Alkitab dan al-Qur’an, Keduanya “Bisa Saja” Tercemar

February 18, 2008 at 5:12 am | Posted in agama, teologi, tuhan | 42 Comments

Mereka yang mengaku sebagai pengemban risalah dakwah Islam biasa mengkritik Alkitab, kitab suci Ahli Kitab (umat Musa dan Yesus Kristus), sebagai kitab suci yang sudah dikotori oleh “tangan-tangan manusia.” Karena itu, demikian mereka berhujjah, Alkitab usang dan “tidak bisa lagi” dijadikan panduan menuju Kebenaran.

Benarkah? Sulit untuk mengakui bahwa setiap kata dalam Alkitab adalah “firman Allah yang tak berubah”. Alkitab adalah produk sejarah. Proses pembuatannya melibatkan banyak orang yang berbicara lebih dari satu bahasa, hidup dalam konteks sosio-politik yang berbeda, selama berabad-abad!

Kekhilafan manusia, secara teologis [Adam yang mulai!], psikologis maupun historis, memungkinkan terjadinya “penodaan” itu. Dan menurutku hal yang sama juga terjadi pada al-Qur’an, meski kadarnya jauh lebih sedikit [studi sejarah menemukan sejumlah deviasi meski sifatnya masih infinitesimal]. Tapi prosesnya sama: Al-Qur’an juga tidak kebal dari “tangan-tangan” manusia.

Baiklah, kita bahas satu per satu. Pertama, al-Qur’an bukan Allah, melainkan penggalan dari Kalam Allah. Al-Qur’an bukan satu-satunya Kalam Allah, karena al-Qur’an sendiri “membenarkan kitab-kitab sebelumnya”, yakni Taurat, Zabur dan Injil [lihat misalnya QS 5:48]. Lagipula, Kalam Allah tidak cukup ditulis dalam satu buku saja, yang bisa dijual di toko buku dan ternyata lebih tipis dari novel War and Peace-nya Tolstoy! Al-Qur’an sendiri yang bilang:

QS 31:27: And if all the trees on earth were pens and the ocean (were ink), with seven oceans behind it to add to its (supply), yet would not the words of Allah be exhausted (in the writing): for Allah is Exalted In power, full of wisdom. (Yusuf Ali)

 

Secara teologis, Kalam Allah yang tak terdefinisikan (lebih luas dari tujuh lautan!) itu berada bersama Allah, tak tercipta dalam keabadian-Nya. Dus, al-Qur’an sebagai Kalam Allah bersifat transenden: tak terjangkau di langit nun jauh di sana. Lalu, apakah al-Qur’an yang dibaca di masjid-masjid dan bahkan sudah dijadikan ringtone itu bisa disebut Kalam Allah?

 

Kita bisa belajar dari Mu’tazilah. Al-Qur’an, menurut nenek moyang Muslim liberal itu, adalah Kalam Allah yang terciptakan, yang berupa wahyu/inspirasi yang diturunkan kepada Muhammad melalui perantaraan Jibril dalam Bahasa Arab. Penggal-penggal Kalam Allah sudah diartikulasikan sebelumnya dalam bahasa Ibrani dan Aramia. Kalam Allah selalu diturunkan dalam bahasa/situasi wacana tertentu, yakni terbatas pada pengetahuan bahasa sang nabi dan umatnya.

Kalam Allah

Wacana Taurat, Injil, al-Qur’an

Kanonisasi, Kitab Suci “Yang Sah”

Tafsir

Sejarah Peradaban

Kehidupan Abadi

Pemahaman ini penting menurutku karena mengatakan al-Qur’an adalah Kalam Allah dalam keabadiannya memberi justifikasi teologis penganut Trinitas yang menganggap Yesus sebagai “Sabda yang tak tercipta dalam keabadian Allah.” Pemahaman itu hanya akan mengakibatkan kompleksitas teologis yang TIDAK PERLU dalam tradisi monoteisme.

Yesus (Injil) dan al-Qur’an (Muhammad) adalah medium/manisfestasi Kalam Allah: ujaran-ujaran yang terinspirasikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Keduanya sudah menjadi bagian dari sejarah dan dengan demikian bisa dikotori [hmm…mungkin bukan dikotori yah, tetapi dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada zaman tertentu] oleh “tangan-tangan manusia.” Yesus berbicara dalam bahasa Aramia, tetapi Injil/Gospel/Evangelion ditulis dalam Bahasa Yunani oleh banyak orang, konon termasuk si Pengkhianat Yudas. Al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab, konon dalam tujuh dialek (harf) dan memungkinkan berbagai pembacaan (qira’at). Umat Kristen memutuskan untuk mensahkan the Four True Version of the Gospel, dan umat Islam memutuskan untuk mengkodifikasi the One True Version of the Qur’an.

Al-Qur’an diwahyukan hanya dalam waktu dua dekade saja (bandingkan dengan Tanakh Ibrani yang berabad-abad!) dalam satu bahasa, kemungkinan korupsi sejarah tidak sebesar kitab pendahulunya. Upaya kodifikasi al-Qur’an bersifat terbuka dan hanya berselang beberapa tahun saja setelah kematian Muhammad, yakni pada masa Abu Bakar ketika umat Islam dianugrahi kekuatan militer dan politik yang luar biasa hebat (bandingkan dengan kehidupan nomaden bangsa Israel dalam ketertindasan).

Upaya kanonisasi diinisiasi oleh Khalifah Usman hanya berselang dua dekade setelah mangkatnya Rasul. Upaya tersebut bersifat terbuka dan obyektif, meskipun Amirul Mukminin kita yang lemah lembut itu sudah dirongrong polemik “siapa pengganti Nabi yang sah?” dan tuduhan nepotisme. Dalam sejarahnya, ada proses kreatif untuk meletakkan surat-surat yang panjang di depan, dan yang pendek di belakang. Ketika al-Qur’an tersebar, tanda baca vokal (fathah, kasroh, dhommah, sukun) diberikan. Bagi yang mempelajari tajwid, pastilah mengenal tanda-tanda baca dalam al-Qur’an. Padahal, siapapun tau, Bahasa Arab aslinya itu gundul. Lebih jauh, al-Qur’an diturunkan dalam bentuk tuturan, bukan tulisan seperti papan Sepuluh Perintah Tuhan Musa. Al-Qur’an dalam bahasa Arab bisa dibaca dan ditulis secara BERBEDA.

Katakanlah begini, mengutip wedulgembes:al-Qur’an yang bersifat historis, yang ditulis, dikodifikasi dan dikopi oleh “tangan-tangan manusia” itu tercemar sekitar 1 persen, sementara Alkitab tercemar 20 hingga 30 persen [no offense to Christians]. Nah, yang perlu dilakukan adalah mengejar yang 99 persen dari isi Mushaf al-Qur’an dan 70 persen dari isi Alkitab. Kedua kitab suci itu masih sah sebagai medium inspirasi Kalam Allah, tetapi keduanya bersifat imanen dan karenanya bisa saja tercemar secara tidak sengaja. [Pemahaman bahwa hanya al-Qur’an yang dijaga oleh “Kami” perlu ditafsir ulang, karena bila al-Qur’an dijaga, mengapa Allah tidak menjaga kitab-kitab sebelumnya?]

Saya sih memahaminya begitu sehingga ada dasar [alasan kuat] untuk tidak memahami al-Qur’an secara harfiah; dan ini yang sebaiknya dilakukan oleh umat beragama di manapun dan kapanpun. Tantangan kita adalah membaca kitab suci, Alkitab dan al-Qur’an, yang diturunkan dalam situasi wacana/episteme tertentu di masa silam, dalam terang Akal Budi dan Jiwa Zaman Kekinian: studi bahasa dan filsafat tentunya krusial dalam menghadapi tantangan itu.

Wallahu a’lam bi ash-shawwaab

Note: Tulisan di atas berdasarkan pembacaan saya atas Mohammed Arkoun dalam bukunya Berbagai Pembacaan Qur’an.

42 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Hmm ada kok pembahasan menarik seputar ini, sudah baca karya Mustafa Al Azhami tentang Sejarah Al Quran dan autentisitasnya?layak dibaca
    Pembuktian terjaganya Al Quran itu dari Al Quran sendiri, berapa banyak jenis Al Quran yang ada sekarang? ah itu cara yang sederhana kan
    Hmm mungkin Mas bisa saja mempersepsi saya berapologia, mungkin saja

  2. @Second

    ada linknya gak di internet ?

  3. Al Quran, surat Yunus:
    (37)

    Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya , tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.

    (38)

    Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.”

  4. @adi isa
    Saya tidak menentang firman Allah. Saya hanya menegaskan bahwa transmisi al-Qur’an dari langit ke bumi melalui Usman sampai Qur’an digital memungkinkan terjadinya perubahan, meskipun belum ada bukti bahwa telah terjadi perubahan signifikan.. Saya dulu pernah ikut lembaga tahfizul Qur’an, hanya satu atau tiga orang yang hapal 15 juz. Itu pun masih suka lupa. Apakah anda hapal 30 jus al-Qur’an? Bila saya memlintir ayat apakah anda tahu? Bila ada orang yang belum pernah membaca al-Qur’an terus aku bilang al-Kitab itu al-Qur’an apakah ia akan mengerti? Saya hanya ingin orang berhenti melukai orang lain dengan mengatasnamakan al-Qur’an dan Allah.

  5. @second
    Saya akan cari bukunya. Oh silahkan berapologi. Tidak dilarang.

    @wedul
    internet mulu. beli buku. pelit amat sih. 😀

  6. @Gentole

    nih gue ada tambahan siapa tahu bermanfaat!

    http://media.isnet.org/antar/Deedat/index.html

  7. @Gentole

    nih gue ada tambahan siapa tahu bermanfaat!

    ini ada tambahan yang bagus, baca disini ya !

    http://media.isnet.org/antar/Deedat/index.html

    klik the choice (sebelah sudut kanan), klik isi lengkap, kemudian pilih

    BAB 1-4-3: Al-Quran benar-benar Unik Pencatatannya

    tambahan lainnya Klik daftar diatas (ISLAM), pilih Quraish Shihab, pilih membumikan Al-Quran, pilih daftar di sebelah kanan, keotentikan Al-Quran. hehehe..ternyata udah ada disana.

  8. @gentole
    well, I try to respec for your opinion…..
    manusia boleh mengandai-ngandaikan(seperti yang mas contohkan)
    tapi, tuhan sudah lebih dulu tau, apa yang ada dihati….
    saya ingin anda membahas konsep ketuhanan yang hakiki…
    dan saya ingin meresponya, itu kalau boleh….
    saya tunggu ya..!!!
    thanks banget before

  9. @adi isa
    nanti yah. susah nyari waktunya, somehow.

  10. Saya hanya ingin orang berhenti melukai orang lain dengan mengatasnamakan al-Qur’an dan Allah. <=- Siapa yg berbuat demikian dan mengatakan dengan keras kepada penganut selain Islam, Sungguh itu tidak diperbolehkan bahkan Rosul berkata siapa yg melukai orang asing maka dia melukai Rosul dan siapa Melukai Rosul maka melukai Alloh. Konsepnya sudah jelas tidak usah lari – lari kepada kemurnian Al-Quran kalau yg dijadikan dasar adalah perkataan seseorang menganggap bahwa kitab lain tidak dijaga. Namun disini sebagai pribadi islam yg dipertanyakan kepada keimanannya tidaklah salah menganggap bahwa kitab selain Al-Quran adalah palsu dijaman sekarang ini, kitab seperti misalnya Injil, Taurat, Zabur adalah diragukan kebenarannya dimasa sekarang tidak ada yg salah, toh asal jangan meneriakan kepada telinga mereka yg mempercayai kebenaran kitab injil yg ada dimasa sekarang. Baca Surat Al- Kafirun!, jika anda mempercayai bahwa Injil yg sekarang adalah benar padahal isinya jelas banyak pertentangan dengan Al-Quran, padahal Al-Quran sendiri mengulas banyak tentang kitab – kitab sebelumnya beserta isinya. Seperti halnya dalam Al-Quran menerangkan Bahwa Nabi Isya Adalah Utusan Alloh dan mewahyukan kitab yg bernama Injil, hal itu juga tersirat dalam kitab injil, Namun pada kenyataannya kitab injil yg sekarang tetap saja menegaskan trinitas dan menganggap bahwa Isa adalah Yesus yg merupakan tuhan dan tuhan itu beranak, ( Maaf orang Kristen saya tidak bermaksud menentang kepercayaan anda karena bagimu agamu dan bagiku agamaku! saya hanya bermaksud menerangkan bagi kalangan islam sendiri), nah bagi siapapun orang Islam tidak salah berpikiran bahwa yg lain itu salah hanya saja saya tegaskan kita tidak berhak menyinggung dan mengatakan langsung kepada penganut agama lain bahwa mereka salah! kenapa??? karena kalau kita beriman kita musyrik dong!, jikalau kurang puas semoga tuhan memberikan petunjuk kepada kita. Jika masih ada pertnyaan kenapa Alloh tidak menjaga kitab yg lain, itulah kehendak Alloh Seperti Rosul pernah bertanya kepada Alloh kenapa pamannya tidak mau masuk Islam bahkan pada menjelang sakaratul maut rosul membujuknya tapi tetap pamannya tak mau bersyahdat, Rosul berkata ” Ya Alloh kenapa Engkau tak menjadikan beliau muslim padahal dia adalah Paman dari seorang Rosul “, Lalu Alloh berfirman ” Tidak lah kamu berkuasa mengislamkan seseorang, tugasmu hanya menyampaikan ajaran-Ku dan Alloh lah yang mampu memberikan hidayah kepada umatnya “.
    Wasalam.

  11. Bila saya memlintir ayat apakah anda tahu? Bila ada orang yang belum pernah membaca al-Qur’an terus aku bilang al-Kitab itu al-Qur’an apakah ia akan mengerti?, (mengejar yang 99 persen dari isi Mushaf al-Qur’an) 1% yg anda ragukan, jelas itu meragukan pula keimanan anda. Jika ya kenapa anda tidak membuat Al-Quran yg serupa lalu rubahlah beberapa persen dari isinya, bukan saya yg akan menemukannya tapi saya yakin Alloh yang akan menemukannya. Sedangkan jelas dalam Al-quran tidaklah beriman seseorang yang mematuhi sebagian Al-Quran dan mengingkari sebagiannya. Siapakah yang diragukan…Sungguh sangat jelas bahwa Al-Quran tidak memiliki cacat sedikitpun apalagi sampai 1% nol koma pun tidak ada! Benralah semua firman Alloh!.
    Wassalam Wr Wb.

  12. Sebuah artikel yang menarik dan berani. Bukan berarti saya setuju atau tidak dengan anda. Tapi tulisan anda memancing orang yang mau berpikir jernih untuk membuang prasangka dangkal.

  13. @wahdani
    yah silahkan berpendapat demikian.

    @berandal
    yah tapi sedikit yang mau berdiskusi mengenai hal ini. mungkin tidak menarik, susah, tidak relevan atau memang enggan karena terkait hal yang sangat fundamental.

  14. Menurut saya, tidak perlu berpantang mendiskusikan sesuatu yang bersifat fundamental. Sebab pada dasarnya diskusi itu adalah mencari kebenaran. Jika memang hasil diskusi itu dapat mendukung fundamental yang selama ini dipercaya, tentu saja ini berarti menambah kuat keyakinan terhadap fundamental tersebut, yang dalam hal ini berarti akan menambah keimanan kita terhadap fundamental tersebut.

  15. Tulisan menarik, dan sepertinya layak untuk diseminarkan bagi orang-orang yang berakal dan mencari kebenaran bukan dari satu sisi saja. Dan bukan untuk orang-orang yang konservatif/kolot. Sepertinya terlalu banyak kontroversi/perbedaan di Islam sendiri.
    Seperti hanya di dalam Syiah ada yang memasukan/ada yang tidak Surah Al-Ikhlas dan Surah Al-Falq ke dalam 114 Surah Al Qur’an mereka.
    Jika kita bisa melihat perbedaan perbedaan itu hendaknya kita kembali lagi inti ajaran Islam itu sendiri adalah “2 bentuk Penjanjian Kita dengan Tuhan/Allah” dalam yang tercantum dalam Shahadat, thus menjalankannya semua implikasi dari bentuk perjanjian kita. Pada akhirnya, bisa di bilang semua agama initinya adalah “sebuah kepercayaan” kita terhadap Tuhan/Allah.

  16. Mas, maaf kalo komen saya selanjutnya mungkin ada yang mengindikasikan ke tidak sopanan. Maklum, sulit untuk menahan diri bila sesuatu yang begitu kita yakini dan percayai ‘digugat’ 😉

    Baiklah, kita mulai…

    Tapi prosesnya sama: Al-Qur’an juga tidak kebal dari “tangan-tangan” manusia.

    Secara eksplisit memang kelihatannya begitu. Tapi saya percaya perkataan Allah itu benar. Allah-lah yang menguasai manusia. Hati dan Fikirannya. Menggerakkan hati untuk bersikap baik, menyegarkan fikiran untuk mengingat dengan jelas ‘isi’ Al-Qur’an. IMHO Kalo ada manusia yang berusaha merubah isi Al-Quran, saya yakin Allah SWT melalui manusia yang dipilihnya akan mengetahui perubahan itu, sehingga kembali dikembalikan ke ‘asli’nya. Itu yang dimaksud dengan dijaga oleh Allah.

    Pertama, al-Qur’an bukan Allah…

    Al-Qur’an memang bukan Allah. Tapi Al-Qur’an diberikan kepada manusia agar manusia itu berprilaku sesuai dengan kehendak Allah –Santun, bermoral, adil dsb (mencakup seluruh aspek kehidupan: sosial, politik, muamalah dsb agar tidak seperti hewan secara manusia diciptakan berakal), dan menyembah-Nya. Sebenarnya perbedaan mendasar antara semua agama samawi khan terletak pada Tuhan yang disembah. Mengenai nama Para nabi itu hanya masalah dialek dan bahasa. Cuma yan berbeda adalah mereka tidak mengakui nabi setelah Nabi yang datang pada mereka.

    Kalam Allah yang tak terdefinisikan (lebih luas dari tujuh lautan!)

    Kalam secara letterlat berarti perkataan. So, kalam Allah berarti “perkataan Allah” -> AFAIK perkataan Allah Ada 2. Yang ingin saya bahas adalah Perkataan yang berbentuk ‘ayat Al-Qur’an’. Dan Ayat Al-Qur’an itu disampaikan kepada rasul Muhammad SAW. Itulah yang merupakan petunjuk untuk ‘hidup’ dan menyembah Allah.

    [Pemahaman bahwa hanya al-Qur’an yang dijaga oleh “Kami” perlu ditafsir ulang, karena bila al-Qur’an dijaga, mengapa Allah tidak menjaga kitab-kitab sebelumnya?]

    IMHO, Al-Qur’an adalah Kitab terakir yang menyempurnakan Kitab-kitab sebelumnya. Artinya seperti Undang-undang, apa bila Undang-undang yang baru telah di sahkan, maka undang-undang yang lama sudah tidak dapat dipakailagi atau tidak diperlukan lagi. So, buat apa repot-repot menjaga yang sudah tak terpakai.

    Menambahkan dari yang mas jabarkan:
    Mengkaji soal ‘pergeseran’ informasi yang ada di Alkitab sebelum Al-Quran, sepanjang pengetahuan saya itu karena adanya penyembunyian kenyataan.
    Maksudnya begini, pada Injil disebutkan bahwa akan datang Rasul terakhir bernama Muhammad. Rasul terakhir lahir dengan tanda-tanda tertentu. Tapi, ternyata ada beberapa ahli kitab yang dengki dan tidak mau menyebarkan berita itu. malah demi kepentingan pribadi menyembunyikan berita itu dan ingin memperoleh ‘keuntungan’ darinya. Begitu….

    Senada dengan yang sudah mas katakan, AFAIK, Semua nabi itu, selalu mengatakan bahwa Tuhanmu adalah Allah. Tak perduli jenis kitab dan Umatnya. SELALU, Allah adalah Tuhan yang harus disembah. Mengenai kenapa para umat terdahulu itu menyembah berhala, dan Nasrani mengakui Isa sebagai Tuhan, saya rasa mas udah tahu soal itu. Semua cerita itu saya dapat dari membaca terjemahan Al-Qur’an.

    Kalo, mengenai Isa itu, ada yang aneh dalam pen-Tuhanannya. Kita semua tahu, Isa putra maryam itu, pada awalnya juga tidak diterima Oleh umat yang diserunya. Bahkan sampai dikejar-kejar untuk di bunuh. Diakhir cerita, versi Al-Qur’an Isa ‘diangkat’ oleh Allah ke kehadiratnya. dan Ia digantikan oleh seseorang yang dianggap sebagai dirinya untuk disalib. Logikanya, kalo Isa itu benar Tuhan, lalu kenapa Tuhan bisa di bunuh oleh manusia?
    yang kita tahu, dan saya yakin semua orang pasti setuju, bahwa Tuhan itu musti sesuatu yang Maha, dan Pencipta. lalu mengapa Tuhan yang menciptakan manusia harus takut dibunuh oleh yang diciptakannya.

    Analogy: Seorang programer mustahil bisa diakali oleh program ciptaannya sendiri khan? Atau seorang pembuat virus, nggak mungkin membiarkan virus ciptaannya menghancurkan komputer/programnya sendiri.
    So, What? :mrgreen:

  17. @snowie
    Bukankah Al-Qur’an membenarkan kitab2 sebelumnya? Dan bila ada agamawan yang mengubah ayat-ayat Allah dalam Alkitab, bukankah Moshadeq dan Ahmadiyah juga bisa melakukan itu terhadap al-Qur’an? Pengikut mereka masih banyak kok. Secara iman, pandangan anda sah, tetapi secara rasional belum tentu. Saya masih membuka diri terhadap berbagai kemungkinan pengetahuan keagamaan. Satu-satunya iman yang tidak saya pikirkan lagi adalah kepercayaan bahwa Tuhan itu Esa.

  18. Secara iman, pandangan anda sah, tetapi secara rasional belum tentu

    Bukannya mau membantah tetapi cuma memperjelas, konsep rasional sepertu apa yang dirumuskn dalam diskusi masalah ini? 🙂

  19. Dengan senang hati catatan yg saya buat telah diperhatikan, dengan demikian BdSnowie lebih tahu jelasnya, bahwa Al- Quran memang tidak lepas kepada pemalsu namun akan dikembalikan lagi kepada aslinya yakni yg palsu dapat diketahui itupun bagi orang² yang sudah diberi hidayah oleh Alloh.

    Silahkan saling memberikan ilmu namun perlu diingat kita sebagai manusia hanya mampu menyampaikan pesan, tak ada seorangpun yg mampu memberikan orang lain mendapat hidayah kecuali Alloh SWT, keimanan bukan datang dari bibir sipintar, sikaya, atau rosul sekalipun.

    Semoga Alloh memberikan hidayah serta taufiknya kepada kita semua, sekeras keras nya batu bisa kita pecahkan, dan selunak- lunaknya air tidak bisa dipecahkan munkin itu pribahasa si awam.

    Wassalam Wr Wb.

  20. @second
    Maksudnya rasionalitas sebagai logika. Menurut saya tidak koheren pandangan yang mengatakan al-Qur’an dijaga, sementara Taurat dan Injil tidak. Ajaran Yesus bisa dirusak, ajaran Muhammad juga, buktinya ada Lia Eden, Salafy gendeng, Osama bin Laden, JIL. Kebetulan saja mereka bukan mainstream. Gitu maksudnya.

    @wahyu
    Memang hanya Allah.

  21. Menurut saya, sebiknya kita bedakan dulu antara wahyu yang turun dari Allah lewat perantara Mailaikat Jibril dan Al Qur’an yang dibukukan (dikitabkan). Jadi Wahyu yang diturunkan langsung dari malaikat jibril bukanlah mahluk sedangkan wahyu yang dibukukan (dikitabkan) adalah mahluk tuhan, Jadi “bisa saja” tercemar, hancur, musnah. Bukankah semua mahluk tuhan itu pasti hancur….? Tetapi Wahyu tidak (itu yang di jaga oleh Allah). Buktinya dulu teks Al-Qur’an tidak mempunya tanda baca, maka sekarang ada tanda baca. Ini menunjukan adanya campur tangan manusia dalam merekontruksi Al-Qur’an. Malah yang terbaru di di India terdapat perbedaan warna untuk tadjwidnya.

    Seperti halnya kelompok Fakir 69 dari Mesir yang meneliti tentang 2 ayat terakhir dari Surah At-Taubah, Di lihat dari sejarah pengkodifikasian Al-Qur’an 2 ayat ini adalah lemah karena berdasarkan 1 orang saja, tetapi Said bin Sabit tetap memasukankannya dalam pengkodifikasian.

  22. Aku bersaksi bahwa tida tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

  23. oGentole to SP

    Maksudnya rasionalitas sebagai logika. Menurut saya tidak koheren pandangan yang mengatakan al-Qur’an dijaga, sementara Taurat dan Injil tidak.

    Mas, khan udah di jelaskan sama Allah (lupa surat dan ayatnya) tentang keadaan itu. Nah, kenapa Al-Qur’an, Saya belum tahu jawabannya. Setidaknya itu kehendak Allah. Mungkin sudah begitu ‘plannya’ dari awal, bahwa Al-Quran adalah penyempurna…

    ajaran Muhammad juga, buktinya ada Lia Eden, Salafy gendeng, Osama bin Laden, JIL. Kebetulan saja mereka bukan mainstream. Gitu maksudnya.

    Iya.. tapi khan mereka nggak membuat Al-Quran berubah isinya dan diterima…
    BTW, saya nggak tahu soal ajaran itu. jadi nggak bisa komen banyak

  24. Menurut saya yang menarik adalah bagaimana statemen “Al-Quran tidak dapat diubah karena dijaga oleh Allah” itu terlalu berbasis logika sirkular. 🙂

    Maksudnya, bisa saja Al-Quran yang asli tidak mengandung kalimat tersebut, dan kemudian, ketiba diubah, sang pengubah menambahkan klaim tersebut.

  25. @wendi
    Iya begitu mas. Apa yang mas tulis versi pendek dari apa yang saya tulis di atas. Kita sepertinya sepaham.

    @Snowie
    Jadi firman Tuhan sebelumnya tidak sempurna? Ayooo mana ayatnya…

    @Kopral
    Kayaknya kalo udah menyangkut agama semuanya sirkular deh. Kalo menurut saya, perlu ada penafsiran ulang terhadap ayat itu.

  26. Coba baca bukunya “keseimabngan matematika dalam al-qur’an”, disitu dijelasakan mungkin bagaimana caranya Allah “mengenskripsi” al qur’an lebih canggih ketimbang blowfishnya+karberos+MD5 atau apapun namanya dengan sebuah bilangan prima.

    Buku itu layak dibaca bagaimana kagumnya saya menganai enskripsi dalam al qur’an, biar tidak mudah untuk di palsukan.

    Saya yakin Allah juga bertindak dengan caranya sendiri sebagaimana halnya defenisi “Keadilan Tuhan”.

    Mencoba menginterprestasikan kembali islam melalui pendekatan filsafat modernitas menurut saya bukan sebuah bid’ah. Karena agama sendiri adalah sebuah produk kebudayaan dari sebuah zaman.

  27. @Geddoe

    Menurut saya yang menarik adalah bagaimana statemen “Al-Quran tidak dapat diubah karena dijaga oleh Allah” itu terlalu berbasis logika sirkular. 🙂

    Maksudnya, bisa saja Al-Quran yang asli tidak mengandung kalimat tersebut, dan kemudian, ketiba diubah, sang pengubah menambahkan klaim tersebut.

    Waduh Mas Geddoe hipotesis itu menarik juga yah
    btw ngomong-ngomong apa logika sirkuler itu selalu salah ya
    mohon wejangannya

    @Gentole

    Maksudnya rasionalitas sebagai logika. Menurut saya tidak koheren pandangan yang mengatakan al-Qur’an dijaga, sementara Taurat dan Injil tidak. Ajaran Yesus bisa dirusak, ajaran Muhammad juga, buktinya ada Lia Eden, Salafy gendeng, Osama bin Laden, JIL. Kebetulan saja mereka bukan mainstream. Gitu maksudnya.

    Hmm saya agak kurang setuju kalau tidak koheren yang Mas maksud itu termasuk salah satu Rasionalitas sebagai logika
    Sesuatu bisa dirusak dan yang lain bisa juga tidak, tidak melanggar logika apapun :mrgreen:

  28. :: MR G

    “Al-Quran tidak dapat diubah karena dijaga oleh Allah” itu terlalu berbasis logika sirkular. 🙂

    Oh, terima kasih Mr G…. 😎
    tapi, Ini masalah Iman. Kalo nggak percaya juga nggak apa-apa 😛

    Maksudnya, bisa saja Al-Quran yang asli tidak mengandung kalimat tersebut, dan kemudian, ketiba diubah, sang pengubah menambahkan klaim tersebut.

    dan, kalo perubahan itu tidak ada yang mengetahui, dan tetap seperti itu sampai saat ini, maka itu kehandak Allah. TAPI, SAYA tidak percaya itu. Bahwa di dalam kitab yang saya punya sekarang adalah yang telah berubah 😛

    Mas Gentole

    Jadi firman Tuhan sebelumnya tidak sempurna? Ayooo mana ayatnya…

    Pulang, Nyari-nyari Al-Qur’an, dan cari Ayat Al-Quran yang bersesuaian
    *nggak jelas kapan balik laginya 😛 *

    PS. Mas Gentole, Udah baca belum buku yang saya rekomnedasikan itu?
    Ayolah… Itu menarik buat di diskusikan….
    Secara, saya juga sedang baca lho ^^

  29. @second
    iya yah anda benar juga. akhirnya memang jadi panjang. jadi sebenarnya kitab-kitab sebelum al-Qur’an memang tidak dimaksudkan sebagai pedoman? malah sebenarnya cobaan [sesuatu yang menyesatkan] bagi orang-orang yang beriman. tapi ada yang lucu sebenanrnya, kalo disebut kitab, taurat dan injil kan dikodifikasi sesudah Musa dan Yesus wafat, lalu kenapa al-Qur’an membenarkannya? ah, susah nih. apakah dan dimanakah kitab-kitab terdahulu yang dibenarkan al-Qur’an?

    @snowie
    belum ke gramedia. nanti aku cari.

  30. Saudara Gentole, Kesemua kitab kitab Allah yang sebelum nya masih ada di Taurat milik kaum Yahudi, dan juga masih ada di Injil milik kaum Nasrani. Cuma, kenyataan nya, kedua kitab Yahudi dan Nasrani tersebut telah di ubah SEBAHAGIAN Besar nya dari ucapan ucapan Allah oleh pendeta pendeta Yahudi yang tamak kan harta dunia. Mereka malahan seringkali mengengkari Nabi Nabi mereka dan berkeras kepala malahan ada Nabi Nabi Allah yang dari keturunan mereka juga telah di bunoh. Nabi Isa a.s. sendiri berbangsa Yahudi,tetapi mengapa Nabi Isa a.s. di khianati oleh mereka? Inikan pula Nabi Muhamad s.a.w. yang sama sekali dari keturunan bangsa yang lain.Baginda Rasulullah s.a.w. (Nabi muhamad ada lah dari keturunan Arab) Allah telah memberi amaran kepada pendeta pendeta Yahudi yang tidak jujur tersebut supaya mengkoreksi semula kitab kitab mereka seperti mana yang Allah sampaikan. Tetapi mereka tetap berkeras hati dan meneruskan perubahan kitab mereka dan ini berlanjutan sehingga ke anak cucu mereka dan juga sehingga sekarang ini juga. Apabila kemunculan Nabi Muhamad s.a.w. sebagai Nabi baru buat mereka, mereka enggan beriman kepada Nabi Muhamad s.a.w. Dengan itu, Allah telah melaknati mereka dan mengecap mereka sebagai kafir. Mereka sendiri telah berkata kepada Nabi Muhamad s.a.w. bahawa mereka tidak akan mengakui Al Quran sebagai kitab mereka, kerana mereka sendiri sudah mempunyai kitan sendiri yang telah mereka terima dari Nabi Musa a.s. ia itu Taurat. Tetapi, Nabi Muhamad s.a.w. telah membantahi mereka kerana Nabi s.a.w. sendiri telah mengetahui dari Allah bahawa kitab yang mereka punyai itu telah di ubah dan terlalu banyak terpesong. Mengenai kitab Injil pula, situasi nya sama seperti kitab Taurat malah lebih terok lagi perubahan nya. Ajaran yang di sampaikan oleh Baginda Nabi Isa a.s. adalah Islam, ia itu mengesakan hanya Allah sahaja, dan menyembah hanya Allah sahaja. Itu lah ajaran Nabi Nabi yang dahulu ia itu menyembah hanya untuk Allah. Nabi Isa a.s. tidak pernah mengakui dan berkata kepada pengikut pengikut baginda bahawa diri nya ada lah tuhan dan sebagai nya. Di dalam al quran, terlalu jelas Allah mengata kan bahawa Nabi Isa a.s. ada lah cuma Rasul pesuruh nya sahaja . Apabila ada ayat ayat yang bersangkut paut dengan Nabi Isa a.s. , terlebih dahulu Allah menyebut kan bahawa Isa putera Mariam, atau Isa bin Mariam. Persoalan saya sekarang, mengapa orang orang keristian dan Nasrani boleh mengatakan bahawa Nabi Isa a.s. itu Tuhan? Di mana kah kebenaran atau keaslian kitab injil buat penganut keristian? Ini cuma salah satu dari contoh yang terbesar akan perubahan kitab injil tersebut. Sebab itu lah Allah menghantar Nabi Muhamad s.a.w. untuk memperbetol kan kitab kitab yang telah tercemar tadi dengan menggantikan Al Quran. Dan Al quran ini sememang nya Allah menjaga nya dengan begitu baik sekali kerana Allah tidak akan menghantar mana mana nabi yang terbaharu sesudah Nabi Muhamad. Sehingga kini juga, Al quran belum ada satu persen pon yang tercemar, kerana ia nya di baca setiap hari oleh umat islam di dunia dan banyak yang menghafal nya terutama orang orang Arab kerana Quran ada lah dari bahasa mereka sendiri. Bukan itu sahaja, untuk menjamin akan keaslian al quran tadi, Allah sengaja memberikan ganjaran yang tidak ternilai buat pembaca nya, terutama bagi yang dapat menghafalinya supaya jika ada ayat ayat yang apabila kedengaran janggal bunyi nya dari al quran yang asli, akan segera di ketahui dan perang dunia ketiga pon akn meletus.

  31. Seperkara lagi yang ingin saya beritahu kepada semua pembaca sekalian, jika Allah Taala sudah berjanji akan menjaga dan memelihara sesuatu,Allah Taala tidak akan memungkiri nya. Cuba semua orang memerhatikan langit dan bumi! Allah Taala telah berjanji akan memelihara dan menjaga nya sehingga hari kiamat. Pernah kah kita semua melihat bahawa bumi yang kita duduki ini telah terpesong ka tempat lain? pernah kah kita melihat semua planet planet telah bertebaran ka tempat yang lain di tata suria? pernah kah kita melihat matahari terbit di bahagian barat? pernah kah kita melihat semua benda benda langit dengan tiba tiba sahaja jatoh menghentam bumi?Oleh kerana Allah yang telah menjaga dan memelihara itu semua, jadi, selama ini perkara perkara tersebut tidak akan berlaku.Siapa yang memusingkan semua planet planet tersebut yang begitu terator peredaran nya semenjak ia nya di cipta sehingga ke hari ini ?Kesemua nya ada lah dengan kehendak Allah Taala. Kesemua benda benda di langit dan di bumi hanya akan bertempiaran kemerata rata tempat dan akan terpesong dari tempat peredaran mereka hanya apabila tiba nya hari kiamat kerana itu lah yang Allah Taala janjikan di dalam Al Quran. Walaubagaimanapun, kaum kaum kafir buat masa ini pun telah begitu kuatir akan keadaan bumi yang semakin hari semakin panas dam membimbangi lika ada komet komet yang besar nya hampir sama dengan bumi akan jatoh menghentam bumi yang kita duduki ini. Mengapa hanya orang orang Barat sahaja yang begitu kuatir? Orang orang di Timortengah dan bangsa bangsa muslimin tidak mengambil pusing langsong akan perkara tersebut kerana mereka mempercayai Al Quran dan perkara tersebut tidak akan berlaku kerana Allah Taala tetap dengan janji nya akan memelihara bumi sehingga ka hari kiamat. Ini ada lah salah satu contoh bagaimana perjanjian yang Allah Taala berikan kepada hamba hamba nya. Dan, begitu juga dengan Al Quran Allah Taala berjanji akan memelihara dan menjaga Al Quran sebagaimana mula mula di turunkan kepada Nabi Muhamad s.a.w. sehingga ke hari ini dan juga sehingga ke hari kiamat.Sememang nya Al Quran itu di baca kan dengan berbagai ragam lagu dan taranum kerana itu lah yang di galakan oleh Allah Taala dan Nabi Muhamad s.a.w.,tetapi harakat dan tajwid nya tetap sama sepertimana yang di sampaikan oleh Malaikat Jibril a.s. kepada Nabi Muhamad s.a.w. Malaikat Jibril a.s. malahan bersama sama Nabi Muhamad s.a.w. ( Malaikat Jibril a.s. adalah sahabat Nabi Muhamad yang terdekat sekali ) memperbetolkan bacaan ayat ayat Allah Taala dan membantu Nabi menghafalkan nya setiap enam bulan sekali dan terutama di bulan Ramadzan. Jika begitu dan begini bunyi nya setiap ayat dengan harakat dan tajwid nya, begitu lah yang di tuliskan oleh sahabat sahabat Nabi s.a.w. semasa ketiadaan Nabi di dunia ini. Jadi, saya ingin mengingatkan semua hamba hamba Allah Taala supaya jangan syak wasangka dan buangkan sejauh jauh nya anggapan bahawa Al Quran kitab Islam telah tercemar atau terubah.Jika ada yang masih meragukan Al Quran, lebih baik bertobat kerana meragukan perjanjian Allah Taala yang akan memelihara kitab nya sehingga ke hari kianat. Sememang nya Allah Taala tidak pernah berjanji untuk memelihara kitab orang orang Yahudi (Israel) dan kitab Injil (Nasrani) walaupun kedua dua nya ada lah dari Allah Taala juga. Yang Allah Taala janjikan hanya Al Quran Al Kareem.Sebab itu, kaum kaum Keristian dan Yahudi jangan hendak bertikam lidah dengan orang orang Islam untuk membenarkan kitab masing masing. Kitab yang benar hanya lah Al Quran Al Kareem.Semoga mendapat panduan untuk semua kerana Nabi Muhamad s.a.w. ada berpesan supaya menyebarkan ajaran baginda walau di mana mana saja,walaupun hanya dengan sepotong ayat.

  32. […] membeli buku tsb. Sekalian memenuhi janji dan menyelesaikan diskusi yang terlantar dengan pihak-pihak tertentu. Dan TIDAK sedikitpun secara langsung memberikan keuntungan finansial buat saya. […]

  33. pendapat menarik gentole, saya setuju, saya sdh baca buku Dr Al A’zami. Mengenai injil sendiri baca “Salib di Bulan Sabit” karangan Paul F Dirk, cukup menarik bahwa injil (apokrif, banyak sekali mencapai 40 bh) yang tidak kanonik lebih mirip dengan al quran daripada injil resmi(4bh)yang sekarang. Saya pernah baca perjanjian lama(torah), tapi sangat berbeda dengan al qur’an, terasa sekali keusangan nya, tidak seperti al quran yang tetap menakjubkan dan mengherankan, betapa kitab yang sudah 1400 th isinya masih aktual bahkan sampai sekarang.

  34. @anama
    Kayaknya harus dibedakan antara pendekatan iman dan rasio terhadap kitab suci. Masing-masing kitab suci punya cirinya masing-masing.

  35. kalo menurut saya,Al-quran bener-bener asli dan steril dari tangan-tangan manusia
    kenapa,karena bila satu ayat dirubah (dikurangi atau ditambahi) maka bisa aja ayat tersebut bertentangan dengan ayat dari surat yang lain
    tapi gak ada tuh yang bertentangan,malah saling menguatkan antara satu ayat dengan ayat lain
    tapi kalo injil,(maaf) ada lebih dari 3 yang saya tahu ayat yang satu dengan yang lainnya saling bertentangan

  36. iyank
    Yo wis.

  37. @Gentole
    Saya masuk ke postingan ini karena diarahkan oleh mas Gentole pd saat kita bicara ttg hadits (OOT) pd postingan ttg novelis feminis.
    Terus terang saya sudah membayangkan sesuatu yang baru dan kuat shg mas Gentole menggugat keotentikan Al-Qur’an. Terus terang kecewa nih… :mrgreen:
    Karena:
    1. Mas Gentole tidak menunjukkan satu ayatpun yang layak digugat.
    2. Karena tidak ada satu pun dalil yang diajukan, jadi saya berasumsi mestinya mas Gentole menggunakan dalil terakhir yaitu dalil akal, tapi itu pun tidak saya temukan.

    Dari semua tulisan di atas yang bisa tangkap hanyalah:
    1. Mas Gentole bimbang bahwa ada suatu Kitab yang bisa terjaga (walaupun tidak bisa dibuktikan).
    2. Semua keraguan (baca: kebimbangan) mas Gentole hanyalah didasarkan prasangkaan saja.
    3. Mas Gentole lupa bahwa Al-Qur’an itu diperuntukkan bagi manusia shg sudah suatu keniscayaan akan ada “campur tangan” manusia disitu.
    4. Informasi tentang sejarah Al-Qur’an belum diketahui oleh mas Gentole secara mencukupi, misalnya; masalah 7 dialek, kodifikasi oleh Usman, sejarah tanda baca.
    5. Mas Gentole dengan lingkungannya yg terbatas kesulitan menemukan orang2 yg hapal AQ shg berasumsi (hampir) tidak ada yg hapal AQ 30 juz. 5.1 Sudah pernah dengar anak kecil bercakap2 dengan bahasa AQ?, bukan cuma hapal bhkn bisa menjawab banyak macam pertanyaan dg ayat2 (artinya dia bisa menghubungkan pertanyaan tersebut dg ayat2 AQ).
    5.2 Guru ngaji saya waktu saya kecil tanpa ikut baca AQ, beliau bisa mengkoreksi kesalahan baca saya.
    Jadi sangat banyak mereka yg hapal dan bisa mengkoreksi kesalahan2 sekecil apapun. “sh” dibaca “sy” saja bisa dikoreksi koq, gak usah terheran2.. :mrgreen:
    5.3 Saya pernah baca buku yg isinya kurang lebih menantang para pendeta Nasrani yang hapal 1 halaman saja dr Bible tanpa ada kesalahan, tidak ada yg bisa. Diamenganggap bhw bahasa AQ adalah bahasa yg khusus shg mmg mudah dihapalkan (silakan tidak percaya)… 😛
    6. Logika tentang ada yg dijaga dan ada yg tidak dijaga, tidaklah bertentangan dg logika (baca komentar SP).
    7. Saya menangkap bahwa mas Gentole tidak paham bagaimana Allah menjaga kmurnian AQ.
    8. Saya tidak tahu darimana 99% otentik utk AQ, dan 70 % utk Bible. Tolong tunjukkan yang 1% tersebut, kecuali lagi2 ini hanya prasangkaan mas Gentole.
    9. Saya menangkap bhw mas Gentole tidak bisa menerima bhw Tuhan lebih tahu dan lebih berkuasa dari manusia, shg hal2 yg “dirasa” uslit bagi mas Gentole maka berarti itu tidak mungkin terjadi..hehe.. mohon konfirmasinya.

    Wahhh dah kepanjangan nihh.., maaf ya kalau agak vulgar.(kalau mas SP sih sudah biasa).. :mrgreen:

    Wassalam

  38. Mas/Mbak/Mbah/Pakde Truthseeker

    Tidak apa, bebas kok di blog saya ini. 😀

    Mas Gentole tidak menunjukkan satu ayatpun yang layak digugat.

    Saya memang tidak hendak membuktikan secara empiris bahwa al-Qur’an itu sudah dikorupsi oleh sejarah. Yang saya paparkan adalah suatu pandangan bahwa al-Qur’an itu secara historis bisa saja dirubah. Pandangan bahwa al-Qur’an itu terjaga kan dilandasi oleh iman, bukan hasil penelitian empiris dan objektif. saya menggarisbawahi kemungkinan itu. Seperti yang saya katakan di atas, kanonisasi mushaf Usmani terjadi karena umat Islam khawatir akan terjadi penyimpangan. Ini tanda bahwa secara historis, al-Qur’an bisa aja berubah. Jadi, bukan pembuktian empiris, tetapi pemaparan filosofis saja. Anak kecil bisa saja saya bodohi dalam membaca surat alfatihah; pada saat itu, apabila tidak ada yang memberinya pengetahuan Qur’an, apakah Allah akan turun tangan? Ini skala kecil, dalam skala besar, tentu prosesnya lebih njelimet. Saya tentu tidak bisa membuktikan bahwa ayat-ayat dalam mushaf Usmani salah, tetapi saya menjadi lebih berhati-hati.

    2. Karena tidak ada satu pun dalil yang diajukan, jadi saya berasumsi mestinya mas Gentole menggunakan dalil terakhir yaitu dalil akal, tapi itu pun tidak saya temukan.

    Saya memang menggunakan logika. Mungkin Mas melewatkannya. Atau penyampaian saya yang buruk. Atau memang logika saya ngawur. Entahlah. Yang jelas itu argumentasi saya.

    Mas Gentole bimbang bahwa ada suatu Kitab yang bisa terjaga (walaupun tidak bisa dibuktikan).

    Iya betul. Sekali lagi, saya bisa melepas satu alif, dan anda belum tentu mengetahuinya, kecuali bila Anda merujuk pada teks kanon dan para hafiz. Pertanyaannya, apakah Anda bisa menjamin teks kanon dan para hafiz itu tidak bisa salah?

    Semua keraguan (baca: kebimbangan) mas Gentole hanyalah didasarkan prasangkaan saja.

    Ini memang persangkaan yang dihasilkan setelah lama berpikir. Tentu saya tidak mengklaim sebagai sangat benar.

    Informasi tentang sejarah Al-Qur’an belum diketahui oleh mas Gentole secara mencukupi, misalnya; masalah 7 dialek, kodifikasi oleh Usman, sejarah tanda baca.

    Yah saya kira saya perlu mengutarakannya secara lebih mendetil. Masalahnya ini tulisan terkait dengan sejarah Alkitab juga. Seberapa Anda tahu tentang apa yang tidak saya ketahui tentang sejarah al-Qur’an? Dan apa kaitannya dengan tulisan ini. Anda punya bukunya as-Suyuthi, Arkoun, Taufik Adnan Amal, Noldeke? Ah, saya kira banyak pengkajian terhadap al-Qur’an yang bisa kita akses kapan saja. Pemikiran saya ini hasil dari penelusuran itu dalam segala keterbatasannya.

    Mas Gentole dengan lingkungannya yg terbatas kesulitan menemukan orang2 yg hapal AQ shg berasumsi (hampir) tidak ada yg hapal AQ 30 juz. 5.1 Sudah pernah dengar anak kecil bercakap2 dengan bahasa AQ?, bukan cuma hapal bhkn bisa menjawab banyak macam pertanyaan dg ayat2 (artinya dia bisa menghubungkan pertanyaan tersebut dg ayat2 AQ).

    Saya dulu ikut lembaga tahfizul Qur’an. Saya juga punya kwan pesantren. Ada kawan dari LIPIA dan ada juga yang dari al-Azhar. Saya tahu betul ingatan manusia sangat terbatas. Yah, saya tahu para hufaz itu ada. Tapi saya ingatkan, adalah sifat manusia untuk lupa.

    Guru ngaji saya waktu saya kecil tanpa ikut baca AQ, beliau bisa mengkoreksi kesalahan baca saya.
    Jadi sangat banyak mereka yg hapal dan bisa mengkoreksi kesalahan2 sekecil apapun. “sh” dibaca “sy” saja bisa dikoreksi koq, gak usah terheran2.. :mrgreen:

    Saya tidak heran lagi sama yang kayak begitu. Masak al-Qur’an dikatakan terjaga hanya karena orang bisa menghapalnya? Kalo bisa dihapal, kenapa perlu kanonisasi? Apakah Muhammad memerintahkan pembukuan al-Qur’an? Inikan, seperti yang saya katakan, berangkat dari kekhawatiran. Lagipula, hingga saat ini tidak ada bukti empiris mushaf al-Qur’an pada abad pertama Hijriah, apalagi yang pra-kodifikasi Usman. Hadist2 tentang kodifikasi kan bukan suatu perkabaran yang tidak mutlak benar.

    Saya menangkap bahwa mas Gentole tidak paham bagaimana Allah menjaga kmurnian AQ.

    Lah, emang iya. :mrgreen:

    Logika tentang ada yg dijaga dan ada yg tidak dijaga, tidaklah bertentangan dg logika (baca komentar SP).

    Iya sepintas memang begitu. Tapi saya melihatnya dari perspektif keadilan Tuhan. Untuk apa para nabi diturunkan apabila ucapan mereka hanya untuk diplintir dan diubah-ubah? Itu kan bertentangan dengan asas keadilan Allah. Tapi yah ini diskusi panjang; yang jelas implikasinya luas terhadap pemahaman saya atas al-Qur’an.

    Saya tidak tahu darimana 99% otentik utk AQ, dan 70 % utk Bible. Tolong tunjukkan yang 1% tersebut, kecuali lagi2 ini hanya prasangkaan mas Gentole.

    Ini hanya misal. Kan saya katakan, “katakanlah begini…” Itu juga mengutip wedulgembes. Saya hanya mengandaikan. Yang penting approach-nya. Inti argumentasi saya kan, kemungkinan mushaf al-Qur’an berubah itu ada, bukan pernyataan bahwa al-Qur’an/mushaf Usmani “sudah” berubah.

    Saya menangkap bhw mas Gentole tidak bisa menerima bhw Tuhan lebih tahu dan lebih berkuasa dari manusia, shg hal2 yg “dirasa” uslit bagi mas Gentole maka berarti itu tidak mungkin terjadi..hehe.. mohon konfirmasinya.

    Ah, tidak juga. Yang mana dari tulisan itu yang menyiratkan paham seperti itu?

    Salam

  39. karena al-Qur’an sendiri “membenarkan kitab-kitab sebelumnya”, yakni Taurat, Zabur dan Injil
    .
    Menambahkan (mudah-mudahan tidak redundant), “membenarkan kitab-kitab sebelumnya” bukan berarti otomatis membenarkan isi kitab-kita tersebut pada saat ini.
    .
    dasar [alasan kuat] untuk tidak memahami al-Qur’an secara harfiah
    .
    Jadi ingat ada beberapa kitab suci tidak boleh diakses oleh rakyat jelata. Juga dulu Quran tidak boleh diterjemahkan.
    Mungkin untuk menghindari kasus ini ya ? (penafsiran kitab suci dilakukan oleh yang tidak paham metodologinya, atau oleh orang yang bodoh).
    .
    l-Qur’an dalam bahasa Arab bisa dibaca dan ditulis secara BERBEDA.
    .
    Karena itu ada usaha standarisasi Quran, pada masa khalifah Utsman tsb.
    .
    Pada masa sahabat ada banyak logat dan tulisan itu tidak masalah, karena pemahaman mereka terhadap Quran tetap bisa seragam.
    Namun sejalan dengan berkembangnya jumlah umat, berkurangnya jumlah sahabat yang memahami & hafal Quran, maka disadari perlu ada standarisasi untuk mencegah kemungkinan kekeliruan pemahaman Quran di masa depan.
    .
    Maka dilaksanakanlah program standarisasi Quran itu, dengan diawasi juga oleh segenap masyarakat yang ada. Bukan apa-apa, ini memang proyek besar. Dan sangat serius – panitia kerja tidak segan-segan untuk memusnahkan mushaf yang berbeda dengan standar yang ada.
    .
    Setelah standarisasi, maka ada cara yang seragam untuk membaca & memahami Quran.
    Itupun masih tetap tidak terlalu sederhana – siapa saja yang pernah mempelajari nahwu & sharaf pasti akan bersaksi demikian. Dan padahal menafsirkan Quran masih perlu wawasan2 lainnya juga – tarikh, asbabun nuzul, hadits, dst.
    .
    Bayangkan jika segala variasi dialek & tulisan yang dulu itu masih ada 😀 chaos deh, he he

  40. @Gentole

    Tidak apa, bebas kok di blog saya ini. 😀

    Terima kasih.

    Yang saya paparkan adalah suatu pandangan bahwa al-Qur’an itu secara historis bisa saja dirubah.

    Sangat bisa dan sangat rentan bahkan. Karena sangat bisa diubah makanya harus dijaga (bagaimana menjaganya, kita bahas nanti). Mas Gentole harus membedakan bisa diubah dan sudah berubah. Saya tidak pernah menolak bhw AQ punya potensi utk diubah (walaupun saya jg percaya, bhw jika ada yg mengubah dipastikan akan ketahuan).

    Pandangan bahwa al-Qur’an itu terjaga kan dilandasi oleh iman, bukan hasil penelitian empiris dan objektif.

    Mas Gentole, hidup beragama itu sudah pasti tdk terlepas dari IMAN, memang itu koq salah satu proses kita. Tapi harap mas bedakan antara IMAN dan DOKTRIN. Setiap manusia ada yg masih dalam kelompok pemegang doktrin namun tidak sedikit yg sdh masuk ke ranah IMAN.

    Anak kecil bisa saja saya bodohi dalam membaca surat alfatihah; pada saat itu, apabila tidak ada yang memberinya pengetahuan Qur’an, apakah Allah akan turun tangan? Ini skala kecil, dalam skala besar, tentu prosesnya lebih njelimet.

    Dari contoh ini saya bisa menangkap bhw pengertian mas Gentole ttg bhw AQ itu terjaga, sangat berbeda dg saya. Mas Gentole, setiap hari setiap saat ada saja orang yg salah dalam membaca AQ (termasuk saya). Itu bukan berarti bahwa AQ tidak terjaga khan.. 🙂

    Saya tentu tidak bisa membuktikan bahwa ayat-ayat dalam mushaf Usmani salah, tetapi saya menjadi lebih berhati-hati.

    Kata2 ini sangat penting, tp sayang tdk dijelaskan konsekuensinya. Krn jika tdk ada penjelasan maka saya akan tetap beranggapan bhw:
    Mas Gentole dalam kebimbangan, sehingga berprasangka bhw AQ yg ada tidak terjaga.

    Saya memang menggunakan logika. Mungkin Mas melewatkannya.

    Mudah2an saya tidak melewatkannya (kalau mmg dirasa spt itu tolong mas utarakan lagi). Ada satu logika yg saya tangkap (dan itu saya bisa terima) yaitu:
    bahwa AQ berpotensi untuk diubah oleh manusia. Hanya saja saya membedakan berpotensi diubah dengan sudah diubah ataupun tidak terjaga. Nahh hujjah logika yg saya minta adalah, apa hujjah akal dr mas tentang AQ sdh diubah. Walaupun di jawaban mas saya mulai melihat pergeseran makna. Di awal mas seolah2 meyakini AQ sudah berubah.

    Seberapa Anda tahu tentang apa yang tidak saya ketahui tentang sejarah al-Qur’an? Dan apa kaitannya dengan tulisan ini.

    Maaf mas, kalimat saya jgn di-mispersepsikan seolah2 saya lebih tahu dr mas, bukan itu. Maksud saya ada masih hal2 yg kita tidak ketahui. Misalnya saja, mas mengatakan AQ diturunkan dalam 7 dialek. Bagi saya tidak, walaupun betul bhw AQ mampu mengakomodir 7 dialek. Jadi mohon mas jelaskan lagi bhw AQ diturunkan dalam 7 dialek. Bukannya saya tdk pernah dengar/baca, tp beda persepsi saja.

    Untuk apa para nabi diturunkan apabila ucapan mereka hanya untuk diplintir dan diubah-ubah? Itu kan bertentangan dengan asas keadilan Allah.

    Maaf mas Gentole dimana tidak adilnya. Saya terpaku/berfikir lama mencari2 dimana ketidakadilannya. Apalagi kalau mas Gentole setuju dg konsep bahwa Allah memberikan pada manusia “kehendak bebas”.

    Masak al-Qur’an dikatakan terjaga hanya karena orang bisa menghapalnya?

    Siapa yang mengatakan ini mas? Ataukah prasangka mas Gentole?

    itu juga mengutip wedulgembes

    :mrgreen:

    Inti argumentasi saya kan, kemungkinan mushaf al-Qur’an berubah itu ada, bukan pernyataan bahwa al-Qur’an/mushaf Usmani “sudah” berubah.

    Ini memang lebih tepat, dan saya tidak tertarik lagi berdiskusi kalau ini pendapat mas Gentole… hehehe.. :mrgreen:

    Ah, tidak juga. Yang mana dari tulisan itu yang menyiratkan paham seperti itu?

    Ini hanya spekulasi saya krn mas Gentole seolah2 menganggap tidak mungkin menjaga keotentikan. Jadi krn spekulatif mohon dilupakan saja.. 😉
    Maafkan jika banyak kalimat saya yg spekulatif dan terlalu tendensius. Itu gaya bahasa perkenalan saya mas Gentole… 😀

    Salam kenal. Nice blog, nice topic adn of course nice person. Saya termasuk pengagum mas Gentole.

    Wassalam

  41. Jadi mohon mas jelaskan lagi bhw AQ diturunkan dalam 7 dialek.

    Maksud saya yang ini:

    Dari Ibn Abbas berkata bahwaRasulullah SAW bersabda, “Jibril membacakan (Qur’an) kepadaku dengan satu huruf. Kemudian berulang kali aku mendesak dan meminta agar huruf itu ditambah, dan ia pun menambahnya kepadaku sampai dengan tujuh huruf.”

    Dari Umar bin Khatab ia berkata, “Aku mendengar Hisyam bin Hakim membacakan surah al-Furqan di masa hidup Rasulullah. Aku perhatikan bacaannya. Tiba-tiba ia membacanya dengan banyak huruf yang belum pernah dibacakan Rasulullah kepadaku, sehingga hampir saja aku melabraknya di saat dia shalat, tetapi aku berusaha sabar menunggunya sampai salam. Begitu salam, aku tarik selendangnya dan bertanya, “Siapakah yang membacakan (mengajarkan bacaan) surah itu kepadamu? Dia menjawab: ‘Rasulullah yang membacakannya kepadaku.’ Lalu aku katakan kepadanya: ‘Dusta kau! Demi Allah, Rasulullah telah membacakan juga kepadaku surah yang kau dengar tadi engkau membacanya (tapi tidak seperti bacaanmu).’ Kemudian aku bawa dia ke hadapan Rasulullah, dan aku menceritakan kepadanya bahwa ‘ Aku telah mendengar orang ini membaca surah al-Furqan dengan huruf-huruf yang tidak pernah engkau bacakan kepadaku, padahal engkau sendiri telah membacakan surah al-Furqan kepadaku.’ Maka Rasulullah berkata: ‘ Lepaskan dia, wahai Umar. Bacalah surah tadi, wahai Hisyam, Hisyam pun membacanya dengan bacaan seperti kudengar tadi. Maka kata Rasulullah SAW: ‘Begitulah surah itu diturunkan.’ Ia berkata lagi: ‘Bacalah wahai Umar, lalu aku membacanya dengan bacaan sebagaimana diajarkan Rasulullah kepadaku. Maka kata Rasulullah; begitulah surah itu diturunkan.’ Dan katanya lagi: ‘Sesungguhnya Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu, di antaranya.’

    Ini hadist. Jadi saya masih menggunakan kata konon. Itu saya kutip dari eramuslim. 😀 Di situ juga dijelaskan soal pendapat para ulama. Yang saya maksud itu ada perbedaan dalam pembacaan al-Qur’an. Saya tidak akan lebih jauh membahasnya karena tidak relevan dengan maksud saya di atas.

    Ini memang lebih tepat, dan saya tidak tertarik lagi berdiskusi kalau ini pendapat mas Gentole

    Iyah itu memang maksud saya. Sebenarnya bisa aja sih kita mendiskusikan kemungkinan al-Qur’an “sudah” berubah. Tetapi saya tidak punya akses ke sumber-sumber primernya. Jadi, pasti useless dan hanya menduga-menduga.

    Saya termasuk pengagum mas Gentole.

    Ah, ini berlebihan ini kayaknya. Yang jelas kita pengagum SP. :mrgreen:

    btwm rhusein kemana yah?

  42. hai, saya kok jadi pengen tau nih, yang diduga bahwa al qur qn itu tercemar 1 % dan Al kitab itu 20 – 30%, kira-kira ayat/bab/atau surat mana ?
    atau jangan jangan diskusi ini hannya membahas dugaan yang kira-kira ?
    kebetulan saya suka membaca kedua kitab ini. jadi tolong kasih tau mana ayat yang tidak perlu saya baca karena sudah tercemar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: