Jualan Ateisme di Indonesia Bisa Laku?

June 8, 2008 at 3:04 pm | Posted in agama, teologi, tuhan, Uncategorized | 22 Comments
Tags: , , ,

Ateisme. Apakah kata ini masih menakutkan bagi bangsa Indonesia? Di kalangan anak muda yang lahir pada tahun 1980-an ke atas, dalam pandangan optimis saya, mungkin tidak. Tapi bagi golongan orang-tua, sepertinya iya – banget! Saya berasumsi sebagian besar orang Indonesia masih merasa risih dengan kata ini: “ateis” – bukan “ateisme”, tapi ateis, si begundal anti-Tuhan yang layak dimusuhi.

Entah mengapa bangsa Indonesia ini sepertinya bangsa yang sangat anti-ide. Ini fakta yang sangat menyedihkan. Dalam beberapa kasus, bangsa ini malah sangat fobia terhadap ide. Komunisme, misalnya. Saya lihat di televisi ada ulama yang masih mengaitkan tragedi Monas dengan “bahaya laten Komunisme.” Heh!? Selain fobia terhadap gagasan, bangsa Indonesia – yang konon wataknya santun dalam kebhinekaan– juga sepertinya doyan nyari “kambing hitam”. Duh, jangankan komunisme, gagasan pembaharuan pemikiran Islam Cak Nur saja, yang masih merujuk al-Qur’an dan hadist, dicurigai habis-habisan. Makanya, seandainya ada yang mau jualan ateisme di Indonesia, kira-kira bisa laku?

Ateisme bukan barang baru di Indonesia. Dulu, beberapa tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan, Achdiat K Mihardja menulis novel berjudul Atheist. Buku ini menyulut kontroversi dan sang penulis pun diintimidasi. Padahal, dia bukan ateis. Dia muslim, relijius pula. Ateisme memang tidak dapat dipungkiri identik dengan Marxisme-Leninisme atau komunisme di negeri ini. Bangsa ini punya trauma dengan PKI, jadi apapun yang ada hubungannya dengan PKI harus dibumihanguskan. Ada juga beberapa intelektual yang menghembuskan ateisme gaya Sartre. Tapi lingkaran intelektual selalu dan terlalu terbatas sehingga bisa dipastikan orang di jalan raya tidak akan mengenal gagasan itu; menolak Tuhan demi otentisitas-eksistensi. Nietzsche mungkin lebih terkenal dari Sartre. Tapi dia lebih banyak dikutip buat gaya-gayaan anak muda saja, atau buat intermezzo ceramah pastur dan ustad-ustad kota.

Selain belum pernah dijual lagi setelah 1965, orang Indonesia, negara berpenduduk Islam terbesar, memang benar-benar bukan pasar ateisme. Meskipun begitu, ternyata ada penerbit yang melihat Indonesia sebagai lahan subur untuk menjual buku tentang ateisme. Nama penerbitnya Pustaka Alvabet. Penerbit ini akan menerbitkan buku The God Delusion karya bapak Richard Dawkins. Katanya bakal terbit akhir tahun ini, atau awal tahun depan. “Masih menunggu momen yang tepat,” kata chief editor Alvabet, pak Zulkifli namanya.

Buku ini laku keras di Amerika, menurut daftar The New York Times Bestseller, dan bisa dilihat di toko-toko buku internasional, terutama di bandara-bandara. Di Bali, buku Dawkins pasti ada-lah di Periplus. Di Soekarno Hatta juga ada, bersama buku The Atheist Bible dan kawan-kawannya. Di Kinokuniya atau Aksara juga ada, biasanya di rak “agama”. Toko buku semacam ini konsumennya terbatas, tentu (karena toko bukunya orang-orang kaya). Buku The God Delusion itu ikon dari “serangan ateisme” setelah tragedi September 11. Selain Dawkins, ada Sam Harris dan Christopher Hitchens. Ada lagi sih penulis ateis yang lain, tapi tidak seterkenal mereka bertiga.

Dawkins, menurut John Humphrys, seorang jurnalis agnostik yang menulis In God We Doubt (buku favoritnya Mas Geddoe), mengadvokasi apa yang ia sebut “ateisme baru”. Istilah itu ditentang oleh fans Dawkins di situsnya, tapi saya kira Pak Humphrys tidak berlebihan, Dawkins memang membuat ateisme menjadi sebuah gagasan yang lebih segar — lebih artikulatif. Mungkin karena dia ilmuwan yang pandai menulis. Jika evolusi yang ribet saja dia buat sederhana dan menyenangkan dibaca, apalagi ateisme. Dan, oh ya, Pak Dawkins ini militan sekali. Jika dibuat garis tengah, jarak Dawkins dan Osama bin Laden dari garis tengah itu mungkin sama.

Alvabet juga akan menerbitkan bukunya Sam Harris, A Letter to A Christian Nation (diterjemahkan menjadi Surat Terbuka Kepada Bangsa Kristen) dan mereka sudah menerbitkan Spiritualitas Tanpa Tuhan (The Little Book of Atheist Spirituality) karya Sponville. Mereka berani ambil resiko finansial dan keamanan dengan menerbitkan buku-buku ateisme. Cool, indeed. Alasannya ada dua, kata Zulkifli. Pertama, agama harus dikritik karena bikin rusuh aja kerjanya (we all remember 9/11, Iraq, Konflik Israel-Palestina). Kedua, publik berhak mendapatkan informasi apa saja, termasuk ateisme.

Ada fakta menarik terkait respon penerbit lokal atas karya Pak Dawkins itu. Penerbit Serambi sempat mau menerjemahkannya juga. Kata chief editornya, Pak Qomaruddin SF, Serambisampai diskusi tiga kali, mengundang ahli dan pembaca awam sekaligus. Kesimpulan mereka, pembaca Indonesia tidak siap membaca buku semacam itu. Padahal mereka sudah sukses mendulang uang dengan menerjemahkan buku The Da Vinci Code karya Dan Brown yang dianggap offensif bagi orang Katolik.

KPG juga berniat menerbitkan buku itu, The God Delusion, karena toh mereka sudah menerbitkan The River Out of Eden (terjemahannya Di Tepi Sungai Firdaus) dan berencana menerbitkan terjemahan The Selfish Gene, keduanya buku Dawkins. Tapi tidak jadi. Alasannya, menurut chief editor KPG, Pak Candra Gautama, buku itu terlalu provokatif. Dan, yang terpenting, buku itu tidak seilmiah buku Dawkins lainnya. Argumennya kurang kuat, katanya. KPG ini agak unik. Mereka ingin mengembangkan sains di Indonesia. Buku yang diterjemahkan pun, dalam bidang biologi, adalah buku-buku sains beneran, yang masih berpijak pada paradigma evolusi. KPG tidak berminat dengan buku-buku sains yang diagama-agamakan – sains-palsu lah kalau kata Mas Sora. Kata Pak Candra, buku-buku Pak Dawkins seperti The Selfish Gene itu tidak bicara soal eksistensi Tuhan, jadi tidak bisa dibilang buku ateis. Sains (baca: Dawkins) itu netral soal teologi, katanya. Entah mengapa, saya beramsumsi beliau khawatir kalo Dawkins dikenal di Indonesia sebagai ateis, bukunya jadi tidak laku.

Mizan jelas gak mau menerbitkan buku semacam itu. Meskipun Mizan, sebagai penerbit buku-buku Islam (awalnya agak miring ke pemikiran Syi’ah) menerbitkan juga buku-buku yang ditulis oleh non-Muslim yang kritis terhadap agama, termasuk Karen Armstrong, mereka gak minat membawa Dawkins, Harris dan Hitchen ke toko buku lokal. Hmmmh…so, laku gak yah? Buku The End of Faith karya Harris sudah diterjemahkan oleh Pustaka Pelajar dan sepertinya memang tidak laku. 😀 Buku HItchens, God Is Not Great, sepertinya tidak diminati sama sekali.

Saya secara pribadi mendukung buku-buku tentang ateisme diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Saya sepakat dengan Pak Martin Sinaga dan Ihsan Ali Fauzi, ateisme itu bisa menjadi kritik bagi orang-orang yang percaya. Saya dukung Pustaka Alvabet, meskipun saya tadinya berharap penerbit besar sekaliber Gramedia dan Mizan, yang punya banyak uang buat promosi, mau menerbitkan buku Pak Dawkins atau Pak Harris.

Entah, dalam situasi sekarang, saya berpikir bahwa untuk bisa mengenal Tuhan dengan baik, secara subyektif maupun obyektif, orang harus ateis dulu, atau setidaknya bisa membayangkan bagaimana kita hidup seandainya Tuhan itu TIDAK ADA. Dengan demikian, iman kita mungkin bisa lebih dewasa. Kita tidak akan asal mengkafirkan orang lain, apalagi teriak-teriak “Allahu Akbar! Allahu Akbar!” tengah hari bolong sambil bawa pentungan.

Sumber: TJP

22 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ateisme. Apakah kata ini masih menakutkan bagi bangsa Indonesia? Di kalangan anak muda yang lahir pada tahun 1980-an ke atas, dalam pandangan optimis saya, mungkin tidak. Tapi bagi golongan orang-tua, sepertinya iya – banget!

    Boleh jadi terkait stigmatisasi sama PKI/komunisme, IMHO. Soalnya mereka kan dituding non-agama dan (sekaligus) nggak ber-Tuhan juga, apalagi pas masa2 orde baru. 🙄

    BTT, saya sendiri sebetulnya netral saja soal apakah buku-buku ateisme mau dipasarkan di Indonesia atau tidak. Tapi, saya pikir, ini bisa jadi memperluas khazanah pembaca juga.

    Seenggaknya kita bisa mempelajari dari dua sisi. Yang mau belajar agama bisa mengambil dari rak; yang mau mengkritisi pun bisa berbuat yang sama. Ibaratnya kita menunjukkan dua jalan beserta alasan dan untung-ruginya. Mau pilih yang mana, biarlah kembali ke pilihan masing-masing. 🙂

    …walaupun mungkin, baca buku ateismenya harus sambil ngumpet dari orangtua… ^^;;

  2. “Ateisme” di mata Indonesia bukannya berwujud bendera merah berhias palu dan arit kuning? 😛

    Dan lagi, kenapa ada buku Ann Coulter di sana? Setahu saya dia adalah seorang konservatif kelas kakap, deh. 😕 Ateis-nya Achdiat Karta Mihardja juga begitu. Saya belum pernah baca sampai habis, tapi bukannya ini novel tidak ada bedanya dengan jalan cerita di sinetron-sinetron Ramadhan (CMIIW)?

    *lospokus*

    * * *

    Pertama, tentu sisi skeptis kita tidak bisa lari dari anti-ide-nya bangsa ini. Analogi ke liberalisme agama sangat tepat. Kalau pemikiran semacam yang digagaskan Nurcholis Madjid saja bisa dicap macam-macam, bagaimana dengan naturalisme a la Dawkins? Kalau suatu pemikiran bisa babak belur hanya karena tidak menganjurkan pemakaian hijab, rasanya sukar mengira-ngira apa yang bakal terjadi pada ideologi yang meniadakan kepercayaan pada Tuhan (ateisme populer tidak ada hubungannya dengan meniadakan Tuhan).

    Tapi saya agak ragu juga. Soalnya, sejauh pengalaman saya (yang tidak panjang itu), orang biasanya agak lebih sensitif pada ideologi yang memodifikasi akar-akar ideologi lama. JIL, misalnya.

    Saya sendiri agak miris membayangkan buku-buku Dawkins, Harris, Hitchens (yang Christopher, bukan Peter), atau kroni-kroninya nongkrong di Gramedia. Mungkin ini adalah sisi saya yang sedikit elitis dan arogan; tapi yang saya bayangkan adalah, setelah penerbitan buku semacam ini, yang muncul adalah apologi-apologi murahan yang berisik.

    Tidak, saya bukan anti-apologi. Beberapa apologi membuat saya sangat terkesan; misalnya gagasan lompatan iman (ini bikinan Kierkegaard ya? Lupa 😛 ). Cuma entah kenapa, mungkin intuisi, saya kira resepsi atas buku-buku seperti ini tidak akan jauh-jauh dari retorika kelas rohis SMA; semacam anekdot seorang ustadz yang menampar sang ateis lalu bertanya ‘di mana rasa sakit itu?’. Saya yakin mas tahu retorika-retorika seperti itu. 😀

    Jadi, ya itu tadi. Yang akan muncul adalah;

    1. Di-blacklist. Mungkin malah tidak akan laris dengan alasan ini.
    2. Mengundang apologi-apologi dangkal yang malah akan menambah bigotry di beberapa kasus.
    3. Bertambahnya stereotip miring tentang dunia barat yang ateis™.

    Jadi… Mungkin saya terlalu sinis dan paranoid, tapi kok rasanya buku-buku itu tidak akan dibaca? 😆 Yang ada adalah, dijadikan bahan ceramah; (“buku-buku kufur mulai berjamur, kiamat semakin dekat— peganglah erat-erat ajaran agamamu!”), dan kalaupun dibaca, hanya untuk dicari-cari kesalahannya. Itupun saya ragukan keabsahan argumen-argumennya. Rasanya terlalu bermimpi untuk mengharapkan kritisisme setajam Humphrys di sini? 😦

    Maksud saya, kalau melihat argumen-argumen orang yang menekan Ahmadiyah belakangan ini, apa kita yakin buku-buku ini akan ‘dipelajari’? 😕

    Lebih miris lagi, kalau Alkitab yang diterjemahkan ke bahasa Minang atau Arab Melayu saja sudah menyulut kontroversi, apalagi ini?

    * * *

    Tapi di sisi lain, mungkin berguna untuk menghilangkan tabu? In the long run, tentunya. 😀

    Jadi, saya imparsial soal ini. Terserah lah mau bagaimana. 🙂 Asal jangan setelah buku ini terbit, muncul kritisisme yang diamini pemerintah, terus diadakan witch hunt ateisme. 😆

  3. @Sora9n

    Boleh jadi terkait stigmatisasi sama PKI/komunisme, IMHO.

    Iyah, kan saya juga bilang begitu di postingan saya. Saya bilang: “Ateisme memang tidak dapat dipungkiri identik dengan Marxisme-Leninisme atau komunisme di negeri ini. Bangsa ini punya trauma dengan PKI, jadi apapun yang ada hubungannya dengan PKI harus dibumihanguskan.”

    BTT, saya sendiri sebetulnya netral saja soal apakah buku-buku ateisme mau dipasarkan di Indonesia atau tidak. Tapi, saya pikir, ini bisa jadi memperluas khazanah pembaca juga.

    Kalo saya tangkap dari kalimat terakhir Anda, sepertinya Anda mendukung pemasaran buku ateis, karena paling tidak bisa “memperluas khazanah pembaca”. Bukan begitu?

    …walaupun mungkin, baca buku ateismenya harus sambil ngumpet dari orangtua… ^^;;

    Setuju. We have to respect their conviction, especially on this matter.

    @Geddoe

    “Ateisme” di mata Indonesia bukannya berwujud bendera merah berhias palu dan arit kuning?

    Yes, as I said above.

    Dan lagi, kenapa ada buku Ann Coulter di sana? Setahu saya dia adalah seorang konservatif kelas kakap, deh.

    Itukan di toko buku Geddoe, bukan lemari buku saya. Itu foto diambil di toko buku Aksara, Plaza Indonesia, btw. Buku-buku ateisme itu lucunya masuk kategori buku-buku “agama”. Jadi yah semuanya ngumpul. Bahkan bukunya Pak Dawkins bisa berdampingan sama bukunya Rick Warren yang sampulnya teduh banget itu, “The Purpose Driven Life.”

    Ateis-nya Achdiat Karta Mihardja juga begitu. Saya belum pernah baca sampai habis, tapi bukannya ini novel tidak ada bedanya dengan jalan cerita di sinetron-sinetron Ramadhan (CMIIW)?

    Jalan ceritanya mungkin mirip. Tapi plotnya nggaklah. Masih jauh lebih bagus menurutku. Sinetron emang ada yang pernah menyentuh isu komunisme? Ateisme di novel itu memang terkait dengan gagasan Marx, Lenin dkk. Bangsa Indonesia saat itu newbie di pentas dunia dan komunisme lagi jaya-jayanya. Wajarlah bila ateisme cukup menarik waktu itu.

    Novel kedua Achdiat judulnya “Manifesto Khalifatullah”, terbit di tahun 2000-an. Ini buku dari seorang teis sejati, tentunya. Wajarlah, dia sudah sangat tua.

    Tapi saya agak ragu juga. Soalnya, sejauh pengalaman saya (yang tidak panjang itu), orang biasanya agak lebih sensitif pada ideologi yang memodifikasi akar-akar ideologi lama. JIL, misalnya.

    Saya juga ragu. Kayaknya publik bakalan tidak perduli. Persoalanya seperti yang saya tulis di atas, Pustaka Alvabet dan Pustaka Pelajar bukan penerbit besar. Toko buku Gramedia dan Gunung Agung pun belum tentu mau memasarkan buku-buku ateis yang mereka terbitkan.

    Di Indonesia itu lucu, dua penerbit besar, Gramedia dan Mizan, dan dua toko buku besar, Gramedia dan Gunung Agung, itu leaning pada agama tertentu: Kristen dan Islam.

    Mungkin ini adalah sisi saya yang sedikit elitis dan arogan; tapi yang saya bayangkan adalah, setelah penerbitan buku semacam ini, yang muncul adalah apologi-apologi murahan yang berisik.

    Hmmm…iya juga sih. Tapi berhubung pemikir Indonesia yang jago menulis itu jarang, Mizan berencana menerbitkan buku-buku luar yang mengkritik ateisme seperti Alister McGrath atau Deepak Chopra. Yah, mungkin buat Anda, akan sama “murahan dan brisiknya”. 😀 Saya dengar Karen Armstrong sedang menulis buku untuk mengkritik Dawkins dkk. Serambi dan Mizan mungkin sedang menunggu. Ibu Karen itukan terkenal di Indonesia.

    Beberapa apologi membuat saya sangat terkesan; misalnya gagasan lompatan iman (ini bikinan Kierkegaard ya? Lupa 😛 )

    Iya, the leap of faith, filosofi filsuf melankolik Kierkegard. Saya sepertinya masih menganut pandangan ini. 😀

    Rasanya terlalu bermimpi untuk mengharapkan kritisisme setajam Humphrys di sini? 😦

    Hahaha, sebagai agnostik sejati, Anda sepertinya fans berat Humphrys. Btw, ini kata Dawkins tentang Humphrys: “”I’m astonished that somebody could spend 5,000 words saying absolutely nothing at all.” 😀 Saya tidak begitu tercerahkan dengan “In God We Doubt”. Tapi sama dengan “The God Delusion”, buku itu sangat menyenangkan untuk dibaca. Komikal.

    Jadi, saya imparsial soal ini. Terserah lah mau bagaimana. 🙂 Asal jangan setelah buku ini terbit, muncul kritisisme yang diamini pemerintah, terus diadakan witch hunt ateisme.

    Mudah-mudahan tidak.

  4. Jalan ceritanya mungkin mirip. Tapi plotnya nggaklah. Masih jauh lebih bagus menurutku. Sinetron emang ada yang pernah menyentuh isu komunisme?

    Plotnya dan intrik-intriknya saya tidak bisa berkomentar banyak. Saya belum mengkhatamkan buku itu. 😛 Yang saya maksud adalah premis utamanya. Kebetulan saya diberi spoiler tentang bagaimana cerita itu berakhir. 🙂

    Saya juga ragu. Kayaknya publik bakalan tidak perduli. Persoalanya seperti yang saya tulis di atas, Pustaka Alvabet dan Pustaka Pelajar bukan penerbit besar. Toko buku Gramedia dan Gunung Agung pun belum tentu mau memasarkan buku-buku ateis yang mereka terbitkan.

    Saya juga masih ragu. Bagusnya tentu mengurangi tabu ateisme itu sendiri. Jeleknya, ya, seperti yang saya bilang, bisa dijadikan bahan bakar untuk pencarian “musuh baru”. Takutnya, ketika kaum sayap kanan yang tergolong suka cari ribut for its own sake (tidak menggeneralisasi, lho) sudah bosan dengan Ahmadiyah dan Islam Liberal, malah ateisme yang dijadikan target.

    Mizan berencana menerbitkan buku-buku luar yang mengkritik ateisme seperti Alister McGrath atau Deepak Chopra. Yah, mungkin buat Anda, akan sama “murahan dan brisiknya”. 😀 Saya dengar Karen Armstrong sedang menulis buku untuk mengkritik Dawkins dkk.

    Saya tidak terlalu menyukai McGrath, dan belum pernah dengar tentang Chopra. Tapi mengenai kritik akan “ateisme baru” itu, saya pernah baca Apakah Agama Berbahaya?-nya Keith Ward, dan lumayan terkesan (bukan “murahan” lah). 😀 Mungkin buku itu juga masuk daftar?

    Mengenai yang bikinan Ibu Karen, saya akan menunggu. 🙂

    Hahaha, sebagai agnostik sejati, Anda sepertinya fans berat Humphrys.

    Apakah kesannya begitu? Rasanya tidak… Saya sendiri mengantuk membaca sebagian besar isi tulisannya, namun beberapa bagiannya begitu mengena ke saya. 😛 Misalnya di mana beliau menyangsikan keefektifan wacana-wacana ‘ateisme baru’ yang ada di pasaran.

    Sekarang sedang mencoba peruntungan saya dengan Ayn Rand. Kebetulan bukunya tidak terlalu panjang.

    Mudah-mudahan tidak.

    Saya cuma bisa berharap… 🙂

  5. Tapi mengenai kritik akan “ateisme baru” itu, saya pernah baca Apakah Agama Berbahaya?-nya Keith Ward, dan lumayan terkesan (bukan “murahan” lah). 😀 Mungkin buku itu juga masuk daftar?

    Saya belum baca tuh. Itu belum diterjemahin kan? Saya bisa informasikan itu ke editor Serambi, Mizan atau KPG.

    Saya sendiri mengantuk membaca sebagian besar isi tulisannya, namun beberapa bagiannya begitu mengena ke saya.

    Mungkin karena dia menulisnya secara personal. Dia kan jurnalis model Andy F. Noya gituh.

    Sekarang sedang mencoba peruntungan saya dengan Ayn Rand.

    Obyektifisme? Saya tidak suka novel-novelnya. Gak enak dibaca. 😀 Mungkin karena saya sudah mengenal eksistensialime duluan. Kierkegard itu anti obyektifisme, saya kira Anda tahu itu. Itu sebabnya, pengikut Rand bisa sangat abusive sama Kierkegaard. Dan saya merasa diserang. 😀

    Tapi, semoga beruntung lah Nak.

  6. @ gentole

    Iyah, kan saya juga bilang begitu di postingan saya. Saya bilang: “Ateisme memang tidak dapat dipungkiri identik dengan Marxisme-Leninisme atau komunisme di negeri ini.

    Euh, iya. Sori keliwatan. 😛

    Kalo saya tangkap dari kalimat terakhir Anda, sepertinya Anda mendukung pemasaran buku ateis, karena paling tidak bisa “memperluas khazanah pembaca”. Bukan begitu?

    Iya. Memang begitu. 😛

    Dalam hal ini saya berpendapat “information wants to be free”. Walaupun saya sendiri bukan seorang ateis (sekurangnya untuk saat ini), saya mendukung agar ide-ide mereka diberi kesempatan yang sama untuk tampil di masyarakat. 😕

    Soal apakah masyarakat nantinya tergiring menuju ateisme atau tidak, itu kembali pada tanggung jawab dan pilihan masing2. Saya pikir orang yang bersedia membeli buku adalah orang-orang yang siap berpikir dan menelaah. Jadi harusnya mereka tidak bodoh hingga bisa “hanyut terbawa arus” begitu saja. ^^

    Di Indonesia itu lucu, dua penerbit besar, Gramedia dan Mizan, dan dua toko buku besar, Gramedia dan Gunung Agung, itu leaning pada agama tertentu: Kristen dan Islam.

    Jangan2 memang ada polarisasi. Penerbit Serambi juga nerbitin Da Vinci Code tempo hari? Padahal biasanya line mereka isinya buku2 Islam. 😛

    @ K. geddoe

    Takutnya, ketika kaum sayap kanan yang tergolong suka cari ribut for its own sake (tidak menggeneralisasi, lho) sudah bosan dengan Ahmadiyah dan Islam Liberal, malah ateisme yang dijadikan target.

    Saya punya perasaan, sebenarnya orang-orang sini (baca: Indonesia/Islam) sedang mengikuti jejak Kristen Barat di masa lalu. 😕

    Setelah Katolik capek menyerang Protestan dan Mormon, ada kecenderungan mereka menyerang ateisme. IMHO, terlihat dari maraknya propaganda kreasionisme dan intelligent design di US, caution thd. film Golden Compass, dan lain sebagainya.

    Hari ini umat Islam Indonesia sering ribut soal aliran2 sesat, ditambah lagi Ahmadiyah-FPI. Di masa depan, siapa yang tahu kalo mereka ikut membidik ateisme… 😆

  7. @Sora9n

    Jangan2 memang ada polarisasi. Penerbit Serambi juga nerbitin Da Vinci Code tempo hari? Padahal biasanya line mereka isinya buku2 Islam.

    Saya dengar sebenarnya Gramedia yang mendapatkan tawaran memasarkan Da Vinci Code versi Indonesia. Tetapi karena Gramedia leaning to Catholicism, yah mereka menolak. Jatuhlah peluang itu ke tangan Serambi.

    Soal apakah masyarakat nantinya tergiring menuju ateisme atau tidak, itu kembali pada tanggung jawab dan pilihan masing2. Saya pikir orang yang bersedia membeli buku adalah orang-orang yang siap berpikir dan menelaah. Jadi harusnya mereka tidak bodoh hingga bisa “hanyut terbawa arus” begitu saja. ^^

    Sepakat.

    Di masa depan, siapa yang tahu kalo mereka ikut membidik ateisme…

    Sepertinya begitu.

  8. Saya belum baca tuh. Itu belum diterjemahin kan? Saya bisa informasikan itu ke editor Serambi, Mizan atau KPG.

    Itu saya tidak terlalu yakin. Tone-nya sangat jelas Kristen-nya. Jadi kalau yang semacam Serambi, Mizan, dan kawan-kawan, saya tidak tahu apa mereka mau menerbitkannya.

    Mungkin karena dia menulisnya secara personal. Dia kan jurnalis model Andy F. Noya gituh.

    Begitulah. Saya mengantuk membaca pengalaman-pengalaman beliau di zaman Perang Dunia kedua. 😆

    Obyektifisme? Saya tidak suka novel-novelnya. Gak enak dibaca. 😀 Mungkin karena saya sudah mengenal eksistensialime duluan. Kierkegard itu anti obyektifisme, saya kira Anda tahu itu. Itu sebabnya, pengikut Rand bisa sangat abusive sama Kierkegaard. Dan saya merasa diserang. 😀

    Tapi, semoga beruntung lah Nak.

    Hahaha. Saya tidak berminat membaca novel-novelnya, panjang. 😀 Jadi ingin mencoba obyektivisme ini. Siapa tahu cocok. 🙂

    Sebenarnya juga karena Ayn Rand membahas estetika. Saya agak capai menyinggung metafisika dan etika yang intimidating. Estetika mungkin lumayan menarik. 🙂

    Saya dengar sebenarnya Gramedia yang mendapatkan tawaran memasarkan Da Vinci Code versi Indonesia. Tetapi karena Gramedia leaning to Catholicism, yah mereka menolak. Jatuhlah peluang itu ke tangan Serambi.

    Walah? Asal jangan tiba-tiba buku macam Infidel atau Why I’m Not A Muslim diterbitkan Gramedia… :mrgreen:

    Ada suasana tidak enak juga sepertinya.

  9. Walah? Asal jangan tiba-tiba buku macam Infidel atau Why I’m Not A Muslim diterbitkan Gramedia…

    Another crusade? 😀

  10. […] Ateisme. Apakah kata ini masih menakutkan bagi bangsa Indonesia? Di kalangan anak muda yang lahir pada tahun 1980-an ke atas, dalam pandangan optimis saya, mungkin tidak. Tapi bagi golongan orang-tua, sepertinya iya – banget! Saya berasumsi sebagian besar orang Indonesia masih merasa risih dengan ka … Source: Jualan Ateisme di Indonesia Bisa Laku? […]

  11. hehehe menarik-menarik…

    by the way, lay outnya Aksara di Kemang lebih bagus than Plaza Indonesia.

    Menurut saya seh, laku atau tidaknya tergantung pada marketing and promoting-nya. Sukses Supernova mungkin bisa dicontek. Dee tidak popular sebagai novelis apalagi sastrawan. Akan tetapi, novel perdananya itu bisa laku karena penerbitnya sangat fokus pada pasar yang dibidik yakni mahasiswa. Mereka tidak melakukan cara konvensional, melainkan menggelar roadshow di beberapa kampus, diskusi bedah buku dan juga memanfaatkan milis-milis yang berkaitan dengan buku, novel dan sastra macam pasarbuku, de el el.

    Marketing dan promoting gerilya macam ini terbukti sangat efektif.

    Buku-buku bertema ateisme, saya rasa, akan laris. Kendati tidak akan semanis novel-novel ayat-ayatan atau lainnya. Karena pasarnya sangat spesifik (dan mahasiswa filsafat bisa jadi sebagai captive market-nya). Buktinya The Alchemist Paulo Coelho mengalami beberapa kali cetak ulang, juga buku-buku Gabriel Garcia Marquez yang hanya diketahui kalangan elit pecinta buku….

  12. Mbak Hilda,

    Iya, di Kemang lebih bagus. Dee memang promosinya gila-gilaan, tapi Andrea Hirata (Laskar Pelangi) dan Habiburrahman (Ayat-ayat Cinta) bisa merebut pasar secara natural. Bisnis buku memang tidak bisa ditebak. Menurut saya biar dikemas bagaimanapun, ateisme sulit bisa laku di Indoneisa. Meskipun, saya berharap buku itu bisa beredar luas.

  13. Mas

    ‘Atmosfer’nya sudah beda…. ada ekspektasi yang meluap dari para generasi muda pemikir atau yang terbiasa berpikir dalam mengolah informasi…. jadi, kendati cuma dijual via media nonkonvensional, menurut saya buku-buku bertema ateisme bakal laku (banyak yang beli)….

    Saya aja sampai hari ini masih mencari buku-bukunya Achdiat, Aidit, dan Njoto (lokal) yang menurut dosen saya merupakan masterpiece karya sastra (?) generasi politik 1960-an….

  14. Atmosfernya beda yah? Wah mungkin aja sih. Tapi saya tidak seoptimis itu. Saya lihat memang ada anak muda yang berpikir sangat kritis, termasuk Mbak Hilda, tapi jumlahnya belum seberapa saya kira.

    Saya kehilangan mood membaca sastra Indonesia. Terakhir baca Pram dan Sitor Situmorang, setelah itu sudah. Masih nyari? Bukannya banyak di Jogja?

  15. harus ke Jogja? saya masih nyari di Senen dan Kwitang, tapi blom nemu…. selama ini saya pinjem ke Perpus Nasional Salemba…

    tulisan yang masuk kategori sastra (sastrawi) saat ini menurut saya sih belom ada, even punya Ayu Utami….apalagi yang sekelas dengan Nawaal El Saadawi… eh salah ya itu novelis luar…

  16. Yo wis gak usah ke jogja. Sapa juga yang nyuruh. 😀 Tapi Senen dan Kwitang bukan surga buku lagi menurutku. Kebanyakan preman danm buku bajakan di sana. Perpus sih the only way.

  17. setelah saya melakukan penelitian yang akan selesai akhir oktober ini, ternyata, tidak semua kaum ateis di indonesia ini adalah komunisme, marxisme, atau leninisme..

    Namun, lebih ke Darwinisme, Dawkinisme, atau Harisisme….

    Karena ateisme sekarangt cenderung tidak membentuk atau masuk dalam sebuah gerakan ateisme seperti dahulu yang berselimut gerakan komunis atau marxis…

    Saya sendiri ateis.. namun non-komunis, non marxis,.. Karena bila ateisme ada di dalam komunisme atau marxisme maka ateisme akan menjadi paham atau ajaran, yang akhirnya akan menjadi religius modern, yakni kepercayaan atau agama tanpa Tuhan…

    Demikian..

    terimakasih…

    Salam ateis

  18. @adit
    Penelitian apa nih, penelitian kecil-kecilan, apa penelitian beneran? Boleh dong liat hasilnya? Saya memang menduga kalo ada komunitas ateis maka mereka adalah ateis Darwinis, Dawkinis dan beberapa mungkin para mahasiswa yang membaca eksistensialisme. Yang saya maksud di post itu bahwa ateisme itu identik dengan komunisme bagi mayoritas orang Indonesia. Kenyataanya mungkin selaras dengan apa yang Anda temukan. Iya betul, itu kata Feurbach, ateisme akan menjadi agama masa depan.

    Anda ateis yah. Selamat menjalani hidup tanpa gagasan Tuhan kalau begitu. Saya bukan ateis. Anyway, terima kasih komentarnya yang informatif.

    Salam

  19. Alhamdulillah, saya juga ateis.

  20. @Dan
    .
    Alhamdullillah, ada seorang ateis yang berkunjung ke blog ini. 😀

  21. ngomong2 roh itu ada gak sih…………

  22. Judul bukunya reaktif ya? Cocok dengan masyarakat USA setelah “nine eleven”, yang memiliki tanda tanya besar. “Salah apa kita,,, kenapa kita dibenci dan diserang”. Lalu dimunculkan propaganda kambing hitam menjadi menu santap malam di meja makan keluarga mereka, yaitu “islam-phobia”.
    .
    Tuhannya islam dan aturan-aturannya membuat pusing keliling akibat inisiasi dogma dari gereja. Tidak membikin nyaman. Lalu… bukankah cukup dengan humanisme semua hidup lebih sejahtera untuk kita? (sebelum krisis finansial amrik). Jadi..Goodbye GOD.
    .
    Setelah krisis,,, semakin terbukti. GOD tak berpengaruh pada kapitalism dan liberalism ekonomi. Yang berpengaruh adalah minyak dan sistem baru bernama ekonomi syariah yang di coba in oleh eropa. Tapi tidak untuk amrik. Tapi kenapa minyak dan syariah banyak dikuasai negara arab (nota bene islam). So… atas nama selamatkan perekonomian dunia dan demokrasi,,, maka,,, WAR III ???
    .
    Ah… bikin buku The economic delusion.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: