Pentingnya Penyegaran Pemahaman Islam

June 3, 2008 at 4:32 am | Posted in agama | 17 Comments

Sebenarnya saya sudah malas membahas masalah ini, tetapi mengapa tidak pernah ada kata akhir bagi kekerasan atas nama agama, apalagi Islam? Mengapa agama yang namanya berasal dari kata kerja yang berkonotasi pasif, yakni “pasrah” atau “menyerah” itu bisa identik dengan kekerasan?

Ini semua, IMHO, karena jalan pikiran sekelompok pengikut agama sudah diracuni oleh berbagai elemen pemicu kekerasan. Kekerasan tidak muncul begitu saja; ada alasan, ada sesuatu yang memicu kita untuk melakukan kekerasan. Tentara, misalnya, bisa membunuh ribuan orang atas nama kedaulatan negara. Patriotisme, dalam hal ini, menjadi pemicunya. Seorang guru juga tenang-tenang saja, malah merasa melakukan perbuatan mulia, ketika menghukum siswanya yang bandel atas nama pendidikan. Pedagogi, dalam hal ini ironisnya, menjadi pemicu kekerasan.

Agama adalah pemicu kekerasan nomer satu. Karena orang biasanya lebih fanatik pada agama ketimbang negara (satu-satunya yang bisa ngalahin fanatisme agama, mungkin hanya sepak bola!). Islam, karena alasan-alasan historis, adalah agama yang paling produktif dalam melahirkan pribadi-pribadi — baik yang “ignorant” maupun yang “intellectualized” — yang gemar melakukan kekerasan saat ini.

Kekerasan dalam agama Yahudi muncul setelah Zioisme lahir sebagai kekuatan politik paska-Perang Dunia ke-2. Sebelumnya mereka lebih sering jadi korban kekerasan. Kekristenan sudah terlalu sering melakukan kekerasan dahulu kala ketika Gereja masih berzinah dengan entitas politik di Eropa. Ada satu saat, entah kapan, ketika ajaran kasih Yesus Kristus tiba-tiba mendominasi Kekristenan; yakni ketika Hukum Taurat diganti oleh sebuah frase yang sering diulang-ulang sahabat saya, “Cintailah Tuhan dan Cintailah Tetanggamu”. Oh, ya, Kata Yesus juga, “Kalo digampar pipi kanan, kasih pipi kiri.”

Meski demikian, Kekristenan masih bisa memicu kekerasan sampe sekarang, meski kadarnya tidak sebesar Islam, unless you count Bush’s War on Terror. Agama ini, Islam, memang bermasalah. Pertama, Islam, sebagai agama Ibrahimiah terakhir, merupakan perpaduan antara Yahudi dan Kristen. Islam mengadopsi Hukum Taurat, simbol kekerasan agama Ibrahim di mana pendosa bisa dikenakan hukum mati. Islam mengadopsi militansi penyebaran Kabar Gembira orang Kristen, yang dilakukan oleh Paulus dan murid-murid Yesus, di mana seorang yang sesat karena melakukan bid’ah bisa diancam hukuman mati. Dari sini saja sudah ada potensi kekerasan, yang cukup mengerikan.

Nah, masalahnya sekarang umat Islam tidak mau mengubah cara pandang mereka. Mereka seperti tidak mau perduli bahwa ajaran Islam masih diselimuti semangat totalitarianisme Yahweh pada Perjanjian Lama, sementara para da’i masih berpikir seperti pengikut Kristus pada masa awal penyebaran ajaran Kristen di Eropa dan Asia Tengah; setiap orang harus diselamatkan dari jalan yang sesat, dengan cara apapun, kalo perlu hukum gantung!

Oh, oke, mungkin sekarang sudah tidak ada lagi yang gantung-menggantung saat ini, tetapi penyerangan dan pengrusakan terhadap properti Ahmadiyah dan Al-Qiyadah (Ahmadiyah versi Indonesia), dan yang terakhir penyerangan yang dilakukan FPI pada aktifis pembela Pancasila itu bukti bahwa militansi khas Gereja Katolik kuno itu masih hidup dalam agama Islam.

Padahal…honestly, teks-teks keagamaan Islam itu jauh lebih “advanced” dari kedua agama sebelumnya. Ruang bagi penafsiran pluralistik dan toleransi itu jauh lebih luas dalam al-Qur’an ketimbang Tanakh Ibrani dan Perjanjian Baru. Saya tidak ingin berapologi bahwa orangnya yang salah, bukan ajarannya. Bukan begitu, menurut saya, ajaran Islam yang dianut oleh Muslim pelaku kekerasan itu adalah ajaran Islam yang salah. Lebih jauh, menurut saya, mayoritas Umat Islam saat ini juga menganut ajaran Islam yang salah bila mereka masih menggunakan istilah “lakum dinukum waliyadin” kepada Ahlul Kitab, apalagi berbagai denominasi yang ada dalam tradisi Islam, yang sebenarnya tidak lebih dari refleksi Islam dalam berbagai kebudayaan.

The bottom line is; change the way you perceive your religion if you’re a Muslim!! You must rejuvenate your understanding about the Qur’an, Muhammad and, of course, God.

Kalo upaya penyegaran pemahaman Islam berhenti, maka Kekerasan yang asalnya dari abad pertengahan itu akan terus muncul atas nama Islam, yang ironisnya pernah membantu Eropa, meski gak terlalu banyak, keluar dari Zaman Kegelapan kepada Masa Pencerahan. Harus ada upaya untuk mengikis fundamentalisme dalam diri kita sendiri.

Setelah Caknur wafat, pembaruan pemikiran Islam Indonesia hampir mati suri. Setelah Ulil sekolah ke Amerika, suara-suara Muslim progresif semakin melemah. Muslim moderat di kantong-kantong NU dan Muhammadiyah malah sibuk berpolitik. Mungkin sekarang saatnya para blogger Muslim (yang murtad ke agnostikisme seperti mas ini juga beloh bantu) — yang saya lihat banyak yang kritis, terbuka dan progresif — menyerukan pentingnya pembaruan pemikiran Islam, yang melampaui Caknur, melampaui Ulil kalo perlu. Biar Islam bisa dipahami lebih dari sekedar solat, jilbab, puasa, akhi, ukhti, Fachri dan tetek bengek lainnya!!

Advertisements

17 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. AKK-BB-nya udah bubar Mas, digebukin FPI, kacian banget…..!!!

  2. iya iya…

  3. Entahlah… Sebenarnya sepertinya pemahaman mereka aja yang berlebihan.

    nggak bijaksana dalam mengambil keputusan dan tindakan.

    Seandainya Rasulullah tahu umatnya kayak gini dalam menjalankan ajarannya, pasti beliau sedih 😐

    Islam agama rahmatullil alamin…

    Mungkin ini semua cobaan. atau hukuman.
    tunggu aja ‘teguran’ dari Tuhan kalo mereka begitu terus..

    BTW, secara detail ada beberapa yang agak menggelitik untuk di kementari…

    tapi nantilah…
    saya pikirkan dulu baek-baek perlu enggak nya, 😛

  4. yah ini memang cobaan…

  5. yang murtad ke agnostikisme seperti mas ini juga beloh bantu

    Konon urusan seperti ini adalah urusan internal, lho. Orang luar jangan seenaknya ikut campur. 😛

    Dan BTW, bukankah pemikiran progresif tersebut adalah hasil konspirasi CIA dan Mossad? 😯 :mrgreen:

  6. Konon urusan seperti ini adalah urusan internal, lho. Orang luar jangan seenaknya ikut campur. 😛

    Hehehe

    Konon Al-Ghazali, orang yang berjasa mengukuhkan aliran Islam Sunny, teologi Asy’ari dan Mazhab Fiqh Imam Syafi’i di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, adalah orang yang cara berpikirnya dipengauruhi oleh silogisme Aristotelian. Jadi, orang luar, yakni pemikir-pemikir Yunani itu pernah ikut campur dalam mengukuhkan teologi Islam di sini! 😀 Tidak banyak yang tau kalo Ibnu Taymiyah mengkritik Al-Ghozali karena menyerang filsafat dengan filsafat. Ah, belum lagi orang-orang Yahudi yang terlibat dalam madrasah-madrasah pada masa Abassiyah…

    Dan BTW, bukankah pemikiran progresif tersebut adalah hasil konspirasi CIA dan Mossad?

    Kenapa bukan BIN yah? Hehehe kalo BIN levelnya NII ama FPI kali? Hahahaha

  7. Rasanya itu tidak akan mengurangi sentimen orang-luar-harap-minggir itu, deh. Saya sendiri pernah diusir dari suatu diskusi yang membahas tentang fenomena liberalisme agama, gara-gara saya adalah orang luar. 😛

    Kenapa bukan BIN yah? Hehehe kalo BIN levelnya NII ama FPI kali? Hahahaha

    Kalau kata Pak Soeripto-nya PKS sih, FPI itu sudah levelnya Mossad. :mrgreen:

  8. Saya sendiri pernah diusir dari suatu diskusi yang membahas tentang fenomena liberalisme agama, gara-gara saya adalah orang luar.

    Saya sudah menyangka itu. Melihat postingan-postingan rosenqueencompany, saya yakin Anda pasti sudah melewati terlalu banyak pengalaman pahit saat berdialog dengan orang-orang yang beriman. Saya bukan orang yang melihat agama sebagai faktor pemisah, tapi anda sepertinya melihatnya begitu.

    It’s okay. 😀

  9. Menarik pembahasannya
    sependapat dengan sampean, bid’ah paling besar yang dilakukan umat Islam adalah Anarkis :mrgreen:
    *Sok berfatwa*

  10. @almirza

    Ah, kata itu, bid’ah, sudah lama saya tidak mendengarnya.

  11. Bagaimana caranya berdialog dengan orang-orang beriman itu?

  12. Mungkin dengan tidak menghakimi kali yah. Saya pikir saya juga sering menghakimi. Jadinya, orang tidak suka berdialog dengan saya.

  13. Kapan murtad, pak?
    Hehehe… (jangan binggung dengan pertanyaan saya)

    Yah, kalau bicara tentang FPI dan Ahmadiyah, mereka hanya berbeda saja, menurut saya itu intinya. Kalau Ahmadiyah berbeda dalam penafssiran ajaran islamnya, dan FPI berbeda dalam menafssirkan makna jihad. Jihad versi FPI adalah melawan (menghancurkan) yang berbeda. Hahaha..

    Dan sayangnya tidak ada celah untuk menghargai perbedaan.

    Ah..kadang berkeyakinan yang berlebihan itu mengerikan juga.
    berkeyakinan bahwa dia yang paling benar, itu maksdunya..

    Aku pikir jihad bukan lagi menjadi cara mengharap surga ALLAH, tetapi mulai menjadi simbol dari kesombogan, bahkan mereka mungkin saja masih takut mati dalam perang yang sesungguhnya.

    Jihad versi FPI, aneh ya..

    Salam

  14. Entahlah, saya sih gak pernah merasa benar-benar murtad. Lagipula, saya tidak begitu mengerti murtad itu artinya apa. Saya kira agama bukan parpol atau organisasi masa.

  15. waduh, maap,pak..
    saya asal nanya saja, ternyata anda orang yang ramah..

  16. It’s okay.

  17. “satu-satunya yang bisa ngalahin fanatisme agama, mungkin hanya sepak bola!”

    Sori mas dikritik kalimat yg diatas, bukannya dibeberapa negara kayak Argentina dan Brazil itu sepak bola adalah agama? Hehehe… gak nyambung yah sama konteks tulisan. Anggap aja penyegaran.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: