Gaya Hidup Agnostik

January 14, 2008 at 12:42 pm | Posted in tuhan, Uncategorized | 83 Comments
Tags: , ,

 

 

 

 

 

 

 

 

Keyakinan adalah gaya hidup. Dahulu kala, memeluk agama Kristen atau Islam adalah sebuah tindakan sosial yang rasional. Karena menjadi Kristen atau Islam selalu terkait dengan struktur sosial [siapa kaya, siapa berkuasa] pada suatu masyarakat/zaman tertentu. Kita tahu kedua agama tersebut pernah jaya pada suatu masa di bumi ini. Kristen dan Islam “menggoda” karena ada kuasa politik dan ekonomi di balik ajaran kasih dan keselamatan yang mereka tawarkan.

Zaman berubah. Islam dan Kristen sudah begitu usang. Dan tentunya Osama bin Laden dan George W. Bush telah berjasa untuk menjadikannya tampak jauh lebih usang! Menjadi Muslim atau Kristen seperti memilih untuk tinggal di Abad Pertengahan. Gak kerenlah mengaku Muslim atau Kristen. :D

“Gue agnostik, sori. Gue gak tertarik ngomongin soal agama,” kata kawan saya, yang sekarang di Amerika untuk belajar ilmu politik. “I’m done with religion,” tambahnya. Oh, kata itu lagi, Agnosticism! Thomas Henry Huxley (foto sebelah kiri atas) memperkenalkan kata ini lebih dari seabad lalu. Kini, pada zaman ketika popularitas ateisme runtuh bersamaan dengan robohnya komunisme, agnostisisme menjadi pilihan yang paling rasional dan juga seksi!

Agnostisisme adalah gaya hidup masa kini. Orang akan tampak dan terdengar lebih intelektual bila ia mengaku agnostik. Jiwa zaman kita adalah, He’s an agnostic, and therefore he’s cool! Ateisme sekarang identik dengan ilmuwan biologi yang tidak kurang anehnya dari para mullah atau pendeta Katolik. Lihat saja Richard Dawkins. :D Cap pemberontak pada kaum ateis pun tak lagi memukau kaum muda. Mengaku ateis sama ketinggalan zamannya dengan mengaku Marxist. Dari sudut pandang gaya hidup, ateisme itu a-historis, gak relevan.

Pertanyaannya, apakah Agnostisisme? Kata Wikipedia,

Agnosticism (from the Greek a, meaning “without”, and gnosticism or gnosis, meaning “knowledge”) is the philosophical view that the truth value of certain claims—particularly metaphysical claims regarding theology, afterlife or the existence of God, gods, deities, or even ultimate reality—is unknown or, depending on the form of agnosticism, inherently unknowable due to the nature of subjective experience.”

Wikipedia juga bikin klasifikasi macam-macam penganut agnostik. Tapi, lupakanlah Wikipedia! Yang saya pahami dari teman-teman agnostik saya adalah: mereka menganggap pertanyaan apakah Tuhan ada atau tidak itu tidak penting, akal budi tidak akan bisa mengiyakan atau menidaki Tuhan, dan seandainya Tuhan itu “ada” maka akal budi tidak akan bisa mencerap hakikatnya, apakah dia Absolut Satu, Tiga dalam Satu, Maha Pendendam, Maha Berkehendak, dll. Kaum agnostik bilang: sudahlah, tidak usah pusing-pusing memikirkan Tuhan.

Saya termasuk orang yang kurang simpatik pada kaum agnostik. Ini mungkin hanya perasaan. Buat saya, menjadi agnostik sejatinya adalah hasil [bukan sekedar pilihan!] dari suatu perjalanan intelektual, kalau bukan spiritual, yang tidak singkat. Agnostisisme sejatinya didahului oleh kehampaan spiritual atau kebuntuan intelektual atas berbagai wacana agama-agama besar tentang Tuhan.

Saya tidak menafikan adanya respected agnostics seperti Huxley atau Bertrand Russel dll., tetapi keduanya tidak tiba-tiba saja menjadi agnostik: ada proses yang mendahuluinya. Agnostisisme bukan dogma seperti Marxisme. Saya curiga, agnostisisme telah menjadi gaya hidup dan sebentuk pragmatisme, kalau bukan sikap MALAS, dalam berkeyakinan. Bagaimanapun, Tuhan mengungkapkan dirinya dalam Kitab Suci dan Alam Semesta.

About these ads

83 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. hmm.. mengenai hasil kemalasan… bagaimana kamu menilai Karen Armstrong yang menjadi agnostik setelah mempelajari semua agama. ITU tidak bisa dibilang hasil kemalasan, bukan?

  2. @arie
    karen armstrong emang agnostik? kayaknya enggak deh. dia seorang “monoteis freelance.” agnostik biasanya dianut sama pemikir2 anglo saxon. filsuf2 Eropa kontinental biasanya nyela pemikir-pemikir pragmatik sebagai orang-orang yang malas berpikir. :D

  3. Apapun yang hanya menjadi sekedar gaya hidup ya nggak bagus. Harusnya sih tembus ke esensinya, bukan sekedar gaya gayaan.

  4. Tetangga ku dan guru bahasa ku di sini mengaku agnostik. Mereka juga mungkin belom pernah beragama apapun sebelomnya…langsung agnostik aja. Agama di sini sesuatu yg tidak masuk akal, semacam fairy tale. Kita yang beragama dianggap pengecut…ketakutan oleh sesuatu…seperti kematian. Mereka engga mengerti…betapa bahagia nya manusia yang ber Tuhan :)

  5. Tambahan :

    Karen Armstrong belom bisa dibilang agnostik…dia hanya belom bisa memilih satu agama diantara tiga yang dianggap sama – sama superior…islam, kristen, yahudi…begitu bro :)
    Semoga dia diberi hidayah pilih islam…iya ngga bro…:)

  6. @danalingga
    yup, saya kira begitu.

    @rayon
    karen berpandangan bahwa hakikat Tuhan berada di luar batas akal budi manusia. itu mungkin yang menyebabkan ada orang menyebut dia agnostik. tapi entahlah, kata “agnostik” inikan sebuah istilah yang bisa didefinisikan secara arbitrer juga.

  7. kalo cuma sekedar gaya hidup, entah dia memilih jadi atheis agnostik atau agamawan, saya nggak respect…

    tapi kalo pilihan itu berdasarkan olah pikir dan perenungan yang mendalam dan setelah melalui proses yg lama, saya respect pada apapun pilihannya (entah itu agamawan, atheis atau agnostik).

  8. @tito
    saya selalu tergoda untuk mempertanyakan mereka yang mengaku agnostik, apakah mereka sudah merasa cukup mengerti bagaimana agama “menggambarkan” Tuhan sehingga mereka memilih agnostik. saya yakin ini hanya kecurigaan saya saja, tapi sepertinya banyak orang mengaku agnostik karena memang sikap itu terkesan lebih “cool.”

  9. makanya di wikipedia dikategorikan berbagai macam agnostisme…
    kelihatannya model agnostisime yg anda curigai sebagai “agnostik-demi-gaya-hidup” adalah apathetic atau mungkin pragmatic agnosticism. CMIIW

    saya sebenarnya bingung apa yg cool dengan menyatakan bahwa “dirinya tidak mengetahui”? bukankah lebih cool (sekaligus intelektual) kalau mengatakan “aku tahu banyak hal”? :)

  10. definisi bisa menjebak, karna sesungguhnya pilihan seseorang ga bisa terdefinisikan, jika seseorang ditanya kenapa kamu islam/krist/jews/hindu/budha atau agnostic sekalipn jawabannya akan sangat beragam.. dari mulai ya ‘karna ortu islam ya jadi islam juga’ sampe yg memang terinspirasi oleh sesuatu..

    tingkat pendidikan juga cukup menentukan, para pemikir mgkin akan lebih banyak mengesampingkan agama karna dianggap tak logic, saya pun masih sering menemukan kejanggalan dalam agama.. kadang saya meragukan kenabiannya para nabi, tapi saya berpegang pada keyakinan hati saya bahwa Tuhan memberikan otak untuk berfikir.. jadi saya selalu berani untuk berfikir, bukan menjadi manusia pengecut yg menyerahkan semua pada “ahli tafsirNya”.. :)

  11. @brainstorm
    saya kerucutkan pertanyaanya, menurut anda apa alasan orang menjadi agnostik? saya menduga sebagian besar disebabkan oleh sikap malas untuk mempelajari agama. :D

  12. saya kerucutkan pertanyaanya, menurut anda apa alasan orang menjadi agnostik? saya menduga sebagian besar disebabkan oleh sikap malas untuk mempelajari agama.

    kurang setuju

    justru orang yg malas belajar cenderung menyerahkan segala urusan kepada ahlinya (alias ulama)… agnostik justru skeptik thd pendapat “ahli2″ tersebut sekaligus kritis thd-nya.

    dan saya coba modifikasi pertanyaan anda: apa sebab sebagian besar orang menganut agama tertentu??? alasan mereka bisa ber-macam2, tapi saya menduga penyebab sejatinya: karena warisan dari orangtuanya.. ;)

    tetapi untuk jadi agnostik gak segampang itu loh (berapa sih jumlah orang yg agnostik krn ikut ortu-nya?), belom lagi dia harus memiliki sikap merendah karena berani mengakui bahwa dirinya tidak mengetahui… :)

  13. @tito
    saya setuju, orang lebih sering bergama karena memang warisan orang tua. tentu sangat sedikit sekali orang yang menjadi agnostik karena alasan semacam itu. orang biasanya menjadi agnostik ketika mereka dewasa. saya kurang sependapat bahwa mereka yang bukan agnostik cenderung “menyerahkan pada ahlinya”. sebenarnya teks2 keagamaan, Alkitab, al-Qur’an, traktat filsafat/teologi, kebijaksanaan Cina dan India, memberikan apa yang disebut “gnostik” tentang Tuhan. setiap pribadi, tentu, bisa mempelajari itu, bila dia mau. :D saya tidak menafikan adanya respected agnostics seperti Huxley atau Russel dll., tapi sikap malas itu begitu kentara saja. ini memang pengalaman pribadi saya aja, dan jumlah penganut agnostik yang saya kenal juga tidak banyak. :D

  14. Cukup mencerahkan. :D

    Beberapa tambahan dari saya:

    Maksudnya fenomena ‘agnostik karbitan’, bukan? Memang disayangkan kalau suatu posisi teologis dipilih hanya berdasarkan penilaian estetik seperti itu. Hal ini akan membangun stigma jelek pada posisi teologis yang berkaitan. Dalam kasus ini, misalnya, seorang agnostik sejati akan dirugikan. Sebab, ia akan menerima cap ‘pelarian dari agama’ secara tidak adil. :)

    Dan yang semakin menyedihkan lagi, ini tidak terbatas pada agnostisisme saja. Karbitanisme semacam ini mendasarkan penilaiannya pada alasan estetik (seperti suatu isme yang dinilai ‘seksi’ tadi), rasa ingin beda, atau pada appeal to novelty. Hasilnya? Tentunya selain atheis-atheis karbitan, ada pula satanis karbitan, bahkan sampai pada pemahaman tradisional seperti Islam dan Kekristenan.

    Beberapa sanggahan dari saya:

    1. Kecurigaan seperti ini menurut saya beralasan, namun seringkali terlalu terburu-buru. Seperti yang saya katakan, hal seperti ini akan mendiskreditkan agnostik-agnostik yang merasa tidak memilih agnostisisme sebagai eskapisme.

    Saya sendiri, ignosticistic agnostic, merasa bahwa agnostisisme bukanlah sesuatu yang saya pilih atas dasar keengganan tunduk pada doktrin agama tradisional. Sebab, saya sendiri tidak menyukai posisi saya saat ini. Saya memang menyetujui tenet-tenet yang dipakai agnostisisme, namun saya tidak menyukai itu. :D Prosesnya pun cukup lama, karena saya sempat menganut deisme terlebih dahulu… dengan keengganan mengecap diri sebagai agnostik, justru dengan alasan bahwa agnostik itu tidak ‘seksi’ bagi saya. :lol:

    Dan tentu saja, ego saya sedikit terusik dengan tulisan semacam ini. Walau saya tidak punya hak untuk protes, tentu. Terlalu subyektif. :)

    2. Lalu, definisi agnostik di lapangan yang mas jabarkan rasanya terlalu nyerempet ke apatheisme dan/atau ignostisisme. Memang keduanya bisa dibilang merupakan turunan dari agnostisisme, tapi tetap bukan agnostisisme dalam traditional sense.

    Hal ini ‘diperparah’ dengan definisi agnostisisme sendiri yang bisa melebar jauh kemana-mana. Dawkins, misalnya, mempergunakan kualitas agnostik sebagai parameter belaka. Misalnya, ‘agnostik tapi 60% meyakini adanya Tuhan’, ditempatkan pada posisi atheis de facto. Penulis seperti John Armstrong malah menganggap agnostisisme bukan sebagai paham yang berdiri sendiri, melainkan suatu pre-requisite suatu open-mindedness. Definisi-definisi seperti ini tentunya berbenturan dengan definisi yang mas temukan di lapangan di atas.

    3. Dan yang menurut saya menarik, ada apa sebenarnya dengan eksistensi agnostik-agnostik karbitan? So what? Walau saya sendiri tidak menyukai tren yang sedikit asal-asalan seperti itu, implikasinya apa?

    Mengenai pragmatisme, misalnya. saya kira itu tidak sepenuhnya salah. Satu-satunya masalah di sini adalah kurangnya minat akan pencarian teologis itu sendiri. Secara praktek, sepertinya agnostik seperti itu tetap akan memenuhi target pluralisme global. Mereka tidak akan melakukan ekstremisme agama, mereka akan menghargai freedom of speech, dan mereka akan hidup tanpa dogma. Apa masalahnya? Masalahnya apa?

    Naaah… Justru yang saya khawatirkan ialah penolakan atas eksistensi mereka (agnostik karbitan) itu hanyalah bentuk arogansi orang-orang yang sudah ‘lebih capek berpikir’. ;) So?

  15. @kopral
    hey, salam kenal. saya baru saja meninggalkan pesan untuk anda di blog rosa9n yang juga membahas agnosticisme. kebetulan sekali anda mampir ke sini.

    apakah anda bisa mengelaborasi sedikit bagaimana “posisi” teologis anda?
    ——————————-
    Saya sendiri, ignosticistic agnostic, merasa bahwa agnostisisme bukanlah sesuatu yang saya pilih atas dasar keengganan tunduk pada doktrin agama tradisional. Sebab, saya sendiri tidak menyukai posisi saya saat ini. Saya memang menyetujui tenet-tenet yang dipakai agnostisisme, namun saya tidak menyukai itu.
    ——————————-

    saya belum mengerti, mohon maaf.

    sanggahan saya:
    1. terburu-buru? apa parameternya nih? kapan saya boleh beranggapan bahwa ada banyak agnostik karbitan? saya kira, saya tidak perlu mencari semua angsa hitam yang ada di dunia untuk membuktikan bahwa tidak semua angsa itu putih. soal tersinggung, saya kira relatif. toh orang menulis tentang buruknya Taliban sah-sah saja dan tentu banyak muslim literalis di Indonesia akan merasa “didiskreditkan.”

    2. saya memang tak ingin terjebak pada definisi, apalagi mengaitkannya dengan its traditional sense. saya melihat agnostisisme sebagai fakta bahasa/sosial yang saya temui dalam kehidupan sehari-hari.

    3. menjadi agnostik adalah alasan paling “seksi” untuk berhenti mememetik pengetahuan tentang Tuhan dari manapun, teks2 suci, religious treaties, sains. dll. ini yang saya anggap “tidak baik.” :D sekali lagi saya menghargai agnostik sejati. (wah, istilahnya bombastis sekali, bukan? :D ) yang membuat saya agak “resah” adalah agnostisisme itu lebih sering dijadikan sarana pelarian, yang tidak kalah destruktifnya dengan fundamentalisme. oke, saya tidak tahu pasti, :D tapi saya rasa bisa jadi begitu arahnya bagi mereka yang “agnostik karbitan.”

    islam karbitan: fundamentalis.
    agnostik karbitan: ? (anda mungkin mau menjawab)

  16. @kopral
    soal arogansi itu lebih ke soal persepsi, maksudnya persepsi orang-orang yang selalu merasa “insecure.” :D

  17. Soal definisi…

    saya belum mengerti, mohon maaf.

    Saya tidak suka pada agnostisisme, sebab bagi saya tidak seksi, tidak trendi, terlalu apatis, dan sebagainya. Namun pada akhirnya saya mesti puas berada di sana, sebab ternyata pemahaman saya memang sesuai dengan agnostisisme klasik (a la Huxley). :)

    1. Bagian ini hanya rant saya saja tentang ego pribadi saya. Tidak usah terlalu dipikirkan. :) Saya hanya merasa bahwa sentimen seperti itu akan merugikan agnostik-agnostik sejati. Bagaimana kalau bagian “tidak menafikan adanya respected agnostics seperti Huxley…” itu dipasang di post-nya sebagai disclaimer? :)

    2. Oke, tidak ada masalah di sini… :P

    3. Ha, definisi saya soal agnostik karbitan persis sama dengan ‘agnostik pelarian’ yang mas jabarkan. :D Saya juga tidak menyukai worldview yang diambil dengan terlalu asal seperti itu, tapi rasanya mereka tidak akan mengganggu… Jadi saya biarkan saja. :D

    Makasih sudah menjawab dengan cepat dan jelas. :)

  18. Kalau gw pribadi, ada hal – hal tertentu yang gw engga berani untuk terlalu di kritisi…takut engga bisa ngarahin otak gue. Tapi gw lebih suka biarkan ruh gw untuk melakukan peranannya, untuk coba merasakan dan mengenali Dzat yg mengendalikan semua di alam semesta ini. Itulah…ketika ruh yg mengalami sesuatu pengalaman…sulit mencari kata-kata utk melukiskan…terlalu dalam dan terlalu abstrak terlalu subyektif terlalu intim…engga pas lagi untuk dibahas bersama orang2 yang asing…bahkan kadang mustahil juga membahasnya bersama org terdekat kita…
    Pelajari dalam diam, nikmati setiap sensasi yg kita rasa karena mencoba mendekat dan mengenaliNYA…

    Maaf kalo gw jawabannya out of subject… :D

  19. @kopral
    oke usulnya diterima demi nama nama baik “agnostik sejati.” :D ternyata agnostik pun punya sentimen identitas yang tidak kalah sensitifnya dengan kelompok fundamentalis. hehehe…:D

    terima kasih sudah menawab dengan jelas juga.

    @rayon
    gue setuju sama elo. gue pikir Tuhan memang harus dialami, dengan hati atau intelek. gue cuma berpikir bahwa bagaimanapun juga Tuhan berbicara lewat Kitab Suci. agamawan2 bisa bohong, tapi gue yakin Musa, Yesus dan Muhammad itu bukan pembohong. bahkan, sekalipun mereka pembohong, itu tidak melemahkan kitab suci sebagai “tanda-tanda” dari Tuhan. hehehe..wah iman nih yang berbicara di sini. :D

  20. @ gentole

    berat neh…
    pokoke kalo gue, seandainya banyak orang mengatakan hal buruk tentang Allah SWT, nabi Muhammad SAW, Alquran, gue rela menjadi buruk juga asal gue tetap engga terpisahkan ama 3 hal diatas. udah terlanjur cinta…gimana ya…? (belagu banget kan gue ? he he he :D baru tau lo…)

    have a nice day bro :)

  21. hey,,banyak ilmuwan biologi yang religius koq,,
    yaaa kalo scientist materialis sih emang kayaknya pasti “agnostik”
    but u can’t generalized that biologist likes to be an agnostic

  22. Siapapun dia baik lahir dari islam, Kristen, Yahudi dll,…bisa menjadi agnostik atau atheis. Karena saat kita bayi otak kita masih kosong. dan dalam kekosongan otak saat kita bayi, sudah banyak paham dari yang sesat sampai yang benar2 tauhid yang bertebaran didunia ini. dan itu butuh waktu untuk mereka yang mempunyai kebimbangan pikiran untuk menemukan agama sejati. Banyak mualaf yang menceritakan bahwa mereka memeluk Islam setelah 10 tahun belajar Islam…memang berat untuk menemukan Allah bagi yang belum menemukan, tetapi Allah akan membimbing siapa yang mencari-Nya,…sori malah ceramah

  23. saya ingin berbagi cerita disini…

    terus terang saya sebagai agnostik disini.saya lebih spesifikan lagi sebagai agnostik theisme.saya percaya adanya kekuatan besar di luar kekuatan manusia yang tak lain tak bukan adalah Tuhan.Tapi sebelum menyatakan Tuhan secara Absolut,saya juga masih mencari keberadaannya.Saya masih menunda bilang bahwa Tuhan itu 100% ada atau tidak ada.Tapi saya percaya saya tidak dibuat begitu saja.

    latar belakang saya menjadi agnostik sebenarnya dari perenungan dan refleksi akan perang selama ini yang banyak berlandaskan perbedaan agama.ketika agama dibentuk untuk membuat perdamaian,realitanya sekarang malah agama menjadi sumbu perang.Dari krisis batin saya akan tidak bergunanya agama sekarang ini membuat saya tidak memilih salah satu agama,tapi masih terus mencari keberadaan Tuhan.

    saya mengambil jalan ini bukan sekedar gaya hidup atau kemalasan…murni benar2 hasil perenungan dan refleksi hidup…

    terimakasih…

  24. @agostik jogja
    saya menghargai keputusan anda. tetapi apakah anda sudah mengevaluasi cara anda memandang agama? jangan2 ada yang salah, sehingga keputusan anda mungkin prematur? saya berpikir dunia akan lebih baik bila lebih banyak orang yang optimis dngan agama ketimbang agnostik yang implikasi apatheisme-nya menurut aya memprihatinkan.

    anyway, terima kasih mau bercerita di sini.

  25. [...] pertanyaan memang, namun ada pendapat lain dari adanya agnostik: Saya tidak menafikan adanya respected agnostics seperti Huxley atau Bertrand Russel dll., tetapi [...]

  26. sebenernya agnostik ga bisa dijadikan gaya hidup (kecuali ada yang menyangkal dirinya sendiri dan mengaku agnostik untuk tren). gw sendiri udah menganut paham semacam ini (ga memeluk agama tapi percaya Tuhan) jauh sebelum gw tau ada kata semacam agnostik itu sendiri, yaitu hari ini setelah gw baca novel Laskar Pelangi.

    ini cuma opini aja, tapi kepercayaan akan Tuhan itu urusan pribadi setiap orang dengan penciptanya, sering orang menyebutnya agama. Bahkan orang tua sendiri pun ga punya hak untuk nentuin kepercayaan yang dianut anaknya. soal bener ato salah kita ga akan pernah tahu, Tuhan ada atau ngga gimana buktiinnya? yang bisa kita lakuin cuma PERCAYA, karena siapa lagi yang bisa kasih kita hidup seindah ini kalo bukan yang maha kuasa?

    yang penting kita jadi orang yang bermoral dan berakhlak baik, kalo kita pengen diperlakukan baik, perlakukan juga orang lain dengan baik, bukankah akan damai dunia?

  27. @rico
    Kalo anda percaya Tuhan, anda bukan agnostik toh? Kata ini memang dilematis. Bagi saya agnostik berada di kubu yang sama dengan ateisme.

  28. Menarik nih
    Tapi agnostik berbeda dgn ateisme, agnostik kayak orang diam tapi kalau ateis kayak orang yang bilang tidak
    Walaupun agak sulit dimengerti ignosticistic agnostic yang disinggung Geddoe
    Mungkin begini ya, dalam wilayah teologi ada banyak hal yang dibahas, tidak hanya adanya Tuhan atau tidak tapi bisa saja tentang hari akhir, pembalasan, alam lain dan sebagainya
    Orang bisa saja bersifat agnostik untuk keseluruhannya tapi bisa saja ada variasi mereka yang agnostik secara parsial, percaya Tuhan ada tetapi soal yang lain yang masih terkait teologi bisa saja ia bersifat agnostik
    Maaf kalau bahasa saya agak ribet

  29. @second
    Saya tidak ingin terjebak pada kategorisasi. Btw, bagi saya diam artinya “tidak” bila menyangkut pertanyaan apakah Tuhan itu ada. Kalo perempuan yang dilamar, bila dia diam, artinya “iya”. :D

  30. Pesimisme dalam agama seperti yang mas gentole takutkan menghinggapi kalangan agnostik sejati ataupun karbitan saya rasa agak kurang pas. Bukankah Yesus menurunkan risalah ajarannya karena pesimis akan agama Yahudi ? Sementara Muhammad juga pesimis akan ajaran agama yang berkembang di wilayahnya sehingga dia mengajak masyarakatnya untuk beriman pada Tuhan-Nya ? Jadi rasa pesimis akan ajran agama bkanlah monopoli pihak agnostis.

    Saya setuju dengan pendapat saudara dari Jogja yang berangkat dari kenyataan kecamuk perang yang sebagian dimotivasikan oleh ajaran agama. Agnotis mengambil pelajaran bahwa rasa pesimis pada agama lama yang memunculkan agama baru ternyata membawa konflik baru juga. Pesimisnya agnotis menurut saya bisa membawa ke arah toleransi yang lebih dalam.

    Saya tertarik dengan pendapat saudara gantole tentang gnostis dalam Islam. Yang pernah saya baca ada aliran dalam Islam yang menyebut bahwa Nabi ataupun Rasul tidaklah sepenting para Ilmuwan atau Filosof. Karena Nabi ataupun Rasul memperoleh keimanan serta merta karena ridho Allah SWT, sementara para Ilmuwan atau Filosof menggunakan logika dan akal-budi untuk memperolehnya.

  31. *gelar tikar, nonton*

  32. @oddworld
    Yah, Yesus dan Muhammad pesimis terhadap status quo dan mereka memperbaharui sekaligus memurnikan agama. Memang terjadi konflik, tetapi saya kira kita sudah cukup dewasa untuk membedakan berbagai macam konflik. Gandhi pun sudah banyak mengajarkan kita. Yah, memang bukan monopoli kaum agnostik.

    @joyo
    tolong mas bayar dulu. gak gratis. :D

  33. Harapan saya tentunya sama dengan mas Gentole bahwa masyarakat kita akan cukup dewasa untuk membedakan berbagai macam konflik. Sayangnya pada kasus Ahmadiyah terlihat bahwa kehendak untuk “memperbaharui dan memurnikan agama” memicu munculnya konflik yang diimbuhi kekerasan fisik. Saya ingat komentar dari beberapa pemuka agama yang meminta agar orang-orang Ahmadiyah keluar saja dari Islam. Bukannya hal ini juga memicu munculnya perkembangan paham agnostik/atheis ? Banyak orang yang merasa daripada akhirnya menimbulkan konflik yang diimbuhi kekerasan fisik lainnya, lebih baik mengambil jarak dengan Islam. Tentu bukan saja dalam Islam, hal ini juga muncul di agama/kepercayaan lain.

  34. @oddworld
    yah saya mengerti. kita memang cenderung mengkambinghitamkan sesuatu, baik agama atau gagasan seperti komunisme. itu memang manusiawi. tetapi kalo kita mau jujur, sebenarnya akar kekerasan ada di mana saja. bahkan gagasan tentang kebebasan dan demokrasipun mengandaikan adanya negara dan tentara yang bisa melakukan kekerasan kapan saja. apakah dengan demikian kita harus mengambil jarak dari demokrasi? apakah pada akhirnya kita harus apatis terhadap segala sesuatu? entahlah…

  35. Agnostisisme adalah gaya hidup masa kini. Orang akan tampak dan terdengar lebih intelektual bila ia mengaku agnostik. Jiwa zaman kita adalah, He’s an agnostic, and therefore he’s cool!

    gak setuju!
    Tidak menganut paham Agnostisisme bukan berarti ‘idiot’ atau nggak intelek.
    ah, peremis apa pula itu. :mrgreen:

    *merasa cool dengan Islam*

  36. @snowie
    iya mbak, emang itu maksudnya nyentil. oyah, jawaban saya tentang pertanyaan anda di blog sora9n ada di entry saya yang ini: http://gentole.wordpress.com/2008/03/23/tuhan-sebagai-gagasan-linguistik/

  37. Wah, Thank you :) but, why don’t you give me answer there? :mrgreen:

  38. [...] ini tidak dapat dipungkiri bahkan oleh mereka yang besar sekali keraguannya seperti kaum Sophis, para Agnostik dan pengidap Pesimistik. Mengapa? Ok anggap saja klaim bahwa Kebenaran tidak ada itu adalah benar, [...]

  39. agama hanya memenjarakan orang dalam ketakutan.dunia tidak butuh agama, buktinya agama2 hanya menyebabkan berbagai pertikaian, peperangan dan isu yang meresahkan.orang tidak akan menjadi lebih baik atau buruk atau menjadi benar dan sesat dengan memeluk agama.agama hanyalah isu yang usang, dan menjadi agnostik juga bukan merupakan pilihan yang paling benar, namun itu jauh lebih aman karena setiap orang akan belajar untuk memahami dirinya sendiri tanpa ada manipulasi nilai2 agama tertentu,
    dan menjadi agnostik adalah persoalan personal.tidak ada seorangpun yang berhak memaksa saya atau anda untuk mempercayai sesuatu yang tidak bisa kita tegaskan ada kita tolak keberadaanya.

  40. agama hanya memenjarakan orang dalam ketakutan.dunia tidak butuh agama, buktinya agama2 hanya menyebabkan berbagai pertikaian, peperangan dan isu yang meresahkan.

    Kata-kata “hanya” ini perlu dibuktikan lebih lanjut mbak.

    dan menjadi agnostik adalah persoalan personal.tidak ada seorangpun yang berhak memaksa saya atau anda untuk mempercayai sesuatu yang tidak bisa kita tegaskan ada kita tolak keberadaanya.

    Ya setuju

  41. Lha ini agamaku, udah bebas, ga institusional, urusan individu yang intelektual, bernapaskan pembebasan terhadap ide ketuhanan orang lain, ga perang karena ga diintitusionalkan dan ga cari pengikut atas nama Yang Tak Tampak Dan Yang Tak Sopan Disebutkan (Kalo Ada..???). Shippbszzzz…!!!!!

  42. Silahkan, Mas.

  43. Kalau begitu kalian buat agama baru aja
    he…he…he..

  44. emang kamu menganut agama lama?

  45. Saya pernah agnostik lalu pensiun. Berikut kesaksian saya:

    Ayah saya berasal dari keluarga santri, dengan alasan dakwah menikahi ibu saya yang berasal dari keluarga muslim namun masuk katolik ketika remaja. Ayah saya gagal memuslimkan kembali ibu saya, lalu menikah lagi dan menelantarkan kami (satu ibu dan tujuh anak, tiga di antaranya meninggal dalam kemiskinan).

    Saya tidak mendapat pengajaran agama kristen secara memadai sejak kecil. Justru ajaran-ajaran Islam lebih banyak saya terima karena saya bersekeolah negeri dan karena lingkungan lebih banyak muslim. Selain itu saya membaca buku buku islam yg ditinggalkan ayah saya. Seringkali malah saya banyak tentang Islam yg tidak diketahui oleh muslim awam teman-teman saya.

    Saya kemudian cenderung agnostik karena dua hal berikut:
    1. Tidak mudah bagi saya untuk menjadi kristen, berhubung sudah terlalu sering mendengar doktrin dari lingkungan Islam bahwa “Alkitab itu palsu”, “Yesus bukan Tuhan”, “agama kristen adalah agama bikinan manusia” dan seterusnya.
    2. Tidak mudah bagi saya menjadi muslim, karena pengalaman dan perjalanan hidup saya dan keluarga menampilkan wajah keislaman yang buruk. Saya masih bisa mengingat peristiwa sejak saya usia tiga tahun sudah mengalami pengucilan, ejekan, intimidasi, diskriminasi dari lingkungan tetangga, dan sekolah. (Saya kira para pemuka agama punya pekerjaan rumah dalah hal “agama sebagai praktek sosial”. bagaimana seorang beragama bisa bersikap sebagai wakil dari keyakinan agamanya di hadapan orang di luar agamanya.)

    Pada saat SD kelas 2 saya berada di atas candi Borobudur, memandang ke sekeliling dan terpikir bahwa suatu hari mungkin saya akan menjadi seorang budhis. Saya membaca komik tentang Sidharta Gautama pada saat liburan TK masuk SD, dan pada usia itu saya sudah terkesan dengan keputusan Gautama untuk “meninggalkan kemewahan tahta putra mahkota” demin mencari kebenaran.

    Lalu bagaimana saya bisa berhenti menjadi agnostik?
    Setelah hidup 33 tahun saya hanya memiliki gambaran samar-samar tentang agama. Kira-kira akhir tahun 2007, Tuhan memberi saya jawaban.

    Jauh sebelumnya saya sudah berkali-kali berdoa kepada Tuhan dan menanyakan manakah yang harus saya percayai, bertanya ke mana saya harus beriman, dan meminta agar Tuhan memberi saya iman itu.

    Mas Gentolem Anda pernah menulis bahwa ada satu aspek dalam ketuhanan kristen yang Anda kurang pahami, yaitu Roh Kudus. Meskipun istilah yang mirip juga disebutkan dalam Al-Quran, namun apa dan seperti apa tidak banyak penjelasannya.

    Ada suatu peringatan keras dari Yesus bahwa mereka yang menghina Roh Kudus tidak akan diampuni, di dunia saat ini dan di dunia yang akan datang. Dari pengalaman hidup saya pun, saya belum pernah mendengar seorang muslim mengolok-olok Roh Kudus, pribadi ketiga dari Trinitas. Mungkin ada kaitannya, mungkin cuma kebetulan. Mengapa wacana bahwa “Yesus bukan Tuhan” begitu gencar disuarakan ke telinga orang-orang kristen, sementara Roh Kudus tidak pernah diganggu. Padahal Roh Kudus berperan sangat penting bagi orang kristen sejak Yesus tidak ada lagi di bumi hingga detik ini.

    Saya sering merasa bahwa siapa dan bagaimana Roh Kudus seolah-olah tidak untuk dibicarakan kepada orang non-kristen.

    Roh Kudus diutus Yesus sebagai Penolong bagi murid-muridnya yang ia tinggalkan dan ia tetap penjadi penolong bagi orang kristen hingga sekarang. Roh kudus hadir dan tinggal di hati orang percaya. Roh Kudus

    Seingat saya seorang muslim harus mempelajari Al-Quran dalam bimbingan guru atau seseorang yang lebih mengerti, agar tidak disesatkan oleh Iblis bila mempelajari Al-Quran seorang diri. Sedikit berbeda, orang kristen justru harus membina hubungan pribadi dengan Tuhan lewat membaca dan merenungkan Alkitab secara pribadi.
    Seorang kristen harus berdoa sebelum membaca Alkitab agar Tuhan mengirimkan

    Roh Kudus-lah akan mengajar seorang kristen ketika dia membaca Alkitab seorang diri. Penjelasannya begini:

    1.Seseorang dapat membaca Alkitab untuk tujuan mencari apa yang teks-teks tersebut katakan kepadanya.
    2. Namun dengan bimbingan Roh Kudus, seseorang membaca Alkitab untuk mendengar apa yang ingin Tuhan katakan kepadanya lewat teks-teks tersebut.

    (Sekedar ilustrasi, mungkin cocok mungkin tidak: yang PERTAMA mirip Kritik Sastra Barthesian yang motonya “Pengarang sudah mati”. Jadi suatu teks dibaca menurut “apa teks itu mau bilang”; dan bukan apa yang si pengarang mau bilang. Sementara yang KEDUA mirip Bedah Buku dengan menghadirkan si Pengarang sebagai pembicaranya. Di podium ada si pengarang yang bisa ditanyai langsung kalau ada bagian yang kita tidak mengerti isi bukunya. Di podium juga mungkin ada si Pendakwa yaitu pembicara lain yang mungkin mengritik, yang tidak setuju atau pun yang mendukung si pengarang.)

    Roh Kudus ini juga yang membimbing mengajari dan menolong bagaimana caranya seorang kristen dapat secara total menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.
    Dalam Alkitab, Tuhan bukanlah Tuhan seperti dalam pikiran para filosof. Tuhan dalam alkitab adalah Tuhan yang mengintervensi hidup manusia. Bukan tuhan yang main dadu dengan kebetulan-kebetulan, bukan tuhan yang seperti pencipta game komputer, bukan tuhan yang seperti pengarang novel. Percaya kepada Tuhan berarti mempercayakan hidup kita hanya kepada tuhan.

    Berikut adalah beberapa saja dari prinsip tentang Tuhan menurut Alkitab:

    1. Hidup manusia adalah mutlak untuk kemuliaan Tuhan.
    Tuhan dalam Alkitab adalah “Allah Yang Pencemburu”, artinya silakan saja anda menomor duakan Dia maka Dia akan murka. Seorang kristen hanya boleh mengandalkan Tuhan saja. Celakalah orang yang mengandalkan manusia. Ketika seorang melayani Tuhan, ia harus berhati=hati jangan sampai mempertuhankan pelayanannya itu sendiri. Ia harus bekerja keras dalam pelayanannya untuk Tuhan, tetapi jangan sampai pelayanannya menjadi nomor satu dan Tuhan menjadi nomor dua. Berhala dalam alkitab bukan cuma dewa-dewa bangsa-bangsa. Berhala adalah apapun selain Tuhan. Agama bisa menjadi berhala, ketika manusia justru mempermuliakan agama dan bukan Tuhan. Uang bisa menjadi berhala. Diri manusia sendiri, keegoisan manusia, hawa nafsu kedagingan kita bisa menjadi berhala.

    2. Kasih Kepada Tuhan.
    Jemaat Efesus mendapat teguran keras oleh Tuhan. Jemaat ini adalah jemaat yang luar biasa. Banyak dari mereka telah menerima berbagai karunia dari Roh Kudus. Mereka dapat mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, mereka berbicara dalam bahasa Roh dan memiliki karunia untuk dapat membedakan roh (ini penting karena Iblis dapat menyamar menjadi Malaikat Terang). Namun Tuhan menegur karena Jemaat Efesus telah “melupakan kasihnya yang mula-mula” yaitu kasih kepada Tuhan, bahwa manusia harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan pikiran dan kekuatannya. Jemaat Efesus telah asik dengan kehebatan-kehebatan yang mereka lakukan dalam nama Tuhan, dan melupakan bahwa Tuhanlah fokus dari degala sesuatu yang mereka lakukan. Kedasyatan praktek-praktek keagamaan suatu kelompok orang seperti Jemaat Efesus itu dapat memnjadi berhala yang menggeser fokus mereka dari Tuhan. Sedemikian terobsesinya seseorang untuk melayani dan melayani, untuk menyiarkan agama dan menyiarkan agama, untuk mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, dapat membuat kita lupa bahwa kita cuma alat yang dipakai Tuhan untuk menjadi berkat/rahmat bagi orang lain.

    (Dalam menulis komentar ini saya harus terus-menurus sadar bahwa apa yang saya sedang kerjakan adalah untuk kemuliaan Tuhan. Bukan untuk kemegahan diri saya. Bukan untuk mempromosikan bahwa agama katolik atau kristen itu hebat. Hanya untuk Tuhan saja dan bukan untuk memuliakan roh-roh kebencian dan roh perpecahan yang berasal dari Iblis. Semula saya membaca blog Anda di hp via WAP namun saya tidak bisa menulis komentar karena menggunakan WAP, lalu saya segera ke warnet. Begitu masuk warnet saya sempat dibuat kesal oleh barbagai hal. Petugas warnet yang tidak ramah. Komputer yang eror sebelum dimulai. WC warnet yang bau sekali. Saya pun membuat account wordpress dan sempat eror berkali-kali. Lalu saya berdoa singkat menanyakan apakah Tuhan menghendaki saya menulis komentar atau tidak. Ada suatu istilah yang khas Kristen yaitu perasaan “Damai Sejahtera”, yaitu perasaan yang kami rasakan ketika apa yang kami mengerjakan apa yang diperintahkan Tuhan. Dan selama tiga jam lebih saya berada di warnet ini dengan merasakan damai sejahtera itu. Saya belum pernah menulis komentar sepanjang ini dan selancar ini. Saya bukan menulis komentar atau pendapat, melainkan saya bersaksi. Mungkin karena itu saya bisa menulis dengan tenang. Dan kalau bersedia, Anda boleh percaya bahwa saya biasanya mengalami kesulitan untuk menulis. Saya kurang tahu apakah seorang muslim juga mengalami semacam “damai sejahtera” ini, yang menjadi patokan dalam menilai suatu tindakan sesuai atau tidak dengan keinginan Tuhan. Dengan begitu saya berharap kaum muslim memilikinya, agar mereka pun bisa bertindak atas nama Tuhan. Tindakan itu pun bukan cuma dengan mengira-ngira, karena kebetulan ada ayat yang bilang begini atau bilang begitu, melainkan memang secara langsung Tuhan memerintahkan.)

    Kembali ke kenapa saya berhenti dari ke-agnostik-an saya.

    Di akhir tahun 2007 saya berada dalam keadaan kekeringan rohani yang memuncak, suatu perasaan hampa, semacam bolong yang terus membesar di dada saya. Saya kembali menjerit agar Tuhan menolong saya. Sejak itu saya mendapat cakrawala baru. Tiba-tiba saya mengerti Alkitab dengan cara berbeda. Tiba-tiba segala sesuatunya dapat saya mengerti. Bahkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup saya terasa berbeda. Tuhan terasa begitu dekat. Saya merasa Tuhan memperhatikan egala sesuatu yang saya kerjakan. Saya tidak lagi merasa sendirian dan terlantar. Pada bulan Januari 2008 saya terancam bangkrut secara finansial. Namun Saya merasa Tuhan mengajari saya agar tidak bergantung pada hal apapun selain Dia. Sejak itu saya merasa Tuhan betul-betul memperhatikan saya, menyediakan segala kebutuhan saya sebelum memintanya. Banyak hal ajaib yang saya alami. Tuhan menyembuhkan cedera tulang yang saya derita sejak 1996. Saya tidak berdoa agar Tuhan menyembuhkan. Saat itu saya sedang di Gereja dan saya mengeluh dalam hati “Aduh Tuhan, rasanya sakit sekali kalau duduk lama-lama.” Saya ucapkan itu karena saya merasa bersalah karena sering terus-menerus bergerak saat duduk dan mengganggu orang di sekitar saya. Sebelumnya saya kesulitan untuk membaca. Sepertinya saya menderita dobel, mata minus sekaligus plus. Jarak jauh buram, jarak dekat pun buram. Saya kesulitan membaca Alkitab karena hurufnya kecil-kecil. Dan sekarang gangguan jarak dekat itu sudah hilang.

    Kebutuhan-kebutuhan saya dipenuhi tanpa saya meminta. Tuhan memperhatikan saya. Saya berhenti menjadi agnostik karena perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Saya menganggap diri saya beruntung. Dulu saya sering mengutip kata=kata Soe Hok Gie: “Nobody knows the troubles I see, Nobody knows my sorrow.” Namun saya sekarang merasa kasihan, karena Soe Hok Gie tidak beruntung. Kepedihannya tidak terobati. Menjadi seorang humanis yang juga agnostik itu pedih dan menderita. Di satu pihak mereka sedih melihat penderitaan sesama manusia, namun di lain pihak mereka melihat para pemeluk agama sibuk dalam kebencian dan perpecahan.

    Mas Gentole, saya berhadap blog Anda ini ada untuk kemuliaan Tuhan. Mudah-mudahan Anda juga mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Mungkin Anda sudah mengalaminya lebih dulu, saya tidak tahu. Pengetahuan kita tentang akhir hidup seseorang sangat terbatas. Siapa tahu dia yang sekarang penghujat, akan mati sebagai orang yang berkenan bagi Tuhan. Bisa juga dia yang sekarang giat dalam pekerjaan Tuhan, di akhir hidupnya justru jatuh dalam kemegahan diri sendiri dan memberontak terhadap Penciptanya.

    Mari kita sama-sama memohon agar Tuhan menolong kita, agar kita dapat mengenalnya. Dengan begitu, ketika kita membaca Firman-Nya, kita benar-benar mendengar apa yang Ia katakan. Bukan suara-suara manusia, bukan suara-suara keegoisan kita, dan bukan suara-suara Iblis. Juga dalam tiap peristiwa yang kita jalani dalam hidup, kita selalu dalam bimbingan dan lindungan Tuhan.

    Maaf panjang sekali. Maaf juga, tidak bermaksud menggurui. Saya tidak tahu banyak. Saya juga cuma orang yang banyak berdosa. Saya cuma bersaksi apa yang saya alami. Semoga bermanfaat.

  46. @Rudi

    Bung Rudi, komentar Anda adalah komentar paling panjang sekaligus paling simpatik yang sama terima. Saya sangat menghargai komentar Anda dan keputusan Anda mengakhiri agnostisisme Anda dan mengimani Tuhan melalui kredo Katolik atau Kristiani.

    Saya harus mengakui bahwa sebenarnya saya masih berada dalam kebingungan. Saya masih mengalami kehampaan spiritual yang cukup akut dan masih merasa “iri” pada orang-orang seperti Anda. Spiritualitas saya hanyalah rasa ingin yang luar biasa untuk bertemu Tuhan, bahkan kadang sampai ingin mati saja. Tetapi akal sehat saya masih jalan. Ada kecenderungan kuat untuk menjadi agnostik, bahkan ateis, karena buku=buku yang saya baca saat ini adalah buku-buku semacam itu. Namun demikian, harapan saya akan Tuhan tidak pernah hilang, sekalipun saya sudah begitu jauh berpikir bahwa Tuhan mungkin tidak ada.

    Orang terdekat saya saat ini seorang Kristen Protestan. Agak aneh, karena saya lebih banyak berdialog dengan orang Katolik dan berteman dengan orang Islam. Tidak pernah sekalipun saya merendahkan pengalaman berkeTuhanan orang lain, apakah dia seorang Kristen, Islam, Buddha atau Hindu. Karena pengalaman itu berada di luar kategori apapun. Meskipun saya tidak mengerti ajaran-ajaran di luar Islam, saya mencoba untuk tetap bersikap simpatik.

    Pendekatan Anda kepada kitab suci tidak jauh berbeda dengan saya. Anda betul, saya tidak mengerti apa itu Roh Kudus, juga Trinitas. Tetapi itu sama sekali tidak mengecilkan penghargaan saya pada kesalihan sejati umat Kristiani. Meski, dalam hati saya, tauhid model Islam terpatri kuat. Saya biasanya bilang, umat Kristiani mengesakan Tuhan dengan cara yang tidak saya mengerti. Biarlah Tuhan yang menentukan segalanya.

    Saya tidak tahu apakah suatu saat saya kan menggeser posisi teologis saya dan sayapun tidak tahu apakah blog ini untuk Tuhan, atau setan. Saya tidak tahu. Saya menulis karena saya merasa saya harus menulis.

    Terima kasih untuk menuliskan pengalaman Anda di blog saya. Tentu sulit bagi para agnostik untuk memahaminya, tetapi saya kira cukup reprentatif untuk mewakili pandangan seorang teis terhadap agnostisisme.

    Salam

  47. [...] sadar, agnostisisme itu menggoda selain niscaya, dan karenanya saya tidak merasa nyaman bergumul dengannya. Saya memilih kejatuhan [...]

  48. mnrt sy agnostik jg bmazhab2, sprt islam(sunni,syiah), nasrani(kristen,protestan) dll, jd ada agnostik condong ke teisme ad pula yg condong ke ateisme(tdk 100% pcy atw tdk pcy). sy agnostik ex islam, pmahaman tauhid/keesaan tuhan sy msh mlekat kuat, jd mcr tuhan msh ala islam krn ‘mnrt sy’ konsep tuhan islam lbh rasional, tentu sj tbebas dr pnyataan (maaf) syahadat k2 muhammadurasulullah. Tp sy pun tdk bs mhina muhammad atw paulus dll krn mrk mempunyai doktrin ketuhanan yg sy perlukan hnya sj mgkin bbeda versi. Oh ya… sy pun blm/tdk senang dn tenang dgn posisi sy saat ini.

  49. @rahmat
    Iya memang bermazhab-mazhab. Oh, jadi Anda masih condong ke teisme. Agak aneh kalo Anda masih bawa-bawa tauhid, karena sebenarnya tidak mungkin bagi seorang agnostik bisa memikirkan hal semacam itu. :mrgreen:

  50. sy yakin thn itu ada, krn menurut saya, tak terhitung mekanisme sistem yang menurut saya, hanya akan terjaga dengan campur tangan Tuhan. Hkm termodinamika menyatakan energi tidak dapat diciptakan ataupun dihancurkan. Tapi, bagaimana penjelasan tentang awal ter”ciptanya” energi tersebut. Lihat saja semut, hewan tak berotak yg hanya tahu hitam dan putih ini bisa memiliki tatanan sosial yang begitu menawan. Jelas, adnya implikasi penciptaan di sini. Sang Maha Pencipta mengatur susunan galaksi, atau ada teori lain? Kebetulan? Bayangkan sebuah komputer yg terakit krn adanya suatu badai, mustahil! ini penciptaan.coba pikir. Semesta siapa gerangan yg mencipta? Kebetulankah?
    saya berpendapat, bhw seorang agnostik adalah seorang manusia yg kehilangan jati dirinya sebagai mahluk. Diantara kebimbangan antara ada atau tidak. Memang sering kita mendapati suatu keadaan dimana ada kebimbangan dalam beragama. Nmn, orng yg berhenti hnya sampai pada kebimbangan dan mengambil kesimpulan intuitif tanpa adnya observasi terhadap emosinya itu adalah kesalahan besar. Saya yakin, pencarian akan berujung pada kepuasan batin.

  51. ateisme ataupun agnotisme adalah kegagalan manusia untuk bisa menerima realitas dirinya, disebabkan bibit kesombongan yang muncul pada jiwanya,

    realitas yang pasti ditemuinya di balik kematian yang sedang menunggu di ujung perjalanan hidupnya,

    betapa mereka berjalan dalam keraguan dan kebimbangan, sebagaimana manusia berjalan dalam kegelapan … mereka-reka tapak-tapak jalan yang bakal ditemuinya dalam batas imajinasinya sendiri …
    kekhawatiran yang akut terhadap akhir perjalanan yang harus dia terima …

    betapa petunjuk yang disampaikan Allah melalui Rasul-Nya merupakan pelita dalam kegelapan semacam itu, …
    oleh karenanya tidaklah dikatakan seseorang itu berakal kecuali orang yang mau beriman dan memurnikan keimanan berlandaskan petunjuk Allah (al-Quran) dan Rasul-Nya shalallahu alaihi wasallam (as-sunnah)..

    Allahu a’lam

  52. @xpired|mualaf

    Saya menghargai pandangan Anda. Mungkin ada ateis dan agnostik yang keberatan atas pandangan saudara/saudari berdua. Saya tidak akan menyanggah. Bagi saya komentar seperti ini cukup memberi warna atas berbagai pandangan yang ada.

  53. salam kenal, saya praktisi ‘agnostic freelance’ dalam rangka pencarian terhadap Tuhan melalui perspektif kontradiktif.

    saya menemukan kedamaian hati jika tidak memeluk suatu agama apapun. tetapi saya menghormati mereka yang mendapatkan hidayah melalui agama-nya masing2.

    saya meyakini agama adalah mekanisme manajemen keyakinan yang dibuat untuk menguji manusia berpedoman menuju kehidupan yang lebih baik secara duniawi maupun surgawi (jika benar ada)

    sayangnya kitab2 suci yang tersedia sering disalah tafsirkan atau salah penerjemahan makna oleh pemuka2 agama dalam penyampaian ke umatnya sehingga menimbulkan banyak kesalahpahaman dan pertentangan antar umat beragama juga konflik internal agama tersebut sendiri.

    yang paling menyedihkan bagi saya adalah melihat kebutaan akan fungsi agama oleh fanatisme dan egoisme sepihak bagi mereka yang merasa sudah sangat benar dengan agamanya.

    karena itu urusan agama/tidak beragama ini mutlak hablumminallah. kita manusia tidak punya hak untuk menjadi tuhan dengan menghakimi keyakinan manusia lain.

    sekian pendapat saya.

    salam kenal buat semuanya, terimakasih atas penulis & komentator2nya.. saya belajar banyak malam ini.

  54. @mas/mbak bintil
    .
    Sama-sama.

    Eh, ini maksudnya apa yah?

    salam kenal, saya praktisi ‘agnostic freelance’ dalam rangka pencarian terhadap Tuhan melalui perspektif kontradiktif.

    Maksudnya teologi negatif?

  55. saya gak ngerti neh. jelasin dengan lebih simpel maklum otak saya kekecilan sih
    sebenernya agnostik tu gimana?coz ada tmn yg blg saya agnostik, cb googling eh mak ke blognya mas gentole.

    uda baca tulisan n komennya tetep ga ngerti
    tlg jelaskan pada saya :cry:

  56. @ Rukia

    Agnostik itu paham yang mengajarkan bahwa keberadaan Tuhan itu tidak diketahui, atau tidak akan bisa diketahui. Seterusnya bisa mengabaikan wacana ini, atau meraba-raba (“kemungkinan besar ada” atau “kemungkinan besar tidak ada”.)

  57. @rukia
    .
    Nah, itu dijawab Mas Geddoe.

  58. [...] dapat jawaban dari SINI. Tapi kalau saya pikir agnostik itu ragu-ragu tentang adanya Tuhan. Tapi saya percaya Tuhan itu [...]

  59. brarti itu ragu-ragu tentang adanya Tuhan ya?
    Cerita lengkapnya [Disini]. Bagaimana jadinya? apa tetep agnostik namanya?

  60. Saya termasuk orang yang kurang simpatik pada kaum agnostik. Ini mungkin hanya perasaan. Buat saya, menjadi agnostik sejatinya adalah hasil [bukan sekedar pilihan!] dari suatu perjalanan intelektual, kalau bukan spiritual, yang tidak singkat. Agnostisisme sejatinya didahului oleh kehampaan spiritual atau kebuntuan intelektual atas berbagai wacana agama-agama besar tentang Tuhan.

    Iya, kalau alasannya belum berfikir, belum berusaha, bahkan belum melakukan pencarian spiritual.

    Termasuk belum mencoba semua agama dan mencoba mengenal semua istilah dan deskripsi tuhan seperti yang dilakukan oleh seseorang

  61. @Mr.Fortynine
    .
    Setubuh kalo begitu. :D

  62. [quote]“Saya tidak ingin terjebak pada kategorisasi. Btw, bagi saya diam artinya “tidak” bila menyangkut pertanyaan apakah Tuhan itu ada. Kalo perempuan yang dilamar, bila dia diam, artinya “iya”.”[/quote]

    Koq saya jadi mendapatkan kesan kalau Agnostik adalah atheis yang pemalu? :P

    Saya banyak ketemu orang jepang (berpendidikan tinggi) yang sepertinya agnostik karena walaupun mengaku percaya adanya pencipta alam tapi tidak mau memikirnya. Bagi mereka lebih baik waktu dipakai untuk mikirin hal lain yg “bagi mereka” lebih berguna. Dibilang malas juga iya, dibilang rajin juga iya (dalam artian menghabiskan energi buat hal lain)

    NB. Ada joke ttg kepercayaan orang jepang “Orang jepang lahir sebagai Shinto, kawin sebagai kristen, dan mati sebagai Buddha”.

  63. @ yusahrizal
    .
    Sebenarnya agnostik bukan berarti middle ground antara teis dan ateis. Interpretasi yang populer adalah, baik teis dan ateis mesti dipasangi embel-embel gnostik dan agnostik.
    .
    Jadi, ada ateis agnostik (“kelihatannya tidak ada”), ateis gnostik (“mana mungkin ada?”), teis agnostik (“sepertinya ada”), dan teis gnostik (“pokoknya ada!”).
    .
    (Dan agnostik yang imparsial bakal dimasukkan ke kelompok ateis agnostik tentunya.)

  64. kalo beragama tanpa harus terdoktrin itu termasuk apa ya?

    *menjura, memohon pencerahan*

  65. i simply don’t believe in ‘institutionalized’ faith…faith is something very personal, whatever ‘idea of d holy’ you choose to believe in..it needs not prophets, rituals or holy books..what do you call that? which box will you put me in?

    beragama tanpa harus terdoktrin…that’s wise…

  66. maaf saya menjadi agnostik bukan karena “gaya”…..

  67. @agiek
    .
    Itu namanya beragama secara otentik.
    .
    @kucingpati

    .
    It depends on what you believe and the way you believe in it.
    .
    @putri sesilia
    .
    Wah, enggak perlu minta maaf, Mbak.
    .
    *nadanya kok sewot yah*

  68. Mistikus Jawa sudah ‘cool’ sejak dari dulu.
    Tuhan disapa sebagai Hidup, ya hidupmu ya hidupku ya hidup kita, hidup untuk bisa menghidupi memerlukan ‘pakaian’ yaitu agama. Agama adalah pakaian Sang Hidup yang terimplementasi dalam kesusilaan, peraturan dan kebudayaan *Agama yang mem’bumi’ bukan agama dari langit*
    mungkin dalam versi sufi Islam dijelaskan bahwa huruf Alif bisanya berbunyi harus difatah, dikasro
    Nah Alif atau Hidup sekarang bisa ‘berbunyi’ atau ‘menghidupi’
    salam kenal Bro

  69. @tomy
    .
    Salam Kenal juga.

  70. Wikipedia juga bikin klasifikasi macam-macam penganut agnostik. Tapi, lupakanlah Wikipedia! Yang saya pahami dari teman-teman agnostik saya adalah: mereka menganggap pertanyaan apakah Tuhan ada atau tidak itu tidak penting, akal budi tidak akan bisa mengiyakan atau menidaki Tuhan, dan seandainya Tuhan itu “ada” maka akal budi tidak akan bisa mencerap hakikatnya, apakah dia Absolut Satu, Tiga dalam Satu, Maha Pendendam, Maha Berkehendak, dll. Kaum agnostik bilang: sudahlah, tidak usah pusing-pusing memikirkan Tuhan.

    Saya termasuk orang yang kurang simpatik pada kaum agnostik. Ini mungkin hanya perasaan. Buat saya, menjadi agnostik sejatinya adalah hasil [bukan sekedar pilihan!] dari suatu perjalanan intelektual, kalau bukan spiritual, yang tidak singkat. Agnostisisme sejatinya didahului oleh kehampaan spiritual atau kebuntuan intelektual atas berbagai wacana agama-agama besar tentang Tuhan.

    ====================================================================

    Saya rasa Tuhan dalam agama manapun memang tidak dalam posisi untuk dibuktikan. Akal Budi tidak bisa menjangkau hakekat Tuhan itu benar. Masalahnya bukan tidak mau pusing-pusing memikirkan Tuhan. Pointnya adalah : Adanya kesadaran bahwa karena keterbatasan manusia maka Manusia tidak akan bisa menjangkau Tuhan yang Tidak Terbatas.

    Ketika ada anak panah menancap di pohon. Kita bisa berkesimpulan bahwa Sang Pemanah itu pasti ada. tetapi dari anak panah itu kita tidak cukup tahu bagaimana model jambulnya, pipinya ada andeng-andengnya atau nggak? Yang manah pake baju biru atau merah. Artinya selalu ada batasan itu.

    Ada gelas dimeja, kita bisa berkesimpulan pasti ada yang meletakkan gelas, tetapi bagaimana wajah pencipta gelas, model jambulnya, dsb memang tidak bisa diketahui dari adanya gelas itu. Jadi selalu ada batasan di situ. Bahkan agama-agama sendiri juga menyatakan adanya batasan itu. Karena itulah ada saran untuk tidak memikirkan hal2 yang tidak terjangkau

    Lha agnostik justru rendah hati karena menyadari ketidakberdayaan diri manusia sejak awal. :)

    SALAM

  71. wah, suatu diskusi panjang lebar yang sangat menarik. Gw sendiri baru tau dan sedikit paham apa itu agnostic. Semuanya bermula karena ada seseorang yan nge add saya di facebook. Setelah kulihat profilenya, di column religion di situ dia tuliskan agnostic. Selam ini yang saya tau hanyalah atheis->sama sekali tdk percaya tuhan, dan adanya kekuatan lain yg lebih berkuasa yang kasat mata. Karena penasaran dan sebuah kata baru yang saya dengar maka saya googling saja arti dari agnostic, dan terhubunglah saya dengan blog ini.

    terus terang saya menjadi iktu terpancing memikirkan dan untuk mneyelaminya lebih seksama. Jika agnostic itu adalah ->tidak memiliki pengetahuan, alangkah sangat disayangkannya manusia yang diciptakan sebagi makhluk tertinggi yang tidak hanya bernaluri namun juga berakal.

    kenapa kita sbagai manusia selau terjebak dengan hal-hal yang lebih tinggi yang sudah pasti tidak terjangkau oleh akal dan pikiran kita. mengapa tidak kembali bercermin kepad diri masing-masing sudahkan kita membenahi yang di depan mata, dibanding mencari-cari apakah Tuhan itu ada atau tidak? Benda sekecil apapun yg tercipta dalam semesta adalah seizin kehendak-Nya. Alangkah mundurnya peradaban manusia jika sekarang “menjadi tidak tahu adalah hal yang Cool”.

    Saya akui memang terkadang makna dan esensi apa yang dsampaikan oleh Allah melalui kitabnya terkadang menjadi tidak relevan dan melenceng dikarenakan adanya fanatisme, egoisme beragama yag cenderung ke arah lunatic. Yang tanpa ia sadari mengaku beragama, tetapi kehilangan esensi utama dari beragama itu sendiri. Dalam hidup ini, intiny cuma 3, hubungan kit dgn Tuhan, hbungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam yang kita naungi. Untuk itulah saya sarankan jangan hnya melihat label-label ato merek agamanya apa, tapi satu yg pasti Tuhan itu aada.

    Terlepas kita belum bisa menjadi umat yang baik, Tuhan tahu kita ini manusia yg tidak luput dari kesalahan.Namun jganlah menistakan Keberadaan-Nya agar kita bebas dari satu hakikat kehidupan baik dan benar dan bisa sesuka hati menjalani kehidupan. Ingat: agama tanpa pengetahuan PINCANG, penegtahuan tanpa agama BUTA. Tuhan pun tahu, sebaik-baiknya anak Adam pasti mempunyai dosa, bahkan kita ada saat ini pun karena pelanggaran yang dilakukan Adam dan Hawa yg dihukum turun ke Bumi. Manusia mempunyai hawa nafsu, bukan seperti malaikat yang memang tidak dibekali hawa dan nafsu oleh Tuhan YME. Sejauh apa anda melakukan perbuatan yang melanggar koridor iman dan takwa yg anda anut, hanya bisa diukur oleh hati nurani anda yang paling dalam. Namun satu hal yang pasti, Tuhan maha mengetahui, mendengar, melihat, mengasihi, dan menyayangi.

    Setiap kasus atau hal yang terjadi hanya ialah yang maha tahu dan maha adil. So, please don’t Give Up on Faith. It’s not the Faith that are wrong, is the Human who make the fault. just Believe in Faith. Thank’s

  72. @indri zona
    .
    Makasih Mbak/Mas udah bagi pengalaman.

  73. Whaduh bukan menjadi Tidak Tahu adalah Cool. Whaduh ini mah melintir pikiran orang hik hik hik. Tetapi gini saja deh ngomongnya : Menyadari keterbatasan adalah jujur. Dan jujur itu keren. Gicu lho.

  74. Agnostic= Keyakinan dasar dari hati adanya Tuhan. Yang mana bisa disalurkan ke, kristen, Islam, Buddha, atau lainnya. Tapi bagi mereka yang tidak bisa menemukan hakikat Tuhan dalam agama-agama besar (mana Tuhan yang sejati), dan hanya memandang bahwa semua agama mengajarkan kebenaran, dan memandang bahwa agama hanya tradisi, maka akan terperosok dalam keyakinan dasar tersebut. Yang mana dari keyakinan dasar ini sesuatu bisa diagamakan. Seperti “Cinta Kasih”. Gak perlu syariat yang penting “Cinta Kasih”.

  75. gua bingung lah sama pengertian agnostik ini,
    nggak tahu kan? sama kayak nggak kenal kan? atau emang nggak tahu tuhan tuh ada apa nggak sih?

    sorry banget nih sebelumnya,
    gua mau tanya arti agnostik kalian mnurut kalian,
    coz, ada beberapa temen gua yang ngaku agnostik, tapi arti agnostik bwat mereka sendiri laen laen.
    ada yang bilang percaya nggak percaya sama tuhan, ada yang bilang juga percaya tuhan tapi nggak meluk agama manapun, pokonya macem macem.
    tapi kok kalo gua lihat mereka tuh kayak cuma nyari cara buat mangkir dari ‘sembahyang’, karena ternyata baik terang terangan atau sembunyi sembunyi, mereka yang katanya agnostik itu masih suka berdoa, sedangkan berdoa itu = meminta sama tuhan, iya toh? (mereka yang gua bilang ya cuma selingkup temen temen gua aja, coz gua nggak tahu sejatinya yang nganut faham agnostik ini gimana)

  76. Agnostik itu merupakan potret kekecewaan masyarakat modern terhadap agama2 dunia yang tak mampu menyelenggarakan keselamatan seperti apa yang sering mereka kuthbahkan…

    mereka tidak percaya akan kekuatan agama sebagai sarana keselamatan, karena status mereka(agama) sendiri didunia hanya sebagai penebar kebencian dan pemecah belah, dengan kata lain mereka (penganut agnostik) tidak menemukan tuhan dalam agama…

    oleh sebab itu sering orang umum menyebutkan bahwa agnostik itu berarti percaya pada tuhan tapi tak percaya agama…

    untuk percaya pada tuhan pun, mereka tidak “menemukan” tuhan dengan cara turun-temurun diajarkan dari orang tua seperti kita kebanyakan, mereka berusaha menemukan tuhan dengan menggunakan logika ilmiah sehingga tak jarang jika tuhan mereka anggap bukan sosok nabi atau apapun, melainkan “kekuatan yang mengatur kita di dunia ini”…

  77. mnrt gw agnostic adalah sebuah wadah dimana manusia menjadi “liar” seperti hakekatnya ktika diciptakan, bukan seperti dlam kebun binatang yg dikotak kotak dan dipisah menurut pemikiran dan kepercayaan yg namnya agama, agama cuma buatan manusia yg hukum dan cara ibadahnya jg smuanya buatan manusia, Apa sampai skrg kita punya bukti 100% kl hukum dan cara ibadah turunan langsung dr Tuhan?
    gw tlalu pelik dalam wacana agama, dimana dalam agama gw menjelek jelkan agama lain dan dilain sisi agama gw adalah minoritas dan diabaikan oleh mayoritasnya, gw benci stiap org harus bertanya:apa agama lo>? hari gini penting? lo mau Islam, Katolik, yahudi, smua sama,agama cuma sebagai pengontrol masyarakat. Nyatanya agama juga tak dpt mengontrol kan? malah jadi paspor buat memenggal orang banyak demi tiket ke surga atau sebagai bentuk perluasan wilayah missionari. Whatefuck

  78. Bagiku Agnostic itu adalah hasil dari perjalanan spiritual seseorang. Ngga ada yang istilahnya karbitan, kalaupun ada yang ikut-ikutan, itu berarti orang tersebut patut dikasihani.
    Aku baru mengenal istilah Agnostic ini beberapa waktu yang lalu dari suatu media, namun jauh sebelumnya, aku menyadari bahwa agama yang ada di dunia ini hanya wujud ”topeng” manusia saja, hanya wadah inklusif bagi kaum yang menganutnya.
    Banyak penderitaan di dunia ini justru disebabkan oleh ketidakpedulian para penganut agama, seperti kelaparan, perang, perceraian, prostitusi dan masih banyak lainnya.
    Aku percaya Tuhan tidak pernah mengajarkan umatnya berjalan di jalan yang salah, bahkan dibeberapa agama yang saya pernah ketahui, didalamnya diajarkan kebaikan dan cinta kasih. Namun penganut-penganutnya sering menjadikan sepenggal dua penggal kalimat dalam panduan agama mereka sebagai dasar untuk berbuat semaunya yang merugikan orang lain, mereka hanya menelaahnya mentah-mentah saja, hanya mengambil yang menguntungkan bagi niat mereka saja.
    Hal ini diperparah lagi dengan ajaran-ajaran petinggi agama yang seenak hatinya menafsirkan apa yang ada dalam panduan agamanya dan diajarkan kepada umatnya, lalu umatnya mengikuti ajaran petinggi-petinggi agama tersebut dan sebagian juga salah menafsirkannya serta menjalankannya.
    Coba bayangkan aja gimana jadinya, petinggi-petinggi agama saja seenaknya menafsirkan dan mengajarkan petunjuk Tuhan, apalagi kelakukan umatnya.
    Karena aku sendiri pernah mengalami kemunafikan agama dunia, sehingga aku merasakan bagaimana rasanya hidup neraka dunia dan juga dari peristiwa-peristiwa penderitaan di dunia sebagaimana aku sebutkan diatas, aku memilih jalan hidupku yang baru sebagai Theism Agnostic.
    Aku percaya pada Tuhan dan juga penyelenggaraannya dalam hidup, namun aku tidak beribadah sesuai dengan ajaran agama yang pernah aku anut seharusnya. Aku percaya kita sebagai manusia diciptakan oleh Tuhan untuk mengelola dunia ini, so lakukanlah, jangan pernah menjadikan agama sebagai suatu wadah inklusif dan juga “topeng” untuk berbuat kemunafikan dan juga penyebar penderitaan.
    Demikian yang bisa aku sharing, terima kasih atas sharing kalian juga yang telah lebih membuka wawasanku tentang agnostic itu sendiri.

  79. @igansius seto, fabian, wira
    .
    Makasih untuk komentarnya semuanya. Merperkaya wacana post ini.

  80. Akhirnya ketemu juga ni arti kata “agnostic”. Saya penasaran dgn arti kata ini krn musisi yg saya sukai beragama “agnostic” yg tertulis dlm profil facebooknya.
    Knp mereka ga percaya sama Tuhan yg menciptakannya ?
    Mengapa mereka berkata, “tidak usah pusing-pusing memikirkan Tuhan.” ?

  81. Halo saya Otong..
    Sebenernya saya sudah 2 tahun belakangan ini menjadi seorang agnostic (tanpa saya sadari)
    Semula bermula ketika adanya suatu kekecewaan terhadap sebuah kepercayaan dan terhadap sesuatu yang di sebut Tuhan.
    Selain itu saya banyak melihat, mendengar dan membaca berbagai artikel dan kejadian.
    Dan itu menambah kekecewaan saya terhadap suatu kepercayaan dan Tuhan.

    Ditambah dengan berbagai macam kekerasan dan perang yang berlandaskan agama dan kepercayaan.
    Batasan² dan larangan² bagi seorang wanita untuk mempelajari hal² tertentu, serta banyaknya bencana yang melanda bangsa kita.

    Semakin membuat saya enggan untuk bertuhan..
    Dan enggan memiliki “agama” sampai ada yang bisa membuktikan apakah itu Tuhan.

    Jujur, saya mengenal istilah Agnostic baru beberapa bulan terakhir ini. Dan saya sudah membaca berbagai asumsi dan pikiran² teman² yang berbagi argumen di atas.
    Saya masih selalu bertanya kepada diri saya sendiri.
    Apakah saya seorang Agnostic KARBITAN, ataukah seorang Agnostic SEJATI (gila amat istilahnya :p )

    Dan yang saya sayangkan, mengapa seseorang yang memeluk suatu kepercayaan justru suka “mengingkari” kepercayaan nya sendiri.
    Bahkan berkata dan berperilaku yang jauh lebih tidak pantas daripada kata² dan perilaku seorang yang “tidak beragama”.

    Bagaimana menurut Om², Kakak², Abang², serta Mbak²..??

    Terimakasih..
    Senang bisa share disini..

  82. kalau mereka tidak percaya kpda Tuhan,knpa mereka tdk memikir secara cermat,Tuhan menciptakkan baik adannya,klau Tuhan tdk ad.lalu siapa yg bisa menciptakkan Bumi ini.MANUSIA?? nggakkan,Hanya Tuhan yg menciptakkan langit dan bumi ini.sbagai mana adannya..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 109 other followers

%d bloggers like this: