “kritisisme”-nya hanya berisi protes dari Mbah Dawkins. 😆

    Jadi, sederhana atau kompleks? 😛

  6. kalau hakikat jesus versi saya
    adalah jesus sebagai manusia yang menjadi pengejawantaan sifat2 tuhan.

  7. @Geddoe
    Dalam Islam Sunni teologi berhenti di al-Gazali yang mengukuhkan sifat-sifat Tuhan, yakni ada, terdahulu, kekal, satu. Saya kira dalam konteks zat Tuhan, Islam tidak jauh berbeda dengan Kekristenan dan Judaisme bahwa Tuhan tak terbagi. Kalo monoteisme diartikan sebagai kesederhanaan Tuhan, bahwa Tuhan zat yang bukan organisme atau “designed designer” seperti dipikir Dawkins, maka dalam Islam, dan juga agama monoteis lainnya, Tuhan itu sederhana.

    Kenapa saya sebut kompleks karena saya sedang membicarakan trinitas. Ada kompleksitas di situ karena terkait dengan “substansi” Tuhan sebagaimana diutarakan dalam kredo Nicene, yang jadi bahan lelucon Dawkins di The God Delusion. Saya harus akui, sulit sekali memahami trinitas dalam konteks Kekristenan. Dari sudut pandang Islam/Yahudi sih simpel, itu sebentuk idolatri/syirk. Tapi dalam konteks Kekristenan? Ada filsafat di sini. Ada istilah substansi, persona, esensi dll, yang memang tidak bisa dilihat menggunakan kerangka berpikir ala Dawkins.

    God is not a watchmaker, IMHO. He’s not a designed designer which has be more complex than the things he has designed. Tapi, yah, Dawkins berhak berargumen seperti itu.

    Dalam Islam dan Judaisme sedikit sekali ruang di luar dogmatisme. Tuhan tidak bisa dinalar. Titik! Dalam Kristen gak gituh, karena Tuhan itu Logos, karena itu Tuhan tidak mungkin jahat karena bertentangan dengan hakikatnya. Karena terlalu toleran pada ‘reason’, Kekristenan memang paling bonyok kena hajar. Tapi ia bertahan, miraculously.

    adi isa
    Wah pahamnya menarik juga.

  8. Mudah-mudahan tidak memperumit persoalan. Titik pandangnya haruslah dari Firman Allah, yang dulu disampaikan kepada para Nabi. Menurut Yohanes: Firman itu menjadi daging (manusia). Ini bisa diartikan Firman mengambil wujud manusia, yaitu Yesus.Jadi sebetulnya tetap harus dibedakan antara Firman dan Yesus, karena Yesus itu manusia historis. Tetapi di lain pihak, Firman dan Yesus juga begitu menyatu. Jadi, sebetulnya, kalau bicara mengenai Yesus, ya menunjuk tokoh historis yang hidup zaman tertentu, tetapi kalau bicara Firman, ini Firman Allah. Mudah-mudahan tidak memperumit.
    Salam,
    Purwatma

  9. Makasih Romo, saya mengerti sekarang. Ini memang agak aneh tetapi sepertinya saya sepaham dengan Romo dalam hal ini.

  10. Kitab Suci, saya akui, memang suka menggunakan bahasa yang sulit dipahami.

    Iya, saya setuju dengan Anda, Pak gen. Dalam alquran juga sering menggunakan metafora pada ayat-ayatnya. Mungkin itulah yang menyebabkan perbedaan dalam menafsirkan maksudNya, mungkin agar kita manusia tidak hanya berpusat pada satu pikiran saja, dan agar manusia mau berpikir dan berbeda, saling menlengkapi. Begitukah maksud TUHAN?

    *saya orang bodo yang ingin belajar, pak. pake ikut-ikutan koment lagi..:-)moga gak nyrimpeti diskusi anda-anda, orang-orang yang dah pinter…sekalian ijin mau sambung kabel* 🙂

  11. *saya orang bodo yang ingin belajar, pak. pake ikut-ikutan koment lagi..:-)

    Gak apa-apa. Saya juga masih belajar. Ini Mbak atau Mas yah? Ah, gak penting jugalah gender di dunia maya. Btw, saya tidak tahu maksud Tuhan.

  12. hehehheh… 🙂
    kita teman yang tak pernah (perlu) kenalan, pak..
    tetapi agar anda gak binggung, saya adlah seorang perempuan.
    maksud Tuhan? menusia kan hanya bisa menafsirkannya, mungkin begitu.

    terima kasih ‘service’ anda, sama, atau bahkan lebih memuaskan dari service di cafe hotel shangri-la, HK.

    *maksud saya anda ramah, dan tak berbasa-basi,:-) menurut saya basa-basi lebih dekat pada kemunafikan*

    oya, ada rencana ke HK, pak?

  13. Ah, tidak. Waktu itu saya ke Hong Kong mampir aja, kok. Kebetulan saya lagi ada acara di Macao.

  14. Teologi Kristen yang rumit itu karena agama Kristen kan berkembang di barat, di mana memang perubahan dan kemajuan sudah menjadi bagian budayanya, sebagai contohnya kan di barat sana menjadi awal zaman eksplorasi dunia, revolusi industri, dll. Bandingkan dengan dunia Timur yang lebih menitikberatkan pada stabilitas. Buktinya gaya berpakaian tradisional Timur (Arab, India, Cina dll) hampir tidak banyak berubah sejak 2 abad lalu. Bandingkan dengan orang-orang Eropa.

    Sebagai penganut Kristen, saya sih nggak pernah mikir yang susah2 soal teologi. Agama itu kan soal bagaimana kita berinteraksi dengan Sang Pencipta dalam keseharian kita. Jadi nggak usah mikir yang susah2 lah.

  15. @ROZ
    Iya Anda benar saya kira. Dalam dunia Islam sudah ada kecenderungan untuk meninggalkan dunia (sudah post-modernis sebelum modernisme ditemukan, hehe) sejak abad pertengahan.

    Sebagai penganut Kristen, saya sih nggak pernah mikir yang susah2 soal teologi. Agama itu kan soal bagaimana kita berinteraksi dengan Sang Pencipta dalam keseharian kita. Jadi nggak usah mikir yang susah2 lah.

    Ah. iya silahkan Mas.

  16. Kedatangan YESUS dimuka Bumi Allah ini adalah untuk menyatakan ALLAH yg GHAIB….itu-lah misi utama yesus ditandai dgn Kelahirannya yg ajaib tanpa Sentuhan Ayah yg menjadi Mukjizat atasnya, maka ketika dikatakan ia Yesus adalah kalimat (Firman) maka adalah benar….oleh karena pada umumnya kelahiran Bayi dikolom jagad ini adalah melalui proses percampuran Sperma antara laki2 dan perempuan hingga menjadi janin, namun berbeda dgn Yesus/Isa.AS….Maka pantaslah ia disebut Firman yg membuat NYATA perbuatan ALLAH lewat kelahirannya dan mukjizat2nya yg lain…..namun perlu difahami…sekali lagi bahwa walau demikian ia Yesus bukanlah TUHAN (ALLAH) melainkan Firman Allah yg Menyatakan (membuat nyata) Kebesaran dan Keberadaan serta Keadaan ALLAH Tuhan semesta alam, maka dapat saya simpulkan bahwa beliau (YESUS/ISA.AS) adalah sebuah tanda/Ayat/Firman yg diturunkan Allah agar kiranya manusia dapat mengenal akan ALLAH dan mengetahui akan Sifat2 ALLAH…..Maka nyatalah ketentuan dan ketetapan Allah yg Menciptakan beliau (YESUS/ISA.AS) dgn Kalimat=Firman (dan Firman itu adalah KUN….FAYAKUN=Jadilah…maka jadilah)…..Namun…ketika salah satu tanda kebesaran Allah yg dinyatakan lewat kehadiran YESUS dimuka bumi ini tetap menjadikan segolongan manusia pada masa itu hingga kini tetap dalam pengingkaran yg nyata akan ALLAH Tuhan yg SATU (1).

  17. Klo mnurut sy,,yg jlasnya brpedomanlah pada kitab suci…maka jalan lurus n kbenaran akan engkau temukan,,krn z liat kbaxk ummat bragama tdk mngukiti kitab sucinya,,malah dia mngikuti dan prcaya kata seseorg yg dia anggap bnar pdahal dia kluar dri ajaran kitab suci,,pdahal pda hakikatx kitab suci smua itu sama krna pnciptanya tiada lain hanya satu yaitu TUHAN YANG MAHA ESA..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: