Apakah Anda Akan Mengatakan Kepada Orang Tua Anda Bahwa Anda Ateis?

March 12, 2008 at 3:37 am | Posted in Uncategorized | 7 Comments

“Ibu, Aku Tidak Percaya Tuhan”

Akhirnya dikatakan juga oleh sahabatku apa yang ada di pikirannya. Setelah sekian lama berbohong kepada kedua orang tua yang dicintainya, terutama sang ibu, bahwa dia masih “beriman kepada Allah, beragama Islam dan sholat lima waktu,” akhirnya ia mengaku juga: meluluhlantahkan segala harap yang dimiliki seorang ibu kepada anaknya. .

Itu titik nadir. Ia tak sanggup lagi berbohong.

Entah karena ia perempuan atau memang perasa, ia selalu menangis kalau curhat soal itu. Padahal, orangnya sangat percaya diri bila diskusi teologi. “Setelah mati yah kosong aja, seperti tidak pernah ada gue aja sebelum gue lahir. Kosong,” begitu katanya.

Dia tidak sendiri. Paham ateis dan ateisme setengah hati (agnostisisme) sudah begitu lumrah sekarang. Jika anda jalan-jalan sebentar di blogosphere, anda akan menemukan blogger yang entah mengaku ateis, agnostik atau, paling tidak, bersikap sinis terhadap agama. Yah, paling mentok menghujat FPI dan kemudian mengumpat, “ini semua karena agama biang pemisah dan pemicu peperangan!”

Saya tidak ingin membahas logika dibalik keputusan seseorang menjadi ateis atau agnostik. Ini bukan teologi, ini masalah sosial. Lebih jauh, ini soal psikologi: Apakah seorang ateis muda Indonesia, yang sudah tercerahkan oleh jiwa zaman dan mengamini kebebasan ala MTV, bisa secara terbuka mengakui keyakinan teologisnya?

Kawan saya di atas memang hanya satu dari sekian banyak kawan yang tidak lagi percaya pada agama, jadi ateis. Tetapi sepengetahuan saya, hanya dia yang mengakuinya secara terbuka, dan dalam kepahitan, kepada ibunya.

“Nyokap gue bilang, dia kayak kehilangan anak,” katanya mengadu. Air matanya meleleh. Saya jadi canggung, bingung mau ngomong apa. “Lo yakin gak percaya sama Tuhan?” kata saya sekenanya, yang saya tahu tidak akan dijawabnya. “Hubungan gue sama mereka bakal tetep sama gak yah?”

Sebagai perempuan mandiri, kawanku itu sekarang menjalin hubungan asmara (maaf, istilahnya Wartakota banget) dengan orang Australia yang secara kultural merayakan Natal tapi secara teologis “strong atheist.” Panataslah ibunya pusing.

Di ujung curhat dadakan itu, kawanku bilang dia mau memperbaiki keadaan. “Gue masih terbuka, kok,” katanya, mengisyaratkan keinginannya untuk “beriman kepada Allah, beragama Islam dan sholat” lagi. Entah apa yang ada di benaknya saat itu.

Dalam kegetiran malam, saya membayangkan ia menangis, bertanya-tanya apakah ia masih bisa bertemu ibunya nanti, sungkem memohonkan maaf di kehidupan sesudah mati, yang ironisnya dia pikir tidak lebih dari kekosongan belaka.

Selalu ada alasan untuk percaya, dan alasan itu tidak harus selalu masuk akal.

 

 

 

 

Advertisements

7 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. selain materialisme, neurosains, dan biologi evolusioner,, apalagi yang bisa buat orang berani (sambil nangis) bilang sama ibunya,,’aku atheist’??
    aneh, aneh, apakah atheisme perlu diakui?

  2. maaf, gue cuma mau tanya…
    ini kisah beneren ada?
    teman kau kah?

  3. maaf, gue cuma mau tanya…
    ini kisah beneren ada?
    teman kau kah?

    iya beneran. bukan temen, tapi sahabat dekat.

  4. tuhan adalah bagian dari teori “besar” agama
    dan teori jadi salah ketika realitas berkata lain 😀
    salam kenal

  5. @joyo
    salam kenal juga.

  6. Sebuah inside joke di kalangan pemikir bebas berbunyi tentang ‘cara memproklamirkan ateisme dengan benar pada orang tua’;

    Anak: “Ibu. Ayah. Saya ingin mengaku.”
    Orang tua: “Ada apakah?”
    Anak: “Saya gay.”
    Orang tua: *terperanjat, panik*
    Anak: “Hahaha. Jangan khawatir, saya cuma bercanda. Saya tidak gay. Cuma ateis.”

    Mungkin anekdot di atas lebih dimaksudkan sebagai black humor yang menyentil tabu-tabu dalam masyarakat, tapi bagaimanapun, anekdot ini sangat populer. 🙂

  7. Hahaha…sama ajalah di Indonesia mah, ngaku gay atau ateis. Ini problematik memang. Gak enak banget adu argumen sama orang tua.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: