ISLAM DAN KEBUDAYAAN NASIONAL

June 11, 2008 at 11:30 am | Posted in kebudayaan, kontribusi-luar | Leave a comment
Tags:

Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, beragam bahasa dan budaya. Sebagai sebuah negara tentu ini merupakan sesuatu yang tak biasa. Dibandingkan dengan negara-negara Eropa atau negara Timur lainnya tampak jelas perbedaannya. Secara jelas Jerman atau Korea misalnya, negara dibatasi oleh oleh ciri-ciri yang mempunyai nilai-nilai kebangsaan yang khas, karena itu munculah istilah negara-bangsa. Bisa dikatakan bahwa kebudayaan dalam sebuah negara-bangsa bersifat natural atau dengan kata lain kebudayaan bila dikonsepkan dalam suatu pernyataan politis adalah sesuatu yang terberi.

Indonesia dengan beragam budayanya merupakan sebuah bangsa. Namun sulit menjelaskan secara tegas ciri-ciri kebudayaan dalam konteks nasionalitas. Denis Lombard sejarawan yang menulis traktat sejarah pulau Jawa (Nusa Jawa Silang Budaya, 1999) melihat bahwa kebudayaan yang menjadi nilai-nilai kebangsaan di Indonesia terbentuk lewat osmose (atau difusi) bermacam kebudayaan, seperti Belanda, India, Cina dan Arab. Sampai saat ini proses akulturasi bahkan terus terjadi dalam dinamika kehidupan di kepulauan Nusantara.

Kebudayaan sebagai konsep yang integral dengan pemahaman tentang nasionalisme baru muncul dan dalam arti tertentu dipahami setelah indonesia menjadi negara berdaulat. Terma kebudayaan nasional tertulis dalam Undang-Undang Dasar 45. Boleh dibilang bahwa kebudayaan nasional terbentuk seiring dengan terbentuknya ideologi negara. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila termaktub ciri khas apa yang kita kenal sebagai kepribadian bangsa. Penghormatan atas kemerdekaan, menjunjung tinggi perdamaian abadi dan keadilan sosial adalah beberapa contoh nilai-nilai yang mencerminkan nilai-nilai kebangsaan.

Memang hal ini akan mencuatkan sebuah pertanyaan. Misalnya bukankah kebudayaan dalam arti tertentu terkait dengan simbol-simbol yang terbatas pada suatu daerah? Misalnya bahasa, pakaian, dan juga pola hidup daerah tertentu. Lalu bagaimana konsep kebudayaan nasional itu dapat dirumuskan? Bila kita cermati kembali, kebudayaan nasional dapat diartikan sebagai keseluruhan kebudayaan yang ada di setiap daerah yang ada dalam negara Indonesia. Dalam konteks ini kita tak bisa mengatakan bahwa kebudayaan nasional adalah cerminan dari keragaman kebudayaan daerah. Dalam arti apa kebudayaan nasional dapat dipahami? Secara konseptual memang sulit memahami terma kebudayaan, namun satu hal dapat dipahami bahwa dalam konsep kebudayaan nasional terdapat sebuah kesatuan makna yang mencerminkan keindonesiaan.

Pada masa orde baru, penyebaran Pancasila sebagai ideologi dianggap sebagai sebuah upaya pembudayaan. Neils Mulder dalam bukunya Mistisisme Jawa (2001) menjelaskan bahwa Pancasila merupakan perwujudan dari nilai-nilai luhur kebangsawanan yang ada di masa lalu. Sehingga upaya pemberadaban (atau pembudayaan) menurutnya merupakan sebuah upaya mewujudkan pesan-pesan yang ada di masa lalu yang telah di idealkan. Rezim orde baru melakukan praktik pembudayaan Pancasila, namun seperti kita pahami praktik ini dilakukan secara koersif. Di sini terlihat sebuah sistem kuasi-totaliter yang dipraktikkan oleh negara. Hasilnya, upaya pembudayaan tak pernah menyentuh semua lapisan masyarakat dan kehidupan politik terbentuk secara terpusat.

Pada masa reformasi, setiap warga berhak mengungkapkan sikap politik. Kemudian muncul banyak partai Islam, dan dalam beberapa hal terlihat mengendalikan cakrawala politik yang ada. Saya kira itu wajar, karena Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar sedunia. Tradisi keilmuan Islam yang pernah menjadi dinamika pada awal menyebarnya Islam ke Indonesia kembali hidup. Isu-isu keagamaan kembali menghiasi media informasi yang ada. Apakah ini tanda kemunduran ataukah sebaliknya? Pembudayaan yang dilakukan sistem pemikiran Islam tidak hanya dalam ranah etika dan moral, tapi juga pembudayaan nilai-nilai intelektualitas. Karena itu adalah wajar untuk bersikap optimistis.

Kepulauan Nusantara sebelum negara terbentuk adalah wilayah yang terhubung satu sama lain lewat perdagangan. Wilayah yang dapat dikatakan terbuka secara internasional. Kosmopolitanisme pada masa ini menjadi syarat keberlangsungan dinamika kehidupan. Maka tak heran bila banyak budaya-budaya mainstream meninggalkan jejaknya di Nusantara.

Melihat dinamika yang ada pada masa ini bolehlah kita berasumsi bahwa kepulauan Nusantara pada saat itu mempunyai budaya kosmopolit. Meski belum memenuhi hukum kosmopolitanisme seperti yang dirumuskan oleh Kant, yakni keramahtamahan universal (universal hospitality), namun keterbukaan terhadap berbagai macam kebudayaan bisa menjadi semacam acuan tentang adanya nilai-nilai kosmopolitanisme.

Islam hadir sebagai seperangkat ide atau gagasan yang diterima oleh penduduk kepulauan Nusantara dalam dinamika kehidupan masa perdagangan ini. Islam membentuk sebuah pandangan dunia, menandaskan mentalitas dan sebuah kepribadian. Tradisi keilmuan boleh dibilang mulai menggejala pada kurun ini. Jaringan ulama yang membawa ilmu agama dan kesusastraan dalam hal ini menjadi agen kebudayaan yang kemudian berkembang di Nusantara.

Selain sebuah perasaan sama-sama terjajah yang dialami oleh sebagian besar penduduk kepulauan di Indonesia, Islam telah membentuk simpul-simpul identitas kebudayaan yang menjadi benih nasionalisme. Jadi kebudayaan nasional saya pikir tak lepas dari apa yang kita mengerti sebagai tradisi keislaman. Karena Islam membentuk sebuah mentalitas. Ada pun kebudayaan Barat yang mewariskan ilmu-ilmu positif tampaknya hanya memberi kontribusi pada nilai-nilai praktis dan ekonomis dalam penyelenggaraan negara. Artinya, kebudayaan Barat tak banyak memberikan nilai-nilai keindonesiaan dalam ranah kepribadian, ia hanya menggejala dalam konteks permukaan saja.

Dengan nilai-nilai yang dibawanya (ilmu agama dan sastra), Islam telah membuka jalan menuju kosmopolitanisme. Kosmopolitanisme Islam tentu tidak hanya dalam konteks etika dan moral, tapi juga kita kenali dalam dinamika keilmuan—khususnya ilmu agama. Kebudayaan dengan makna etisnya dalam hal ini benar-benar ditegaskan. Berawal dari sinilah menurut saya terbentuk sebuah perilaku cosmopolitic. Perilaku yang menegaskan keutuhan jiwa yang dengannya dapat terwujud, seperti kata Jacques Derrida dalam bukunya On Cosmopolitanism and Forgiveness (2001), budaya ramah sebagai sesuatu yang alami secara publik.■

Oleh Bahar

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: