Hari Terakhir di Denpasar

January 25, 2008 at 12:25 am | Posted in sekedar | 5 Comments

Dibesarkan dalam tradisi agama Abrahamik yang sangat kaku, pertemuan dengan tradisi Hindu di Bali sangat menyenangkan. Dan selama tujuh bulan tinggal di Denpasar, saya banyak belajar tentang toleransi. Seandainya setiap umat beragama berkenan untuk saling menghormati dan berbagi: mungkin dunia tidak akan sebegini rusak.

Advertisements

5 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Pertamax….

    *halah, basiiiii*

    @gentole
    Toleransi itu mahal harganya. Senapas dengan sehat, ia membutuhkan kelegaan hati dan rasa tiada tara. Dan itu tidak bisa dipaksakan, harus tumbuh dari sebuah kesadaran dan inisiatif diri yang hanya bisa dimunculkan dari kultur positif….Masalahnya, sudah munculkan kesadaran dan inisiatif diri itu untuk menghormati, dan menghargai perbedaan?

    *kalo yang ini basi gak ya*

  2. @hilda
    saya lihat anda blogwalker paling rajin komen. 😀

  3. Ane punya impian yang sama kaya ente… cape rasanya liat kita pada misuh-misuh sesama manusia, misuh atas nama agama… Moga aja kita semua semakin dewasa dalam menyikapi pluralitas.

    Salam kenal dari ane

  4. @cabe
    salam kenal juga. tulisan di atas cuma curahan hati. perlu penjelasan nanti.

  5. saya setuju dengan toleransi umat beragama, tapi anda koq bilang anda beragama yang kaku? begitukah agama anda eemang kaku?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: