The Melancholy of Si Empit
November 14, 2009 at 5:04 am | In berbagi cerita | 16 CommentsTags: banjir, hubungan manusia dengan mesin, hujan, motor, supra fit
Helm sudah. STNK sudah. Pakaian kotor sudah. Laptop sudah. Tugas kantor sudah (saya tunda). Akal sehat sudah. Kangen sudah. Semuanya sudah. Hari itu, Jumat, hari ke-13 pada bulan ke-11 tahun 2009, saya ngebet pulang ke Tangerang; ke rumah Mama, kepada mana saya pulang sekolah selama belasan tahun sebelum saya dikutuk menjadi Manusia Jakarta. Saya masih seromantik dulu, Bunda. Manakala rindu menyergap, saya tidak akan pernah mengelak. Hujan deras, banjir, macet, basah kuyup, jalan licin dan bahkan ancaman sakit kepala tidak akan menyurutkan niatan pulang yang sudah bulat ini.
Saya kunci kamar. Jeglek. Kemudian saya buka lagi. Jeglek. Memastikan tidak ada yang ketinggalan. Kemudian, setelah pintunya saya jeglak-jeglek kembali untuk yang entah keberapa kalinya, saya menghampiri Si Empit dan mendapatinya berdiri di tempat parkir dan sigap menyapa: “Siap, Bos!”

Si Empit. Gambar diambil tahun lalu.
Si Empit saya beli tahun 2005. Kredit, dan lunas tahun 2007. Dan selama ia menjadi budak saya, si Empit hampir tidak pernah mengecewakan saya, kecuali ketika ban belakangnya kempes di tengah jalan, yang sebenarnya bukan salah dia; karena itu jelas salah Jakarta, salahnya Ibu Kota! Di waktu hujan, si Empit adalah jagoan yang tidak mudah menyerah. Tidak kalah hebat dari Belalang Tempur Ksatria Baja Hitam. Tangkas. Cerdas.
Langit Jakarta gelap. Lampu jalan bertugas lebih awal.
Hujan dimulai di Rawa Belong. Saya kebetulan punya jas hujan, Mas SJ. Dan sebuah tas laptop yang dilengkapi pelindung hujan pula. Dan diam-diam saya gembira: Asyik! Bisa mandi hujan tanpa harus basah kuyup!! Jakarta tampak sedikit lebih jelita dari baik helm di kala hujan. Jalan lowong. Licin, tapi bersih. Ada truk lewat, atau bus lewat, tidak berisik. Hujan. Deras. Saya lihat air mengalir segar di jemari; entah mengapa saat itu saya jadi merasa sangat hidup. Si Empit pun menarabas air langit dengan heroiknya.
Di Joglo, setelah perumahan Kebon Jeruk dan tanah lapang yang banyak angin, jalan tidak lagi lowong. Saya lihat antrian kendaraan di sebelah kanan jalan. Dugaan Anda benar: jalan sudah menjadi sungai. Saya kesal. Saya ingat tiga tahun lalu. Waktu itu si Empit masih sangat muda, HP Nokia saya basah kena hujan. Dan wafat. Tapi Si Empit membuat saya bangga karena waktu itu dia berhasil melewati empat banjir buruk di Ciledug. Tapi kali ini saya ada ragu. Si Empit sudah tidak muda lagi. Bagaimana bila kali ini dia gagal?
Dua pengendara motor berhenti di pinggir banjir dan menatap kejauhan. Serius sekali. Mungkin keduanya sedang menghitung nasib; mencoba membagi jarak banjir dengan peluang mereka ketiban sial; satu variabel yang sulit sekali, kalau bukan tidak mungkin, diukur. Ada cemas di wajah mereka. Si Empit, seperti biasa, tidak banyak bicara; dan saya, seperti biasa juga, tidak mau berlama-lama mengambil keputusan. Jalan memutar saya sudah lupa, kecuali bahwa itu JAUH. Jadi, pilihannya nyasar atau mogok. Sebuah pilihan sulit tentu. Karena nyasar hujan-hujanan jelas tidak terdengar menyenangkan! Saya ganti gigi satu dan mencuri celah antrian kendaraan. Tidak berpikir lagi. Cemas dan doa datang silih berganti. Dan tiba-tiba saya sudah berada di tengah banjir. Air semakin deras. Laju kendaraan semakin lambat. Korban pun berjatuhan. Dua tiga motor mogok. Hati saya jadi ciut. Memucat. Matilah awak bila Si Empit mogok di tengah sungai dadakan ini. Saya tidak mau bernasib seperti orang-orang sial yang mesti menggandeng motornya melewati banjir itu!
Hujan masih deras. Saya masih di Joglo. Air mengalir berisik; seperti kali tempat orang kampung mandi di pegunungan. Warnanya coklat seperti baju pramuka. Dijamin tidak higienis dan banyak penyakitnya. Si Empit berusaha bertahan untuk tetap sadar, meski jalanya sudah sangat payah. Mobil pick up di depan saya jalannya lelet sekali. Saya merasa mesin Si Empit sudah terendam. Panik. Dan ketika saya melihat banyak motor yang diparkir di pinggir jalan karena mogok, saya pun merasa lega. Air semakin dangkal dan tipis. Cipratan air merayakan keberhasilan motor saya. Si Empit has done it again! Saya merasa seperti baru saja memenangkan sesuatu; dengan bangga melewati mereka yang dipecundangi banjir dan kesialan. Haha! Dan saya pun melaju lebih kencang; menerjang dua banjir lagi: sebelum pasar Ciledug dan di dasar underpass menuju Cipondoh. Saya tahu Si Empit juga merasa bangga seperti saya. Dan kita pun menikmati air yang turun dari langit sore itu sebelum akhirnya sampai di rumah Mama. Ada sop hangat, ada gorengan. Ah, hidup ini…
– Sekian –
16 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a comment
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
…ah, selamat pulang. Saya juga mau pulang kayanya bulan depan.
Comment by Nicholas Hwa — November 14, 2009 #
Omong-omong tentang sepeda motor, selama ini ada dua motor yang sudah menemani saya semasa kuliah di Jogja dulu. Yang satu motor Cina ga jelas, 50 cc, tanpa persneling, dulu dibelikan awal-awal saya belajar naik motor
Yah, ini motor saya pakai terus sampai sebelum pergi ke Singapura, sudah menemani saya touring ke kota-kota sebelah, patah hati, ngejar-ngejar dosen, latihan ngeband, dll. Ga diturunkan ke adik, soalnya dibeliin motor baru. 
belum punya SIM. Kecepatan max cuma 30 km/jam. Suka macet dan susah distarter, apalagi kalau pas hujan. Tapi jalannya mulus dan modelnya yang unik membuat saya terkenal di komunitas pertemanan. Yah karena pada dasarnya memang problematik, sekarang sudah teronggok jadi besi tua di gudang.Yang kedua, Yamaha Alpha bikinan awal 90an. Akselerasi tinggi, tapi top speed suka kalah sama motor yang lebih baru (kalau pergi bareng temen-temen suka tertinggal). Bensinnya boros banget, 2 tak. Ini juga kalau hujan harus dibuang dulu bensinnya, karena kemasukan air.
Seingat saya, dulu motor kedua ini pernah melawan banjir juga, ya walaupun ga tinggi-tinggi amat. Lupa sukses atau ga.
Comment by Nicholas Hwa — November 14, 2009 #
Eh ketemu motor pertama! Bikinan Indonesia rupanya!
Hattrick!Comment by Nicholas Hwa — November 14, 2009 #
Motormu keren, Mar. Romantik. Dan sepertinya memang motor-motor seperti itu yang memang bisa dekat sama manusia.
Gak kebayang sih kalo saya naik motor-motor besar. Kagak pantes.
Comment by Ali Sastro — November 14, 2009 #
Wuih…tangguh bener tuh motor…Btw, tulisannya terasa segar..beda dengan tulisan-tulisan lain…
Comment by butterflycircle — November 14, 2009 #
^
.
Oh yang lain jadinya layu begitu?
Comment by Ali Sastro — November 14, 2009 #
Bukan layu om…tapi tidak segar…
*dilempar ban dalam motor*
Comment by butterflycircle — November 14, 2009 #
Aduh, kangen GL Pro, motor pertama saya… yang bertanggung jawab juga pada pembengkakan sistemik di tubuh saya sekarang…
Comment by Amd — November 15, 2009 #
tulisannya berbau optimis dan tanpa keluhan, makanya beda dari yg lain
tapi seru ya, jadi kangen maen hujan…
Comment by alia — November 16, 2009 #
Si empit… selamat. Dirimu memang keren.
*menyelamati si Empit*
*ikutan bangga sama si Empit*
BTW, Untungnya, walaupun Pariaman belakangan ini hujan tiap hari, dan hari minggu kemaren hujan sehari full, di sini gak ada banjir Alhamdulillah. Paling tinggi gak sampe lah nutupi mesin motor Revo saya…. sepupu muda si Empit.
Comment by Snowie — November 16, 2009 #
motorpun seolah bisa bernyawa jika dikaitkan dengan bagian dari diri manusia
.
keknya berbau metaphorik nih tulisan
Comment by G3mbel — November 16, 2009 #
.
Mungkin karena restu bunda juga si empit ga mogok.
sok di nyambungin
.
Seperti tanda pengidap OCD ringan.
Comment by Zephyr — November 16, 2009 #
@butterfly
.
Ah, aleshan kamu neng.
.
@amd
.
Emang sekarang apa? Bajaj?
.
@alia
.
Oya gue gak ngeluh di sini?
.
@snowie
.
Salam buat Revo-mu.
.
@g3mbel
.
Metaforik. Tentu.
.
@zephyr
.
Lebih berat dari yang Anda kira bung.
Comment by Ali Sastro — November 16, 2009 #
Tulisan yang sungguh romantik. Hidup itu sedemikian penuh romantika. Mungkin kita mesti bersyukur juga karena kebanjiran. Setidaknya punya nostalgia yang indah dengan si Empit .
Comment by lovepassword — November 18, 2009 #
Kalo saya ini produsen Supra Fit, tentu saja akan memberikan pernyataan terimakasih tak terkira atas artikel tulus ini. Artikel ini tentu jauh lebih seru ketimbang iklan kan yah ?
Comment by lovepassword — November 18, 2009 #
@lovepassword
.
Walah, Mas, bener. Ini saya lagi ngiklan yah? Waduh.
Comment by Ali Sastro — November 19, 2009 #