Kita Butuh Teologi Alam

January 21, 2008 at 3:34 am | Posted in teologi, tuhan | 5 Comments

Perubahan iklim di bumi tak dapat kita sangkal merupakan peristiwa yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia. Meningkatnya kebutuhan manusia diiringi dengan semakin berkembangnya teknologi menjadi pemicu pemanasan global yang sekarang kita hadapi. Perubahan iklim yang sekarang menjadi fakta alam seakan menjadi mimpi buruk, karena suhu di bumi diasumsikan terus akan memanas.

Bagaimana kita menyikapi fenomena ini? Faktor utama perubahan iklim ini adalah dinamika kehidupan sehari-hari. Kita mungkin hanya bisa berdoa dan kemudian berpikir bagaimana caranya agar tidak terjebak dan terseret ke dalam keserakahan kapitalisme global.

Perubahan iklim menjadi masalah yang tak sederhana karena tampaknya banyak jenis bencana alam akan mengikutinya. Lihat saja fenomena yang terjadi akhir-akhir ini: gempa, banjir, dan badai dengan intensitas yang cukup besar terjadi di berbagai belahan dunia. Fenomena ini tampaknya membawa kita pada sebuah pernyataan tentang adanya ketidakharmonisan hubungan antara manusia dan alam.

Seyyed Hussein Nasr seorang pemikir asal Iran pernah mengatakan dalam bukunya The Encounter of Man and Nature bahwa terjadinya bencana dan limbah yang merusak alam adalah tanda bahwa hubungan manusia dan alam tak lagi harmonis. Menurutnya hal ini disebabkan oleh semakin tidak harmonisnya hubungan manusia dengan Allah. Pernyataan Nasr memberikan kita sebuah tilikan bahwa ada keterkaitan antara hubungan Allah, manusia dan alam. Dari berbagai fenomena bencana dapat kita simpulkan bahwa saat ini jelaslah telah terjadi krisis spiritual.

Sekarang kita hidup dalam peradaban teknologis. Pakaian yang kita pakai, kendaraan, sumber energi, dan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari lainnya mempunyai ciri teknologis. Semua diproduksi secara massal. Demikianlah kita pahami bahwa dinamika kehidupan masyarakat teknologis selain membawa manfaat, ia juga membawa mudharat. Produksi secara massal telah menjadi ciri kehidupan modern. Tampaknya inilah yang menjadi pemicu ketidakseimbangan alam. Perkembangan sains dan teknologi yang menstimulasi gerak industri telah menyebabkan sesuatu yang secara natural merugikan. Limbah industri, emisi CO2, juga sampah rumah tangga yang membuat efek rumah kaca adalah contoh bagaimana artifak teknologi menjadi faktor utama kerusakan alam.

Pernyataan bahwa sains dan teknologi menjadi sumber kerusakan alam adalah sesuatu yang menarik untuk dikaji. Karena ini menyangkut masa depan peradaban manusia. Apa yang mesti kita perbuat? Jawaban praktis tentulah menciptakan teknologi yang ramah lingkungan. Selain itu kita mesti mempertimbangkan penelitian-penelitian sains yang bisa berimbas pada hasil yang merusak. Namun ada satu yang mendasar yaitu semestinyalah kita tinjau kembali pengetahuan yang kita punya, apakah ia secara mendasar baik atau tidak baik. Akal sehat berbicara bahwa kebutuhan masyarakat teknologis (dengan pengetahuannya) ternyata telah menciptakan ketidakseimbangan alam.

Mengenai permasalahan ini alangkah baiknya kita melihat kembali ke pemikiran Seyyed Hussein Nasr tentang sains yang suci atau sacred science. Pengetahuan atau sains suci menurut Nasr adalah sains tertinggi. Pengetahuan ini bersifat metafisis dan berada dalam Adanya manusia dan tentunya memiliki keterkaitan dengan prinsip-prinsip Illahiah. Pengetahuan suci menurut Nasr mempunyai makna bahwa ia bisa dicapai oleh intelek murni. Namun Intelek di sini tidak sama dengan intelek yang berkembang dalam peradaban modern. Intelek murni lebih bermakna sebagai kecerdasan yang terungkap secara spiritual.

Bagaimana hal ini bisa diterapkan agar ilmu pengetahuan (dan teknologi) secara sosial menjadi baik? Sebenarnya bukan ilmu pengetahuannya yang mesti dekonstruksi sehingga secara teleologis ia menjadi baik. Karena ia dalam arti tertentu bebas nilai dan sudah terlanjur memasyarakat. Lewat perspektif pemikiran Seyyed Hussein Nasr dapat dikatakan bahwa problem utamanya adalah cara pandang manusia terhadap alam.

Pada zaman sekarang ini, manusia modern tampaknya tidak melihat bahwa Allah hadir secara imanen dalam realitas alam. Sehingga nilai-nilai spiritualitas semakin memudar. Nasr melihat bahwa hal ini tak lepas dari perkembangan sains dan rasionalitas (teknologi). Ilmu pengetahuan dalam beberapa hal telah mencerabut dimensi spiritual manusia. Sehingga manusia memandang alam secara sekular, akibatnya kita lihat banyak kerusakan alam. Secara praktis Nasr sebenarnya tidak mencoba menolak keabsahan dan keberadaan sains dan teknologi. Nasr hanya ingin mengatakan bahwa ia mestilah berjalan dalam prinsip-prinsip Illahiah, dengan kata lain penghayatan kita terhadap prinsip-prinsip Illahiah mesti dijadikan sentrum kegiatan kritik.

Sudah menjadi pandangan umum bahwa realitas adalah apa yang dipahami semata-mata hanya secara empiris dan positifis. Inilah yang tampaknya menjadi salah satu faktor yang mengikis nilai-nilai spiritualitas. Dan akibatnya seperti yang sudah dijelaskan, sains dan teknologi hanya menciptakan kerusakan. Perang dunia yang telah lalu misalnya menjadi salah satu bukti bagaimana sains dan teknologi mengiring manusia pada perlombaan membuat senjata. Teknologi senjata nuklir menjadi fakta betapa beresikonya perkembangan sains dan teknologi.

Dalam bukunya The need of a Sacred Science Nasr mengatakan “The world is real to the extent that it reveal God Who alone is real” (1993, hal. 11). Dunia yang nyata di sini dipahami sebagai dunia yang diliputi oleh kehadiran Allah. Karena itu menurut Nasr, manusia mempunyai kemungkinan meraih pengetahuan tentang Allah dengan memahami kehadirannya dalam realitas.

Dari sini kemudian muncul sebuah pernyataan tentang alam semesta suci, sebagai konsekuensi dari pandangan bahwa Allah adalah realitas tertinggi yang hadir dalam alam yang kita hidupi, sebuah teologi tentang alam.

Teologi alam melihat realitas secara holistik. Alam dalam arti kosmos tidak terbatas pada sesuatu yang dikonstruksikan secara empiris dan positifis, seperti halnya pandangan manusia modern tentang dunianya. Dengan kata lain alam mesti kita pahami tidak hanya secara material tapi juga secara spiritual. Inilah yang dalam arti tertentu bisa memberikan sebuah perspektif tentang kritik sosial terhadap perkembangan sains dan teknologi.●

Oleh Bahar

5 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. @Gentole

    Bahar itu siapa ya?. Bahar Mario sebagai sembara-kah…hehehe. kan banyak dari kita yang menganggap kitab suci sebagai perhiasan,…lupa mengkaji, bukan mengaji lho…hehehe. Mengaji dan mengkaji kan beda….hehehe lagi

  2. @Gentole

    Masalah pemanasan global masalah manusia di seluruh dunia. Mengerikan melihat semua dari kita ternyata punya andil dalam merusak alam dan lingkungan kita. Sekarang baru sadar tapi ozon lapisan bumi kita udah makin tipis. Tahun lalu, winter di tempat gue sini sama sekali engga dingin. Heran gue, sampe winter berakhir gue baru sadar…lho…mana dinginnya? Sampe gw engga perlu pake mantel pun oke2 aja. Tahun ini, kayaknya hampir serupa nih…sempet sih bulan november lalu sempet dingin banged,kira2 berlangsung 2 mingguan…abis gitu biasa aja tuh…ya engga ada artinya dibanding dingin yang normal untuk winter di erofa. Hayo…tanggung jawab donk…udah engga dingin neh…😀
    Makanya, sayangilah alam lingkungan kita. Caranya ? Tanya ama Gentole deh…dia lebih ngerti pastinya🙂

    @Wedulgembez

    Gembez artinya kempes kan…? kalo wedul apa donk ? Maap aja…gue orang barat jadi kurang faham…😀 he he he…makanya gue sering pake bhs inggris…emang sengaja sih…biar Wedulgembez jadi cape’ bacanya…😀😀

    Okeh deh guys…see ya !!

  3. @wedul
    yang pasti bukan gue. hehehe…bahar itu abang gue. dia punya tulisan, trus gue tawarin ke blog gue. tadinya gue mau nulis fiqh lingkungan [mau nulis soal yesus, udah diborong semua ama blog lo dul😀 ]. tapi kayaknya susah nulis fiqh lingkungan…kurang sumber.😀 untung ada abang gue, jadi publish tulisan dia aja dulu. kebijakan anonimitas di blog gue masih berlaku, jadi tetep pseudonym. yah gak ada hubungannya ama sembara atau aria kamandanu lah hahahaha…

    @rayon
    jangan tanya sama gue.😀 eh, lo tinggal di mana sih?

    pake bahasa indonesia aja jawabnya. kasian wedul hehehe…

  4. @Gentole

    oh udah gue borong ya?. bisa dijual lagi kok..hehehe

    @Rayon

    Wedul gembez tuh Weduz gembel. cuma gue balik aja kata akhirnya,..hehehe. tahu Weduz Gembel gak?.

  5. @wedul
    ya udah entar gue beli deh. hehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: