Apakah Tuhan Maha Pluralis?

January 11, 2008 at 6:30 am | Posted in tuhan | 18 Comments

Pemerintah Malaysia melarang penggunaan kata Allah dalam surat kabar Katolik yang diedarkan di negeri mereka. Pemerintah Malaysia sungguh absurd, bertindak seolah-olah umat Islam pemegang hak cipta kata “Allah”. Kata “Allah” sudah dikenal oleh bangsa Arab pra-Muhammad dan Allah Alkitab dan Allah al-Qur’an sejatinya identik. Tulisan di bawah ini repost tulisan saya dari entry rumah blog saya yang lain (12 Februari, 2007). Ini sekedar refleksi, bukan pernyataan iman.

It all began with my decision to get to know Him with my way, not His way. and I tentatively concluded that God is nameless and that He never revealed Himself to us. We human beings only know His “created” and “earthly names” such as Yahweh, Allah, the Lord, Tuhan, Dei, God, Got, Tian, etc., while His true being remains hidden.

The logic: Everything that is named and conceptualized is created or found by anything that anticipates its existence. God is the First and the Last, Uncreated and therefore can never be named by anything that is before Him, since Nothing exists before and after Him!!

So, the question whether man made God or God made man is actually easy to answer: man did make or invent the word or the concept of “God”. But the true God could never be conceptualized or invented.

Does God reveal Himself in the Holy Books? Yes, He declares himself there, but not fully as none of the offered concepts/names in those books are universal. Yahweh is the tribal God of the Jews, Allah is the Arabic word for God and Jesus Christ is the Image of God through whom the Christians know Him. O, dear, I believe we’re all actually lost in translation!!

The question is: if we are worshiping God with different names, are we worshiping the same God? Is Allah God? Is God Allah? Is Tuhan God? Is God Tuhan? Is Jesus God? Is God Jesus? O, brothers, it’s absurd! If we name God, we’re trying to “control” and “own” God. God cannot be owned!

We only know Him through His nature, that God is forgiving, loving, kind, omnipotent, etc. I believe that most of us have the same notion of God: that He is the Creator of the universe and that He is extremely powerful!

I ask you, will God listen to the prayers of those who have an incorrect conception of God? If a man is so desperate and has nobody to turn to for help and decided to call the Supreme Being that is All-Powerful to help him, but he knows not of such concepts as God or Allah or Jesus or Tuhan or Yahweh or Gusti Allah or whatever, will God answer his prayer?

What if he thinks that God is the sun? “O, the Sun, the Creator of the universe. I need Your help!!” I imagine he’d pray in such a way. Of course, he never knows that the Sun, quoting Wikipedia, “is the star at the center of the Solar System. About 74% of the Sun’s mass is hydrogen, 25% is helium, and the rest is made up of trace quantities of heavier elements.” If he reads Wikipedia, that poor guy will argue, “that’s not the Sun, my God, as i know Him!”

Wallahu A’lam bi ash-Shawwaab

Advertisements

18 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. wow,…pertanyaan yang sulit. Pluralis itu hanya sudut pandang manusia terhadap ajaran Allah. Seandainya semua orang didunia menghayati Allah dengan benar tidak ada itu pluralis….

  2. @wedul
    gue setuju ama elo. masalahnya mungkin pada pendefinisian “menghayati Allah dengan benar”. maksud gue dengan pluralis yakni Tuhan disebut dalam berbagai nama dalam berbagai kebudayaan. kebudayaan itu kan plural, ada orang Sunda, ada orang Jawa. 😀

  3. @Gentole
    maksud gue dengan pluralis yakni Tuhan disebut dalam berbagai nama dalam berbagai kebudayaan. kebudayaan itu kan plural, ada orang Sunda, ada orang Jawa.
    =============================================================

    Tapi ingat, Syari’at Allah itu tidak bisa dibuat pluralis lho,..hehehe. Mungkin konsep Tuhan bisa dibuat begitu, tetapi Syari’at tidak bisa. Dan orang yang beriman pasti akan mendekati Syari’at yang benar sesuai kehendak Allah….hehehe. ya udah ini dulu gue mau pulang dah malam.

  4. @wedul

    lo bilang:
    ———————————————————-
    Tapi ingat, Syari’at Allah itu tidak bisa dibuat pluralis.
    ———————————————————-

    bisa kok buktinya Tanakh Ibrani diturunkan dalam bahasa Ibrani dan kaumnya Musa (orang yahudi) beribadah dengan bahasa Ibrani. bacaan solat yang diajarkan Muhammad kan diturunkan dalam bahasa Arab dan baru dikenalkan ketika Muhammad hidup. Emangnya syariat islam membatalkan syariat terdahlu? Bukannya sejak dulu Allah sudah memerintakan salat, puasa dan zakat? perkara teknisnya saja yang beda, esensinya sama: salat, puasa dan zakat.

  5. Tuhan pluralis, tapi mengapa manusia nggak mau pluralis ya?

  6. @danalingga
    entahlah, mungkin karena keragaman menakutkan bagi sebagian orang.

  7. pluralisme adalah sebuah keniscayaan…. dalam SATU (agama, mazhab, diri, dst) terdapat SEJUTA (agama, mazhab, diri, dst), dan di dalam SEJUTA terdapat SATU (maksudnya ada benang merah yg saling menghubungkan)

    pluralisme udah hukum alam, sunatullah….

  8. @Gentole

    bisa kok buktinya Tanakh Ibrani diturunkan dalam bahasa Ibrani dan kaumnya Musa (orang yahudi) beribadah dengan bahasa Ibrani. bacaan solat yang diajarkan Muhammad kan diturunkan dalam bahasa Arab dan baru dikenalkan ketika Muhammad hidup. Emangnya syariat islam membatalkan syariat terdahlu? Bukannya sejak dulu Allah sudah memerintakan salat, puasa dan zakat? perkara teknisnya saja yang beda, esensinya sama: salat, puasa dan zakat.
    ===============================================
    Gue lebih sependapat dengan kata elu “Bukannya sejak dulu Allah sudah memerintakan salat, puasa dan zakat? perkara teknisnya saja yang beda, esensinya sama: salat, puasa dan zakat”. inilah yang tidak bisa dibuat plural (ini ajaran pokok). Tergantung kita mau memakai jalan yang mana. Jalan nabi terakhir “nabi Muhamamd” yang paling jelas atau melakukan praktek2 kaum terdahulu

  9. nabi Muhamamd…maksudnya Muhammad (belepotan nulisnya..hehehe)

  10. @wedul
    kan kenyataannya sudah plural, dul. ahli kitab juga berdoa, berzakat dan puasa. masalah, siapa yang doanya, zakatnya dan puasanya diterima itu urusan Allah.

  11. @Gentole

    iya memang ahli kitab dan bahkan dalam hindu pun juga ada puasa atau derma dll. tetapi jika diibaratkan sebuah buah apel, maka diibaratkan ajaran Muhammad adalah buah apel yang bersih dan murni, sedangkan yang lain buah apel yang sebagian murni dan sebagian kotor/busuk. ya tentu saja kita harus melihat ajaran secara menyeluruh, karena jika dilihat perbagian memang ada kesamaan. kita kan harus melihat agama sebagai suatu kesatuan utuh. …walah ribet ama….hehehe

  12. @ gentole

    “I ask you, will God listen to the prayers of those who have an incorrect conception of God? If a man is so desperate and has nobody to turn to for help and decided to call the Supreme Being that is All-Powerful to help him, but he knows not of such concepts as God or Allah or Jesus or Tuhan or Yahweh or Gusti Allah or whatever, will God answer his prayer?”

    In my opinion, yes, God will answer his prayer. God The Most Compassionate, God the Most Merciful. God sees things differently from us human being.

  13. @wedul
    bolehlah dul berpendapat seperti itu. di mata kita, istri kita tentu cantik dan anak-anak kita tentu baik dan pintar. 😀

    @rayon
    I fully agree.

  14. @wedul
    eh sori buat perumpamaannya. you’re not married yet, and so am i. 😀 gak jadi “deal” ama enryo yah? ya udah dipaksa2in aja nyambungnya.

  15. @Gentole

    bisa aja lu, rumahmu ganti to…kekekek. Itu si Rayon pake bahasa inggris segala, nambah energi mbacanya…hehehe

  16. @Gentole

    eh sori ternyata gak ada yang berubah dari rumah lu, tadi salah liat. maklum lagi buru-buru. oh iya ada perumpamaan lagi, jika kita disuruh makan semangka tanpa biji dengan semangka penuh biji plih yang mana hayo?…hehehehe.

  17. @wedul
    oh tentu gue pasti milih semangka tanpa biji. gue benci banget biji semangka! tapi kalo gue pengusaha kwaci, mau gak mau gue harus beli semanngka yang ada bijinya, bukan? hehehehe…

  18. @Gentole

    yah kan ada yang lebih enak dari kuaci, contohnya kacang…whekekek. Percuma usaha kuaci…yang beli ya paling itu-itu aja orangnya…hehehe, segmen dan selera terbatas…kekekek. Mending bijinya dipilih yang bagus dibuat semangka yang lebih enak…heheehe.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: