Tuhan Sebagai Gagasan Linguistik

March 23, 2008 at 6:15 am | Posted in tuhan | 5 Comments

Sejak awal para nabi memang tidak pernah berusaha membuktikan bahwa Tuhan itu Ada. Umat Musa yang ngeyel dan keras kepala itu sadar bahwa Tuhan itu Ada, begitu juga dengan umat Yesus dan Muhammad. Mereka diutus bukan untuk memberitahu pendeta Yahudi yang munafik dan kaum kafir Mekkah bahwa “Tuhan itu Ada”, mereka datang untuk menjelaskan “Apakah Tuhan Itu?” dan apa Kehendak-Nya terhadap umat manusia.

Tuhan dimengerti terlebih dahulu secara bahasa sebagai sebuah Gagasan, sebelum dialami secara indrawi sebagai Kekuatan Maha Dahsyat yang menggenapi kebuntuan hidup ini.

Sains mengatakan Tuhan tidak bisa dibuktikan. Tentu saja. Sains harus terlebih dahulu mengalami Tuhan secara indrawi sebelum ia bisa membahasakan Tuhan. Itu tidak mungkin. Sains tidak mengizinkan metafora dalam merepresentasikan realitas. Agama dan Sains berangkat dari titik tolak yang berbeda.

Semua kembali kepada kepercayaan masing-masing. Darimana anda memulai pencarian pengetahuan Anda, dari gagasan (idealisme) atau dari kenyataan (materialisme) dulu? Yang perlu diingat adalah Tuhan dipahami secara teologis sebagai Subyek, jadi untuk apa kita mencoba untuk membuktikannya secara Obyek-tif?

So, biarkanlah sains berkerja dengan caranya sendiri.

Jangan bawa-bawa Tuhan atau Anda akan dipaksa untuk membandingkannya dengan Teko Cina! Dan kalau Anda benar-benar sial, nasib Anda akan seperti perempuan ini.

 

Advertisements

5 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ntar deh komennya… Udah musti pulang neh…
    See Ya…

  2. Tuhan sebagai gagasan jelas tidak Indrawi :mrgreen:

  3. Mas, dah baca buku ” Pusaran Energi Ka’bah” Karya Agus Mustafa belum?

    saya tunggu tanggapannya. 🙂

  4. @snowie
    Belum, tapi pernah denger. Bagus yah?

  5. Iya….
    saya sarankan baca itu dulu untuk mempermudah diskusi kita.
    Ada hubungan dengan diskusi kita di t4nya sora yang bagian “sedikit ttg…” itu loh.
    terutama bagian Sains vs teologinya.

    Waktu saya baca buku itu, saya banyak mendapat pencerahan. bahkan menjawab “God of the gaps” lho…
    saya pikir cukup merepresentasikan apa yang ingin saya jelaskan. malah jauh lebih baik lagi.

    saya lagi bad mood sama sora kalo mengingat bagian yang itu, jadi masih males ngelanjutin diskusi dsana.

    Saya tunggu lho, kelanjutannya….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: