Hidup Bahagia Tanpa Sains dan Teknologi

June 18, 2008 at 11:50 am | Posted in filsafat, refleksi | 18 Comments
Tags: , , , ,

Post ini muncul karena sering mampir ke blog Geddoe, anak muda dengan pikiran-pikiran gilanya.

Hmm…Ada ironi di sini. Mungkin Anda berpikir sebaiknya judul postingan ini ditulis di pelepah kurma atau daun lontar saja, bukan di layar LCD laptop saya. Anda benar. Tapi sekalipun saya menulisnya di pelepah kurma, ironi itu bukan berarti sepenuhnya lenyap. Alat tulis, apapun itu, adalah juga teknologi. Saya seperti baru tersadarkan bahwa teknologi itu tidak secara eksklusif dimiliki oleh orang modern. Manusia purba pun punya teknologi. Mereka punya pengetahuan — api dan logam misalnya — yang mereka gunakan untuk “menundukkan” alam. Persoalannya, perlu diingat, bukan pada valid atau tidaknya pengetahuan itu, tetapi tercapai atau tidaknya tujuan mereka dengan teknologi/pengetahuan yang mereka miliki. Karena tanpa tujuan, tanpa kegunaan, sebuah alat tidak akan menjadi “alat”. Ingat botol Coca-cola dalam film God Must Be Crazy? Singkatnya, teknologi itu “a means to an end.”

Teknologi datang bersama hasrat. Hasrat inilah yang memicu peradaban homo sapiens. Ia pada mulanya digunakan untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan organ tubuh manusia. Membelah batu atau mengiris wortel, misalnya. Nenek moyang kita sudah lama menemukan pisau dan kapak, dua teknologi purba yang masih lestari hingga saat ini. Teknologi, dalam hal ini, berperan sebagai ekstensifikasi dari tubuh manusia.

Tapi benarkah teknologi itu bersifat instrumental saja? Menurut Mbah Martin Heidegger, tidak. Definisi teknologi sebagai alat itu tepat (correct), tapi belum “benar” (true), katanya. Dalam The Question Concerning Technology, Mbah Heidegger berpendapat bahwa teknologi itu pada dasarnya bersifat eksistensial; teknologi itu adalah aletheia, yakni istilah Yunani untuk “penyingkapan” (revealing, unconcealedness).

Kata techne, demikian Heidegger, tidak hanya dinisbahkan kepada seorang pandai besi oleh bangsa Yunani, tetapi juga kepada para seniman. Karena seni juga sebuah moda “penyingkapan”; teknologi, dengan demikian, berkonotasi puitis. Selain itu, kata techne juga berkaitan erat istilah episteme, yang berarti “mengetahui” dalam arti yang luas. Mengutip Aristoteles, Heidegger bilang teknologi menghadirkan apa-apa yang sebelumnya tidak “tampak” di hadapan kita. Ketika seseorang membuat kapal atau membangun rumah, ia menyingkap segala material (kayu, batu) dan gagasan (bentuk, pola) yang memungkinkan kapal atau rumah itu menjadi “ada”. Jadi, inti dari teknologi itu bukan pada instrumentalitasnya, bukan pula pada proses pembuatan kapal itu, melainkan pada penyingkapan yang terjadi. “What is decisive in tehcne does not lie at all in making and manipulating nor in the using of means, but rather in the aforementioned revealing,” katanya.

Dengan demikian, dunia material itu diungkap secara teknologis. Bumi hadir di hadapan kita sebagai “standing reserve” yang merupakan syarat dari kehidupan “teknologis” manusia — atau dalam istilah Mbah Heidegger, Being. Kita lihat saja, misalnya, hutan menjadi lahan produksi, laut sebagai situs explorasi minyak, sementara sungai dan danau menjadi bagian penting dari mesin pembangkit listrik. Itu yang besar-besar. Kita juga bisa lihat kayu menyingkapkan dirinya sebagai gitar, lemari, pintu, dll., batu menjadi tembok, plastik menjadi handphone, besi menjadi motor, mobil, aspal menjadi jalanan. Alam mengungkapkan dirinya sebagai teknologi dan kita hidup atau “mengada” dalam yang teknologis.

Salahkah hidup dalam yang teknologis?

Nah, sebenarnya yang menjadi ancaman itu bukan “techne” dalam arti generik sebagai “penyingkapan” belaka, tetapi “techne” yang dibatasi oleh sains, or “the so-called modern technology”. Sains tiba-tiba menguasai teknologi secara ekslusif. Sains tiba-tiba menjadi satu-satunya moda penyingkapan kebenaran, atau moda mengada alam sebagai “standing reserve”. Implikasinya apa? Teknologi modern, kawan-kawan, sebenarnya mengancam moda “eksistensi” puitis manusia. Karena, manusia adalah bagian dari alam yang sebenarnya bisa dikuantifikasi juga, manusia adalah bagian dari “standing reserve” yang dikatakan oleh Heidegger itu.

Esensi dari teknologi modern adalah “Ge-stell” atau “enframing”, kata Heidegger. Saya sebenarnya bingung bagaimana menerjemahkan kata “enframing” ini. Tapi begini, saya coba saja, “enframing” itu artinya situasi di mana manusia dikondisikan untuk menyingkap kebenaran/alam sebagai “standing-reserve”. Kenapa? Karena sains mensyaratkan itu, alam itu harus dimengerti secara kuantitatif, sebagai sesuatu yang bisa diukur. Kondisi ini bisa tak terkendali, karena alam kemudian, dalam proses “enframing” itu, menampakkan dirinya sendiri secara independent (penemuan dark matter, misalnya) dan tidak lagi bergantung pada intensionalitas atau kesadaran manusia.

Jadi, ancamannya apa? Yah itu, kondisi di mana kita dikondisikan untuk melihat penyingkapan alam sebagai “standing reserve” yang kalkulatif. Digitalisasi kesadaran adalah salah satu ancaman yang saya bayangkan terhadap esensi kemanusiaan kita. Suatu saat manusia tidak lagi mengada atau hidup dalam yang teknologis, tetapi ia akan hidup dan mengada sebagai yang teknologis. Penyingkapan teknologi modern bersifat parsial, bukan satu-satunya/totalitas bentuk “penyingkapan”. Kita bisa “salah mengerti”, kata Mbah Heidegger, dengan menganggap penyingkapan teknologis berbasis sains sebagai satu-satunya “kebenaran”. Ia mengingatkan, penyingkapan teknologis itu juga bisa diartikan sebagai disclosure. Teknologi modern mungkin akan menghapus “Kesadaran” manusia yang selalu kita agungkan. Kita tidak akan lagi menjadi “Dasein” yang menentukan secara autentik pilihan-pilihan hidup kita.

Sains-teknologi itu memang ambigu, misterius dan “monstrous”. Bukan karena teknologi tiba-tiba menjadi “galak” dan melawan manusia yang “membuatnya” seperti Dr. Frankenstein, tetapi teknologi mendistorsi cara kita “mengada”, cara kita hidup di dunia ini.

Lalu bagaimana caranya hidup bahagia tanpa sains dan teknologi?

Heidegger menganjurkan kita untuk mendekatkan diri pada jenis teknologi yang lain: yakni seni, yang ia jelaskan di atas tadi. Seni menyingkap dunia yang tak terbatas. Meski tak tercerap oleh indra, horison makna sebuah puisi atau sensasi memandang lukisan yang Indah itu tak terbatas. Teknologi yang puitis memberi ruang lebih kepada kemanusiaan kita ketimbang teknologi yang ilmiah, reduktif dan mengerikan itu. Dan, tentunya, praktik-praktik asketik dan sufistik juga bisa menjadi alternatif techne/aletheia yang menurut saya cukup “preferable” dan manusiawi.

Tentu saya tidak menganjurkan Anda untuk menjadi orang super-romantik yang anti-teknologi dan hidup seperti kera di hutan rimba sana. Tapi tidak ada salahnya kan menimbang kembali implikasi sains dan teknologi modern bagi kemanusiaan?

Postingan bersumber dari pembacaan (secara serampangan) saya atas The Questions Concerning Technology karya Heidegger dan Technics and Praxis karya Don Ihde. Bila saya salah mengerti Heidegger dan ada yang bisa mengoreksi, silahkan. Disambut dengan gembira.

About these ads

18 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Foto robot dimabil dari Manifesto, pameran seni rupa di Galeri Nasional. Motor di foto itu motor saya. Yang nyuci bukan saya.

  2. tergelitik untuk komen, tapi harus buru-buru pulang :(
    .
    .
    .
    See ya… :P

  3. Saya tidak pernah membaca karya-karya Heidegger, jadi tidak terlalu tahu apa interpretasi mas sudah benar. Tapi, rasanya saya lumayan sepakat dengan cara berpikir seperti ini. Saya belajar banyak dengan cara mendefinisikan ulang ‘teknologi’-nya. :P

    Mungkin saya salah memahami inti tulisannya, tapi apa ini memang semacam sudut pandang transhumanisme? Jadi, pada dasarnya, memberi gagasan bahwa pencarian sains-teknologi for its own sake akan membahayakan eksistensi manusia sendiri? :)

  4. Mungkin saya salah memahami inti tulisannya, tapi apa ini memang semacam sudut pandang transhumanisme? Jadi, pada dasarnya, memberi gagasan bahwa pencarian sains-teknologi for its own sake akan membahayakan eksistensi manusia sendiri?

    Bisa dibilang begitu. Tapi kata “eksistensi” di sini dipahami dalam perspektif Heideggerian, yakni “Dasein” atau our “being in the world.” Jadi bukan sekedar eksistensi spesies manusia. Begitulah kira-kira.

    Btw, selain Mas Golfriend, blog mana yah yang suka filsafat serius? Hehehe

  5. Dulu Filsafat adalah ibunya ilmu pengetahuan, tetapi sekarang ibu tiri. Kalau kita tidak memberi ruang pada science tentu kita tidak berhak menggunakan komputer dan kirim email. hehehe.
    Salam kenal pak Gentole

  6. @Laporan

    Tentu sains harus diberi ruang. Saya hanya menggunakan headline yang sedikit bombastis saja. Dan sepertinya tidak berhasil. Haha..

    Salam kenal juga Pak Laporan.

  7. Tulisan keren Mas
    entah saya merasa hal ini sama dengan premis, sains dan teknologi membuat manusia menjadi teralienasi
    hmm sama nggak ya?
    saya pernah baca Heidegger tetapi bukan soal teknologi ini :)

  8. SP,

    Iyah, kurang lebih mirip begitu. Sebenarnya saya juga sudah termakan teknologi. Saya semakin teralienasi dari kawan-kawan saya di kantor, karena sering ngeblog. :D

  9. blog itu punya ‘zat’ adiktif ya? semacam amphetamin yang membius para blogger menjadi asosial

  10. nggak jadi komen deh… :P

    [nyampah mode]

  11. taelah nyampah lagi.

  12. niatnya mo “nyampah”, takut dimarahin.. :D trpaksa ngasih komen juga, kira-kira gini mnurut anggapan saya: seni sebagai teknologi puitis memang cukup beralasan, tapi ia justru menghilangkan bagian penting dari konsepsi teknologi yang dipahami, yaitu ruang untuk berjejak dan menghitung kemungkinan. Seni terlampau “jauh” untuk digunakan memburu waktu, ia cukup mengilhami tapi tidak mengobati… :(

  13. Seni terlampau “jauh” untuk digunakan memburu waktu, ia cukup mengilhami tapi tidak mengobati… :(

    Setidaknya seni memberi kelapangan makna agar manusia bisa tetap bernafas.

  14. [...] By dayheart13 Hidup Bahagia Tanpa Sains dan Teknologi [...]

  15. [...] By dayheart13 Hidup Bahagia Tanpa Sains dan Teknologi [...]

  16. verry good

  17. bikin robot android dan saibot

  18. robot kepalanya di rancang lagi seperti robot gundam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Get a free blog at WordPress.com | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 125 other followers

%d bloggers like this: