Uneg-eneg
November 7, 2009 at 9:38 am | In katarsis | 10 CommentsTags: eneg-eneg, jangan ditiru, uneg-uneg
Untuk kesekian kalinya saya megunjungi pameran buku di JCC dan untuk kesekian kalinya juga yang saya temukan di sana adalah puluhan gerai buku yang tidak menjual buku; tetapi kertas yang dibuat tampak seperti ‘buku’. Dan, ya, ini harus saya sebut juga, untuk kesekian kalinya pula saya harus merasa risih dengan banyaknya ikhwan-akhwat di pameran buku; dengan janggut, kacamata dan jilbab besar mereka. Saya bukannya islamofobik atau sinis akut, hanya saja saya memang merasa terganggu sekali dengan berbagai perlambang kesalihan yang dipajang di muka umum. Entah mengapa saya kok jadi merasa seperti sedang mengunjungi sebuah kafe dengan banyak perempuan mengenakan tank top dan hot pants dan orang-orang sok keren.
10 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a comment
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Ah, pertentangan soal simbol vs esensi lagi ya Om?
Comment by Amd — November 7, 2009 #
Konon saya berjenggot panjang lo.
Tinggal celana digulung dikit sampai di atas mata kaki
Comment by Nicholas Hwa — November 7, 2009 #
Simbolis maupun antisimbolis itu sama2 ngurusin simbol. Hi Hi Hi.
Kalo saya mah tidak terlalu perduli , berusaha menyamankan diri dimanapun.
Comment by lovepassword — November 7, 2009 #
Beli kaos hitam polos, sablon bendera Israel disitu, lalu pergilah ke tempat2 itu. Jangan lupa bawa golok tuk jaga2.
Comment by jensen99 — November 8, 2009 #
tujuannya memang buat itu kan om? buat membedakan umat yang satu dengan umat yang lain? ada hadistnya kalau tidak salah….
Comment by ManusiaSuper — November 8, 2009 #
what wrong with that ?
Comment by Ketiga — November 8, 2009 #
sori salah, gaya2an pake bs inggris, ternyata salah
what’s wrong with that ?
bener ga ya~
Comment by Ketiga — November 8, 2009 #
@amd
Tidak ada yang salah kok. Sayanya aja nih yang suka kebayang masa lalu setiap kali melihat ikhwan-akhwat berkumpul.
.
Gak juga sih. Ini sayanya aja yang bermasalah. Mungkin memang tidak harus dipertentangkan antara simbol dan esensi.
.
@mario
.
Kamu cocok Mar jadi militan.
.
@lovepasswod
.
Iya betul. Sebetulnya tak pelru dipersoalkan.
.
@jensen99
.
Itu ide yang bagus. Kayaknya saya kudu nyari baju berlambang palu arit dan bintang Daud.
.
@mansup
.
Iya, khusus buat janggut memang ada haditsnya. Sudah tidak relevan lagi itu hadist. Tapi yah…
.
@ketiga
.
Duh, ampun Mbak, maap.
.
Tapi bener deh, saya rada bingung, kenapa kok kalo urusan buku ikhwan-akhwat tuh selalu mendominasi, tetapi kok tak ada perubahan berarti yah dalam pandangan hidup mereka?.
*dijitak*
Comment by Ali Sastro — November 8, 2009 #
tidak ada perubahan berarti dlm pandangan hidup mereka?
hm, coba mas gen tanya pada mereka langsung. mereka juga pasti akan berpikir hal sama terhadap mas gen bukan?
emg perubahan yang berarti itu menurut anda yang kyk gimana? apa yang anda pikir ttg ‘perubahan yg berarti dlm pandangan hidup’ itu sama dgn apa yang mereka pikirkan (dlm sudut pandang islam, tentunya, yg mereka anut). klo menurut sy itu sih relatif, krn secara umum, prinsip2 hidup yang sudah dipengaruhi keyakinan tertentu itu akan relatif.
coba, bagaimana pikiran mas gen seandainya ada org yg blg ke mas gen : ‘mas gen ini hobi baca buku, mendominasi, pinter, filosofi, tapi kok menurut saya mas gen ga ada perubahan yang berarti lho…”. pdhl mas gen merasa yakin bhw ada perubahan luar biasa dlm diri mas gen sendiri.
iya toh?
hehe
Comment by Ketiga — November 10, 2009 #
@ketiga
.
Iya mbak betul sekali. Memang tidak adil lah menilai seseorang dari tampakan luar saja. Yah namanya juga manusia.
Comment by Ali Sastro — November 11, 2009 #